inspirasi menulis dari hal-hal remeh di sekitar kita muhammad soleh kadir pion ratulolly

Inspirasi Menulis dari Hal-Hal Remeh di Sekitar Kita

Kali ini, ranalino.co hadir dengan catatan Muhammad Soleh Kadir tentang inspirasi menulis. Dapatkah kita menulis hanya dengan modal hal-hal kecil di sekitar kita?


Inspirasi Menulis dari Hal-Hal Remeh di Sekitar Kita

Oleh: Muhammad Soleh Kadir |

Pembenaran Alibi

Suatu ketika dalam acara talkshow Proses Kreatif Menulis di Universitas Muhammadiyah Kupang, saya pernah klaim begini: “Salah satu penulis pemula yang produktif di NTT saat ini adalah Bung Saverinus Suhardin.” Pernyataan ini tentu subjektif, tetapi rasanya cukup beralasan. Sebab, dalam kaca mata rabun saya, dosen pada AKPER Maranata Kupang ini, cukup banyak menulis di media sosial hingga media massa dalam beberapa waktu.

Di media sosial, beliau cukup aktif menuangkan gagasan di facebook maupun blog pribadinya. Setiap hari selalu saja ada satu dua tulisan penanya tayang dan mendapatkan sekian banyak like dan komentar. Tema tulisannya pun tidak berat-berat. Yang paling kerap ditulis pria bertubuh subur ini adalah tentang anaknya, Gibran. Mulai dari Gibran bangun tidur sampai kembali tidur, selalu jadi obyek tulisannya. Kejahilan tangannya mampu membawa kita menikmati masa-masa indah sebagai Papa Muda yang lagi rajin-rajinnya mengurus anak. “Anaknya kencing saja bisa jadi sumber inspirasi dalam membuat tulisan,” ucap saya kala di Unmuh itu.

Lain di media sosial, lain pula di media massa. Di koran-koran lokal, tak jarang tulisannya terpampang minimal sekali dalam sebulan. Tidak hanya satu koran, tetapi beberapa koran. Pun genre tulisannya tidak hanya esai, tetapi juga sastra. Ada saja tema yang dibicarakan. Mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga sosial.

Hal yang patut saya acungi jempol yaitu energinya yang begitu besar dalam menulis. Bayangkan, di tengah kesibukannya sebagai dosen dan Papa Muda, beliau masih sempat curi waktu untuk menulis. Tulisannya pun tidak asal bunyi, tetapi juga berkelas. Sudah begitu produktif pula. Serentetan fakta inilah yang memaksa saya untuk mendeklarasikan klaim di atas. Sekaligus sebagai sebuah motivasi bagi sesama penulis.

BACA JUGA
Jatuh Cinta, Patah Hati, dan Move On Bersama The Carpenters

Soal Cerpen “Obat Penghilang Noda”

Cerpen “Obat Penghilang Noda” adalah salah satu karya Saverinus Suhardin. Cerpen ini terkandung dalam buku Kumpulan Cerpen Bersama bertajuk “Bingkai Diaroma Kehidupan”. Adapun buku ini saya peroleh langsung dari penulisnya sebagai hasil barter dengan buku saya kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar, dalam momen yang sama di Unmuh Kupang itu.

Cerpen ini mengisahkan tentang seorang anak yang diajak Bapaknya ke pasar untuk menyaksikan penjualan obat oleh Ganda Obat, sebutan untuk tukang jual obat bagi sebagian masyarakat Manggarai. Sebelum membeli obat, sang anak dan Bapaknya serta puluhan orang menyaksikan atraksi sulap yang dibawakan Ganda Obat. Begitu atraksi sulap usai, Ganda Obat langsung menjual produknya. Ya, sebotol obat penghilang noda.

Baca juga: Waktu Indonesia Timur, Hadiah dari Timur untuk Indonesia Raya

Ganda Obat ini lalu mempraktikkan cara mencuci baju putih untuk menghilangkan noda dengan menggunakan obat mujarabnya. Dalam sekali praktik, noda getah nangka langsung hilang dari baju putih itu. Gemuruh tepuk tangan dari para penonton pun diterima dengan senyum sumringah Ganda Obat. Pada kesempatan inilah, Ganda Obat langsung menjual obat mujarabnya itu.

Nah, bocah tadi lalu disuruh Bapaknya untuk membeli obat tersebut untuk dipakai membersihkan beberapa baju putih yang terkena noda getah jambu mete. Dengan perjuangan yang lumayan berat Sang Bocah pun berhasil mendapatkan obat itu.

Pulang dari sana, sang Bapak tak lagi sabar mempraktikkan obat mujarab belianya. Disaksikan anaknya, sang Bapak mulai mencuci baju bernoda. Hingga pada percobaan ketiga pun tak ada tanda-tanda noda itu luntur. Buncahan kecewa sang ayah tiba-tiba meletus. Sang anak yang tidak ingin terkena jewer harus lari meninggalkan Bapaknya sembari tertawa cekikikan.

BACA JUGA
Jadi Petani, Anak Gunung, Sepatu, dan Burung Besi di Langit Kampung

Cerita Pengalaman Menjadi Inspirasi Cerpen

Sejak awal membaca, saya sudah curiga, jangan-jangan cerpen ini semacam catatan pengalaman. Pasalnya, cara penulis mendeskripsikan tokoh beserta wataknya begitu detail. Cermati tokoh Bapa(k) dan Mama. Saya menduga penulis menghadirkan Bapa dan Mamanya sebagai Bapak dan Mama dalam cerita ini. Tidak hanya itu, unsur lokalitas dalam cerita pun begitu mengena. Perhatikan suasana sosial dalam latar cerita tatkala di pasar. Cara pandang masyarakat pasar di Manggarai khususnya dan NTT umumnya amat jelas digambarkan penulis. Bagaimana respons warga pasar terhadap hal baru, apalagi produk jualannya sampai didemokan seperti itu.

Kecurigaan saya semakin bulat begitu sampai pada kalimat terakhir cerita, “… maafkan saya yang kini membongkar rahasiamu.” Kata ganti -mu di situ menggantikan subyek Bapak.

Dari cerpen ini kita belajar bahwa inspirasi menulis cerpen tidak harus jauh-jauh. Tidak harus dari hal-hal yang besar. Cukup mengamati hal-hal sederhana dan remeh-temeh di sekitar kita dan menjadikannya sebagai objek tulisan. Pasti tidak ada yang sulit sebab kita sendiri yang mengalami dan merasakannya.

Menulis tidak harus dipahami sebagai kegiatan yang sulit, apalagi alasannya sulit mendapatkan inspirasi. Saverinus telah membuktikannya menjadi sangat mudah mencari inspirasi. Pertanyaan selanjutnya, apa kita mau mencoba ikut jejak kaki Saverinus atau tidak? (*)

6 Juni 2018

Muhammad Soleh Kadir. Dikenal juga dengan nama Pion Ratulolly adalah guru pada SMPN 1 Adonara Timur. Bergiat di Asosiasi Guru Penulis Indonesia (Agupena) Cabang Flores Timur. Mengelola Pondok Baca Wathan Lamahala. Menulis buku novel Atma dan kumpulan cerpen Wasiat Kemuhar. Juga menulis pada beberapa buku antologi bersama, baik puisi, cerpen, maupun esai.

Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *