Saya Minoritas yang Minum Kopi dengan Bahagia

Saya adalah minoritas yang minum kopi dengan bahagia di Bari. Saya juga adalah minoritas yang ikut sahur di rumah seorang teman di Malang, dan tetap diizinkan makan siang di tempat yang sama. Lalu apa itu minoritas-mayoritas?

Saya Minoritas yang Minum Kopi dengan Bahagia

Dengar kata minoritas-mayoritas sesungguhnya tidak enak. Membicarakannya terlampau terbuka akan menjebak ingatan pada: kau agama apa, kau suku apa, kau tinggal di mana, kau harus hati-hati kalau minoritas, siapa yang harus atur ini hidup, dan lain sebagainya. Ini jelas menjengkelkan. Bahwa seseorang harus berlaku sesuai dengan apa yang diinginkan mayoritas, meski kadang yang mayoritas itu kerap berlaku tidak seperti yang dia sendiri inginkan. 
Misalnya begini. Saya orang Manggarai, tinggal di Manggarai, dan saya putar musik dengan volume keras tengah malam. Tidak masalah. Tapi kalau kau orang Jawa atau Bali atau Padang yang tinggal di Manggarai, kau tidak boleh putar musik dengan volume keras tengah malam. Itu mengganggu. Tidak ada ruang untuk pertanyaan seperti, “Apakah anda terganggu karena saya putar musik tengah malam atau karena saya Jawa atau Bali atau Padang?” 
Yang seperti itu tidak boleh ditanyakan karena kau akan dianggap sebagai orang yang tidak tahu diri. Sudah gaharu cendana pula, sudah tahu bertanya pula. Kabarnya, beberapa pendapat tidak boleh diungkapkan terutama jika berhubungan dengan komunitas mayoritas dan pemilik pendapat adalah golongan minoritas. Pukultuju ka tida itu situasi?
Tapi kadang yang minoritas juga makan puji. Merasa bahwa hak-hak kaum minoritas biasanya akan dibela ketika dia mulai curhat, dia curhat terus. Curhatnya juga minta ampun sampai akhirnya semua sepakat bahwa dia teraniaya. Dibelalah si minoritas itu. Kadang pembelaannya datang dengan membabi buta. 
Akibatnya? Seperti umumnya sikap orang-orang yang dibela, dia jadi tinggi hati dan merasa boleh melakukan apa saja. Kalau saya nanti dianiaya, toh akan banyak yang bela, pikirnya. Lalu dia menjadi ‘sedikit-sedikit tersinggung, sedikit-sedikit curhat’. Dia sudah berubah sebagai penyelenggara ujian nasional mata pelajaran toleransi. Kita gigit jari dan hanya bisa bilang cukur miring.
Umumnya percakapan tentang minoritas-mayoritas ini dikaitkan dengan relasi antarumat beragama. Tetapi di Bari tidak ada percakapan tentang minoritas-mayoritas itu. Bari adalah Ibukota Kecamatan Macang Pacar Kabupaten Manggarai Barat. Sebagian besar warganya adalah umat Islam dan rumah dinas Guru Don yang Katolik itu ada di tengah-tengah umat Islam itu.

BACA JUGA
Rahasia Pengakuan di Katedral Ruteng Dalam Analisis SWOT

Ya, Guru Don itu seorang Katolik. Dia sa pu bapa, yang sempat mengabdi sebagai guru SD di Bari. Maka saya juga pernah tinggal di sana dan menjadi (sebut saja) minoritas. Kami adalah satu-satunya keluarga Katolik di tempat itu. Minoritas to?

Tetapi seperti saya sudah tulis tadi, tidak ada percakapan tentang minoritas-mayoritas di tempat itu. Setiap bulan Ramadhan datang, saya ikut ‘tim sahur‘. Itu adalah kelompok tak resmi yang terdiri dari anak-anak muda di Bari, bertugas keliling kampung setiap waktu sahur tiba. Tugas kami jelas. Berteriak lantang dan penuh percaya diri, “Sahur, sahur, sahur.” Ada Rusmin, Halim, Ridwan, Amir, dan teman-teman lain. 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Di depan rumah Guru Don, kami tidak teriak. Ya, Guru Don dan Muder Yuliana tidak perlu bangun sahur. Mereka hanya perlu bangun membukakan pintu saat saya selesai ikut berkeliling. Itu juga nanti, saat Azan Subuh berkumandang, saat saya selesai menumpang sahur di rumah salah seorang teman, dan lanjutkan tidur sampai siang. 

Bangun tidur, saya minum kopi di depan rumah. Rusmin dan beberapa teman pasti mampir. Tidak saya tawari kopi, tidak juga mereka melarang saya minum segelas kopi. Biasa saja. Yang puasa, ya puasa. Yang tidak, ya tidak. 
Pertemanan tetap jalan seperti biasa, ngobrol, merancang kegiatan, main ping pong jika mereka sedang fit karena sahur yang bergizi; tidak berubah polanya, tidak menyesuaikan pola relasi hanya karena perayaan tertentu seperti Ramadhan atau Natal. 
Kalau Guru Don melihat saya sedang minum kopi sambil ngobrol dengan teman-teman yang sedang berpuasa, dia akan mengingatkan saya untuk tidak ‘provokatif’ ketika minum kopi. Diminum biasa saja tanpa suara slurrrp. Saya setuju. Teman-teman saya juga setuju.
Kelak menjelang akhir Ramadhan, kami merancang pentas seni di halaman rumah Guru Ngaji. Qasidahan. Saya main gitar. Ikut sumbang ide aransemen untuk lagu yang liriknya: “Ilmu, Seni, dan Agama, untuk umat manusia…” Lalu kami pentas. Rasanya saya tetap pakai Rosario di leher saya ketika itu dan pulang ke rumah tetap lakukan Tanda Salib menjelang tidur.

BACA JUGA
Kisah Pater Roosmalen Bagian 2: Menuju Timur
Besok, setelah mereka Salat Id, saya mampir di rumah-rumah mereka dan makan sampai puas. Sebagian besar keluarga di Bari akan mengirim makanan lebaran untuk Guru Don dan Muder kalau keduanya tidak sempat berkeliling ke semua rumah. 
Rumah kami adalah satu-satunya rumah keluarga Katolik di perkampungan itu. Menjelang Natal, bersama teman-teman muslim, kami merancang kegiatan menarik. Apa saja asal Natal jadi lebih meriah. Bisa pertandingan persahabatan, bisa juga pentas seni. Pada Misa Malam Natal, yang muslim jadi petugas keamanan saat kami semua mengikuti misa mengenang peristiwa Yesus lahir di Betlehem. 
Apakah kami melakukannya dengan alasan toleransi dalam bingkai minoritas-mayoritas? Rasanya tidak. Kami melakukannya karena kami sama-sama orang Bari. Itu saja. Maksud saya, di atas pembagian minoritas-mayoritas, kita sesungguhnya punya identitas yang sama. Lha, kalau begitu untuk apa repot-repot mempercakapkan minoritas-mayoritas itu. 
Di Malang saya pernah numpang libur puasa di rumah seorang teman muslim. Dia tinggal berdua saja dengan ibunya. Setiap sahur saya dibangunkan dan diajak ikut sahur. Lalu sepanjang hari mereka berpuasa dan saya tetap disiapkan makan siang oleh Ibu teman saya dengan senang hati.

Kalau ada yang tanya mengapa Ibu itu melakukannya, barangkali dia akan jawab, “Dia anak saya juga.” Atau mungkin saja jawabannya adalah: karena kita harus mencintai sesama manusia. Kebetulan manusia yang ada di rumah mereka saat itu adalah orang Flores yang sedang ingin berhemat uang makan. Kata kunci di atas kondisi kami yang beda agama di rumah di Jalan Belimbing itu adalah manusia.

Tetapi ya itu tadi. Dalam kesadaran sebagai manusia juga kita kadang terjebak dalam perdebatan panjang tentang minoritas-mayoritas serta aturan-aturan tentang bagaimana sebaiknya bersikap dalam posisi sebagai minoritas atau mayoritas. Itu aturan-aturan dorang tidak tertulis tetapi jumlahnya banyak sekali dan keseleo lidah sedikit bisa kaco-balo. Bisa ada perang agama, atau minimal kekerasan agama–entah apa pun itu artinya. 
Kita tidak cukup menjadi Indonesia saja ka? Tidakkah semua orang itu adalah minoritas di satu tempat dan menjadi mayoritas di tempat lain? Adooooh, ini artikel jadi serius begini im. Maapken daripada cataten yang panjang ini. Saya hanya daripada mau kataken bahwa di Bari saya minoritas yang minum kopi dengan bahagia. Itu sudah!
Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores
BACA JUGA
Restoran Masa Depan
Bagikan ke:

2 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *