Pater Piet Pedo Neo, Imam dan Seniman (Bagian 2)

Ini adalah bagian kedua sekaligus bagian terakhir dari catatan tentang kisah hidup Pater Piet Pedo Neo, SVD, seorang tokoh penting dalam Musik Liturgi Gereja Katolik Manggarai. Artikel ini ditulis oleh rekan kerja dan sahabat Pater Piet di STKIP St. Paulus Ruteng, Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum. 

pater piet pedo neo imam dan seniman bagian 2
Pater Piet Pedo Neo memimpin Koor Yubileum | Foto: FB Gabriel Mahal

Mengenang Pater Piet Pedo Neo, SVD

Hidupnya adalah Syair, Jiwanya adalah Musik (Bagian Kedua, Selesai)

Oleh: Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum
Pada bagian pertama, catatan tentang Pater Piet yang bernama lengkap Petrus Pedo Neo dan pada masa kecil disapa No Pedo ini berisi kisah masa kecil dan saat-saat Pater Piet memutuskan untuk menjawab panggilan Tuhan. Jika saat ini kita mengenangnya sebagai seorang imam dan seniman gereja yang hebat, jiwa itu telah disemai sejak masa kanak-kanak. 
Pada bagian kedua ini, Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum berkisah tentang perjalanan sahabatnya itu dari masa novis sampai menghembuskan napas terakhir di BLUD Ben Mboi Ruteng. Selamat mengenang.

Perjalanan Menjadi Imam dan Seniman Gereja

Setelah masa novis, tahun 1984 Frater Piet melanjutkan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat (STF) Ledalero. Selama menjadi frater, Pedo dikenal teman-temanya sebagai seorang dirigen yang handal. Ia hebat dalam membaca not-not balok klasik, pandai melatih koor dan mengolah lagu-lagu menjadi halus, indah dan harmoni.

Menurut beberapa kawannya, Frater Pedo “seorang yang perfek“. Sebelum melatih orang lain, ia akan melatih dirinya, melatih semua jenis suara sampai benar-benar mahir. 

Ia tidak “terjun bebas” saat melatih. Ia menguasai dengan sebaik-baiknya sebuah lagu sebelum berani memimpin. Bukan karena alasan tidak mau mempermalukan diri di depan teman-teman, Piet melakukannya karena selalu menginginkan kesempurnaan dalam nada, irama dan harmoni. 
Untuk itu, banyak waktu dia habiskan di kamarn untuk berlatih dan terus berlatih. Kepiawaian dan kharismanya itu membuat dia disegani dan dikagumi kawan-kawannya. Ia memang tidak sangat menonjol dalam bidang lainnya, namun, kalau bicara nada, not, lagu, dan musik, Frater Pedo orangnya. 
Maka tidak heran, walau dia masih berada di tingkat yang lebih rendah, rekan-rekannya dari tingkat lebih tinggi sangat menghormati dan patuh padanya. Jika kawan-kawannya salah, ia berusaha memperbaiki dengan sabar. Bakat sebagai komponis atau pencipta lagu sama sekali belum nampak saat masa-masa kuliah filsafat. Ia hanya dikenal sebagai dirigen dan penyanyi saja; koor yang dipimpin selalu mendapat kesan positif. 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Menjadi seniman Gereja bukan hal yang mudah dan berjalan dengan mulus. Ia adalah pembelajar yang baik. Ia tidak hanya tekun berlatih, tetapi ia juga pendengar kritik yang baik. Ia bertanya dan meminta komentar kawan-kawannya atau siapa saja yang dianggap bisa membantu. Seusai menampilkan koor atau bermain musik, ia kerap bertanya; “Bagian mana yang masih kurang?” Dari situ ia belajar.

Tahun 1987-1988, Piet muda menjalankan masa TOP atau Tahun Orientasi Pastoral di Paroki Katedral Kupang. Di tempat tugasnya ini, jiwa berkesenian Frater Pedo terus bertumbuh. Ia mendampingi koor paroki dan menjadi organis tetap gereja. Tangannya yang halus memainkan organ dengan aliran klasik, kesukaannya. Ia tak suka musik gereja yang gaduh dan asal-asalan. 
Ia melayani tanpa kenal lelah. Kalau pada hari Minggu ada empat kali misa, dan tidak ada organis lain yang dapat bertugas saat itu, maka ia akan melayani musik liturgi pada empat misa tersebut. Bakatnya benar-benar ia salurkan bagi kemuliaan Tuhan dalam lagu dan musik gerejani. 
Selama di Kupang, ia juga beruntung karena beberapa saudara-saudarinya tinggal di kota itu. Maka ia bisa dekat dengan keluarganya. Frater Pit juga suka makan enak. Sesekali ia meminta saudarinya memasak makanan yang enak untuknya. Ia tidak hanya suka makan tetapi juga memuji. 
Ia selalu memuji orang yang memasak makanan. Ia kadang-kadang menasihati keluarga agar hidup rukun dan jangan bertengkar satu sama lain. Kepada keponakannya ia meminta mereka belajar dengan tekun. 

Setelah menjalankan masa TOP selama kurang lebih dua tahun, Frater Pedo kembali ke Ledalero untuk studi teologi. Pada tanggal 18 November 1989, ia ditahbiskan sebagai diakon di Ledalero. Masa praktik sebagai diakon dijalankannya kembali di kota Kupang. 

Tanggal 17 Juni 1990 adalah hari bersejarah bagi sang diakon. Perjuangannya yang panjang mendapatkan mahkota indah. Ia ditahbiskan sebagai imam Serikat Sabda Allah (Societas Verbi Divini) oleh Mgr. Darius Nggawa, SVD di Larantuka di Paroki San Juan Lebao. 
Ia ditahbiskan sendiri alias tidak bersama imam lain. Perayaan tahbisan berjalan sangat meriah karena dia adalah imam SVD sulung dari paroki itu. Pesta diramaikan oleh iringan tari kuda kepang yang panjang. Debu beterbangan di musim kemarau oleh hentak kaki para penari; meski demikian umat bergembira karena seorang imam ditahbiskan Tuhan bagi keluarga dan seluruh umat. 
Sehari setelahnya Pater Piet merayakan misa sulung. Ia menjadi pelayan ekaristi; misa dilaksanakan di di halaman Perumnas Weri. Hal yang mengejutkan ialah saat misa berjalan, saat konsekrasio, sebuah pipa panjang dan berat penyangga kemah jatuh. Mereka masih dalam lindungan Tuhan. Pipa tidak menimpa kepala dan altar tetapi jatuh persis di depan altar sehingga tak merusak dan melukai siapapun. 
Sempat ada firasat apakah ini pertanda buruk bagi imamatnya? Ternyata tidak. Tuhan setia menjaga dia, sesuai dengan motto tahbisan imamatnya adalah “Tuhan setia dalam perkataanNya” (Mz 13).  Ia percaya Allah selalu setia dan tak ingkar akan perkataanNya. Motto ini menjadi spirit bagi dia juga untuk selalu setiap: pada Tuhan, pada musik, pada liturgi dan pada kesenian.
Kisah lain tentang karya Pater Piet dapat dibaca di: Yubileum, Presiden SBY, dan Celana Goni 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
BACA JUGA
Pak Raden dan LG Corner, Sebuah Catatan tentang Dongeng di Ruteng

Sang Maestro 

Setelah ditahbiskan 17 Juni 1990, imam muda ini mendapatkan Surat Keputusan dari Uskup Denpasar: Tugas sebagai Pastor di Paroki Raba Bima, NTB. Dalam pelayanannya di tempat itu, Pater Piet biasanya menggunakan kuda untuk menjangkau tempat-tempat di wilayah perbukitan. Masa tugasnya di Bima hanya berlangsung selama satu tahun. 
Tahun 1991, STKIP St. Paulus mulai membuka program Sarjana (S1) Pendidikan Kateketik. Lembaga ini membutuhkan tenaga handal yang membantu calon sarjana terampil dalam bidang liturgi dan musik gerejani. SVD tahu siapa yang terbaik untuk itu. Demikianlah Pater Piet diutus ke Manggarai melalui Surat Keputusan Uskup Ruteng bertanggal 1 Juni 1991. 
Sejak di kampus inilah Pater Pit menjadi intan dan berlian dalam bidang musik liturgi. Pada awal mula ia dipercayakan sebagai Bapa Asrama, mengajar musik liturgi, membina koor kelas, asrama, dan kampus yang masa itu hanya memiliki satu jurusan. Ia juga meluangkan waktu untuk melatih gitar tidak hanya bagi penghuni kampus tetapi juga untuk masyarakat lainnya yang memintanya. 
Menjadi imam yang tinggal di Manggarai, ia tidak mau terpisah dari tanah ini. Sejak awal, selain mengembangkan musik gerejani yang bernuansa gregorian, klasik, dan etnik Indonesia umumnya, Pater Piet menaruh minat khusus pada musik liturgi Manggarai.

Gubahannya yang pertama adalah lagu “Mai Taung”. Lagu ini diaransemennya pada tahun 1992 dengan sangat indah berbasis pada lagu aslinya dari buku Dere Serani, buku lagu liturgi dalam bahasa Manggarai. 

Setelah lagu ini, puluhan lagu dari Dere Serani diaransemennya kembali menjadi lebih indah dan agung. Ia tidak hanya mengaransemen, tetapi juga mencipta lagu. 

Di kampus STKIP St. Paulus Ruteng Pater Pit dikenal sebagai Seorang Maestro. Ia benar-benar menguasai bidang ilmu musiknya. Selain karena bakatnya yang luar biasa, juga karena hasil belajar pribadinya yang sangat tekun. Ia juga belajar secara profesional. Pada tahun 1993, ia belajar musik liturgi di Pusat Musik Liturgi Yogyakarta dan kemudian dilanjutkan di Manila Filipina sampai dengan tahun 1997. 
Sejak 1997 ia membentuk STKIP sebagai kampus seni dan liturgis; saat itu jumlah mahasiswa dan program studi terus meningkatal –ini berpengaruh pada jumlah paduan suara kampus. Kendati jumlahnya menjadi sangat banyak, ia setia mendampingi tanpa kenal lelah. 
Baca juga: Boleh Bicara Tetapi Tidak Berisik

BACA JUGA
Saya Tidak Jadi Pindah Agama

Mahasiswa ditempanya menjadi dirigen, pemain musik, dan penyanyi lagu gereja yang handal. Hasilnya, koor STKIP Ruteng menjadi sangat terkenal. Banyak tamu dari luar Manggarai memberi kesan dan pujian, banyak mahasiswa mendapat tawaran kerja juga karena kehandalan mereka menjadi dirigen dan pemain musik gereja, sesuatu yang sangat dibutuhkan di sekolah dan paroki-paroki.

Pater Piet bukan milik tunggal STKIP St. Paulus. Ruang karya tak seluas halaman kampus. Ia juga diberi tugas mendampingi pembinaan para novis di Kuwu. Ia pun setia mendampingi koor-koor paroki. Kelahiran dan kemajuan aneka kelompok koor di Ruteng sejak tahun 1990-an tak lepas dari keberadaannya. 
Tahun 1992, di saat pesta 80 tahun Gereja Katolik di Manggarai, ia memimpin Koor Misa Agung di Lapangan Motang Rua, Ruteng. Anggota koor berjumlah ratusan orang: mahasiswa, pelajar, para novis, anggota koor dari semua Paroki di Kota Ruteng.

Ia mencatatkan sejarah di Manggarai saat itu. Memimpin anggota koor dari aneka latar belakang, berjumlah luar biasa banyak, dan menyanyi bersama dengan sangat indah. Ketika Yubileum seabad Gereja Manggarai, 2012 ia kembali menjadi aktor utama. Ia dikagumi termasuk oleh presiden SBY.  

Menariknya ia tidak hanya fokus pada indahnya lagu tetapi juga pada pembentukan karakter mahasiswa. Ia menjadi sahabat, menasihati, mendampingi dan setia mendengarkan keluh kesah. Ia kerap membeli jajanan, hiburan, dan menjawab setiap yang masuk. Pater Piet adalah nada. Seluruh diri dan nafasnya adalah musik. Hidupnya adalah lagu yang ia persembahkan bagi kemuliaan Tuhan dan sesama
Tahun 2015, Pater Piet merayakan 25 tahun Imamat. Ia mengambil motto “Kepada kasih setiamu, aku percaya” (Mz 13). Motto ini mirip dengan motto imamatnya. Ia setia dan baik hati. Ia juga santun. Ia dikenal karena selalu menyapa setiap orang dengan Enu yang baik, Nana yang baik, Adek yang baik, dan sapaan santun serta hormat lainnya. Ia tidak pernah terlibat dalam konflik. Ia memilih mengalah, diam atau mengambil jalan damai jika mempunyai masalah. Ia bagaikan lagu, mengalir, indah, membuai jiwa. 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
BACA JUGA
Dan Bekerja Sama, Belajar dari Usulan Ruben

Akhir tahun 2016 semua berjalan biasa. Tak ada tanda-tanda khusus. Selama masa Natal ia banyak mengirim ucapan selamat Natal untuk sahabat kenalan. Tanggal 30 Desember ia menelepon Mamanya di Kupang dan saudara-saudaranya yang lain untuk mengucapkan selamat Natal dan Tahun Baru.

Ia mengirimi Mama uang dan berkata “Ema, ini sedikit saja untuk Ema bersenang-senang.” Kepada saudarinya ia meminta maaf; kakaknya itu bingung tentang apa yang harus dimaafkan–tak ada yang salah darinya. 

Tanggal 31 Desember 2016 lalu ia mendapat serangan darah tinggi dan stroke ringan secara mendadak. Itu pertama kali ia mengalami perawatan di Rumah Sakit. Belum pernah ada riwayat sakit sebelumnya. Di luar dugaan semua orang, ia pergi begitu cepat.

Fisiknya melemah; jiwanya lebih kuat untuk menjawab panggilan ilahi. Pada pukul 19.30 Wita iPater Piet berpulang ke pangkuan Ilahi, bergabung dengan malaikat bernyanyi dan membawa pujian bagi Allah. Suaranya kini tidak hanya memenuhi bumi namun juga bergaung di surga.

People come and go, memory remains. Orang datang dan pergi, kenangan tetap tinggal. Manusia lahir kemudian mati, musik akan terus hidup. Hidup Pater Piet sebagai nada, lagu, syair dan musik akan terus hidup di dalam diri para mahasiswa, alumni, anggota koor dan umat seluruhnya. Selamat jalan pater Piet. (selesai)
Catatan: Tulisan ini adalah gabungan dari dua tulisan Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum di Harian Umum Flores Pos. Disiarkan beberapa hari setelah Pater Piet Pedo Neo, SVD meninggal dunia dalam empat bagian secara berurutan, disiarkan di ranalino.co atas izin penulis. Terima kasih sudah mampir. Mari tetap mengenang Pater Piet dalam doa-doa harian kita. Tabe.
Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *