yubileum presiden sby dan celana goni

Yubileum, Presiden SBY, dan Celana Goni

Gereja Katolik Manggarai mencapai usia 100 tahun pada tahun 2012. Yubileum. Perjalanan panjang yang dimulai dari pembaptisan delapan orang Manggarai di Jengkalang Reo.


Betapa besarnya pengaruh Gereja Katolik di Manggarai dan betapa panjangnya perjalanan sejarah itu, Gereja Lokal Keuskupan Ruteng merayakan 100 tahunnya dengan meriah. Yubileum. Rangkaian kegiatannya macam-macam. Yang paling penting adalah bahwa pada tahun 2012, seluruh umat Katolik Manggarai baik yang tinggal di Manggarai maupun Manggarai diaspora mendapat indulgensi penuh. Tahu apa itu indulgensi penuh to? Bikin bahagia, pokoknya. Peristiwa besar itu mendapat perhatian negara dan saya menulis ini sebagai usaha mengenang dan bahagia.

Rabu, 19 Oktober 2012, Lapangan Motang Rua telah penuh manusia sejak pukul 06.00 WITA. Entah dari mana datangnya, para manusia itu adalah kami yang ingin melihat wajah orang nomor satu di negeri ini. Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akan memberikan ceramah umum sekaligus membuka pekan puncak Yubileum 100 tahun Gereja Katolik Manggarai.

“Ole, senang tu’ung kat pande de Yubileum ho’o e (kita bahagia karena Yubileum), kita bisa liat langsung Presiden,” tutur seorang bapak di tengah antrian menuju pintu sensor yang dijaga ketat oleh para tentara. Saya ada di belakangnya, bersiap-siap menyerahkan handphone dan korek api a.k.a. pemantik atau petek kepada Om Tentara untuk dititipkan sampai saya berhasil melewati pintu sensor yang seperti dipinjam dari bandara entah di mana.

Giliran saya semakin dekat ketika saya menoleh ke bagian kiri pintu itu, tempat seorang Polwan cantik sedang sibuk melakukan sensor manual pada kaum perempuan yang (mungkin) karena dianggap tidak berbahaya, tidak harus melewati pintu sensor.

Mereka hanya disensor dengan tangan (baca: diraba-raba?) oleh sang Polwan yang ternyata adalah teman MC duet saya di beberapa kesempatan. Dia melihat saya, tersenyum, seperti membaca pikiran lalu langsung berkomentar, “Kakak tidak bisa lewat sini, harus lewat pintu sensor.” Saya tersenyum malu-malu, merasa tertebak dan telah tiba di pintu sensor, membiarkan alat itu bekerja menggantikan tangan Polwan.

Baca juga: Belajar Menulis pada William Forrester

Kami berhasil masuk lengkap dengan handphone, kali ini tanpa pemantik. Om Tentara mungkin merasa tampang saya cukup berbahaya, sebaiknya jangan dilengkapi pemantik. Saya mencari-cari bapak yang tadi berkomentar tentang kegembiraannya atas kunjungan Presiden, dia telah menghilang di tengah lautan manusia di lapangan tengah kota itu.

BACA JUGA
Di Kampung Ada Satu Televisi: Pemirsa Nonton dari Balik Jendela, Ada yang Terlibat Cinta Lokasi

Pilihan selanjutnya adalah mencari tempat yang cukup tepat untuk melihat panggung utama tempat podium Sang Presiden telah bertahta, plus dua orang petugas berdiri tegap di sampingnya bahkan sebelum Presiden tiba di lokasi. Dapat! Di dekat kumpulan orang-orang tua yang hari itu hadir dengan ber-tengge songke Manggarai dan ber-sesek sapu. Mereka lebih siap bertemu Presiden daripada saya. Selain karena telah tiba lebih awal juga karena berbusana khas daerah seolah mau bercerita, ho’o ami lawa Manggarai, ro’eng dite (inilah kami orang Manggarai, rakyatmu)kepada Mister President.

Paduan Suara Yubileum pimpinan Pater Piet Pedo Neo, SVD sejak tadi telah menyanyikan lagu-lagu hebat dengan hebatnya. Halleluya Handel, beberapa lagu kebangsaan, dan lagu daerah Manggarai mendapat sambutan tepuk tangan meriah dan puji-pujian. “Memang woko pimpin le ru’n Pater e, di’a tu’ung koor dise so’o (Karena Pater sendiri yang pimpin, koornya bagus sekali),” komentar seorang bapak yang mengaku lahir tahun 1950-an.

Pater Piet Pedo Neo adalah maestro musik liturgi di Keuskupan Ruteng. Tidak heran dia mendapat apresiasi dari Bapak ‘Tahun 50-an’ tadi. Bapak-bapak lainnya siap melanjutkan komentar namun tiba-tiba berhenti. Paduan Suara Yubileum menyanyikan lagu kami, dere de lawa; lagu yang secara magis menggerakkan mulut kami bernyanyi bersama… Gunung Ranaka, tinggi menjulang, rimba belukar padang nan hijau membentang…

Dere dami hitu danong ta anak (Itu lagu dari masa kami, Nak),” tutur bapak yang lainnya dengan mata berkaca-kaca setelah kami berhasil ‘membagi suara’ dengan baik ketika menyanyikan refrein: Buktikan cintamu, nyatakan baktimu, dengan membangun dan membina daerahmu Manggarai! Saya ambil suara satu dan bapak-bapak dari tahun 50-an ambil suara dua. Sayang, lagu ini hanya dinyanyikan dua ayat padahal kami mau nyanyi semua ayat sampai di Binatang terkenal Varanus Komodo atau di bagian yang paling saya suka dan saya anggap paling seksi dari seluruh lirik lagu Gunung Ranaka: anjing ayam itik, salak kokok kotek, ramai…

Baca juga: Membaca itu Penting bagi Penulis

Lalu mengalirlah kisah dari mulut-mulut tua tentang masa lalu ketika mereka masih kecil, tentang lagu Gunung Ranaka yang dilombakan dengan iringan orkes suling, tentang situasi sekolah mereka masa itu.

BACA JUGA
Illo Djeer, Musisi Asal Manggarai di Double Doors dan Panggung-Panggung Lain

Ami danong nana, pake batu tulis du sekola. Toe di manga kaye. Jadi eme sekola, tulis one watu hitu. Eme poli ca les, hapus kole tulisan situ ai pake watu hitu kin eme les berikut (Dulu kami menulis pelajaran di batu tulis. Tidak ada buku. Selesai satu pelajaran langsung dihapus, batu disiapkan untuk pelajaran berikut),” jelas mereka pada saya yang mendengar dengan mulut tenganga-nganga.

Co’o eme belajar Om ga? (Bagaimana kalian belajar?)” saya bertanya mewakili generasi kami yang lebih modern, saat di mana ada satu kaye dollar untuk satu mata pelajaran. “Hitu keta’p ta nana. Heran kole le weki ru’g ami. Ngance nuk kid lami konem langsung hapus (Nah, itu dia. Kami sendiri heran bagaimana bisa mengingat seluruh pelajaran dengan baik saat itu),” jawab mereka bergantian. Sekarang saya memikirkan ini: tidak banyak informasi yang mereka terima kala itu. Tidak sebanyak yang kita miliki sekarang. Semua lebih mudah diingat jika lebih sedikit, kan?

Toe de manga do’d deko danong anak. Jadi pake deko eme ngo sekola kanang. Eme kole one mbaru, loak deko ga. Ngo labar toe pake baju agu deko, langger kat. Telanjang kudus kat pe (Dulu, celana hanya dipakai ke sekolah. Pulang sekolah kami langsung telanjang),” tutur yang lain yang disambut dengan senyum malu-malu dari kawannya. Mereka sudah kelas empat SD ketika masa itu. Astaga! Kelas empat SD, mereka masih rela ‘telanjang kudus’ hanya untuk berhemat celana. “Hae’d karung goni’s danong deko situ ta, atau memang karung goni mungkin tapi dalam bentuk deko (Seperti karung goni bahannya),” saya dengar penjelasan tambahan itu dengan rasa haru.

Cerita lain mengalir, tentang batu tulis dan celana goni yang disediakan oleh para misionaris awal, disediakan bagi masyarakat Manggarai. Eme toe mai ce’es danong misionaris situ ta, am toe ngance baca ami ho’o (Kalau para misionaris tidak datang ke Manggarai, kami pasti tidak mengenal huruf/baca tulis),” tutur seorang sambil melirik handphone-nya lalu tersadar, “Oleee, toe ngance kirim sms no’o mai e (Tidak bisa mengirim SMS dari tempat ini).” Saya lalu bercerita tentang sinyal telepon genggam yang telah dikunci di seputar lapangan Motang Rua sebagai bagian dari prosedur standar dalam setiap kunjungan Presiden. “Maju tu’ung tana lino ho’o ge anak (Sekarang sudah maju sekali ya),” komentar yang lain.

BACA JUGA
Hal Tak Terlihat Namun Penting Terkait Video Viral Pengakuan Istri Migran di Manggarai

Baca juga: FF100K Karina – Karina

Pukul 08.30 WITA, di pengeras suara terdengar MC mengumumkan kedatangan Presiden SBY dan Ibu Negara Ani Yudhoyono dari Rumah Jabatan Bupati Manggarai menuju Lapangan Motang Rua Ruteng. Kami semua berdiri, menyambut lambaian tangan Presiden dengan haru. Sesekali terdengar komentar, “Hebat tu’ung Gereja Katolik Manggarai e, bisa datangkan Presiden! (Gereja Katolik Manggarai bisa datangkan Presiden. Hebat)” “Luar biasa SBY e, bisa mau datang memenuhi undangan Gereja!” Bagus betul ini toleransi e!” “Ole, kali pake keta baju songke kraeng hitu. Nggitu kole ata tu’a ende hio! (Presiden memakai baju dari songke Manggarai. Ibu negara juga)” “Dere koe kole lise Pater Piet lagu Gunung Ranaka hio bao ta de! (Semoga Pater Piet nyanyikan lagi lagu Gunung Ranaka).”

Di seputar Lapangan Motang Rua, Paspampres, POL-PP, serta petugas keamanan lainnya siaga santai, karena tak ada riak yang mengganggu. Apa kabar si Polwan tadi? Saya lupa wajahnya, berganti dengan gambar-gambar imaji tentang masa lalu yang sederhana dan saya yang menikmati kemewahan masa kini sesuka hati. Ckckckck…

Btw, semua menikmati kunjungan orang nomor satu negeri ini dan menganggapnya sebagai bentuk penghargaan bangsa ini atas komunitas Katolik. “Pemerintah mengakui peran Gereja Katolik Manggarai dalam membangun bangsa Indonesia,” kata Presiden dalam sambutannya yang disambut dengan tepuk tangan membahana. Saya setuju dengan SBY, terutama karena saya telah mendengar kisah tentang para misionaris dengan batu tulis dan celana goni. Mereka membebaskan saya dari situasi ‘telanjang kudus’ sekaligus membuatkan garis yang bisa saya titi untuk melihat SBY secara live.

Luar Biasa! Gereja Katolik Manggarai telah berusia 100 tahun atau 33 tahun lebih tua dari bangsa ini. Saya senang! Terima kasih misionaris, terima kasih Gereja Katolik-ku.

Salam Yubileum, Presiden SBY dan Celana Goni 

Salam dari Pertokoan, Ruteng

Armin Bell

Ruteng, hujan, 23 Oktober 2012

Bagikan ke:

4 Comments

  1. tapi sby tidak melihat secara keseluruhan bahwa di beberapa daerah di Indonesia ini masih ada yang tertindas, mereka tidak dapat melaksanakan ibadah sesuai keyakinan dengan bebas, tidak dapat mendirikan rumah ibadah dengan berlandaskan UUD”45 tetapi harus mengikuti aturan yang sengaja di buat supaya tidak dapat mendirikan rumah ibadah namun boleh bebas beragama.

  2. Setuju! Itu sisi lain yang harus segera dibenahi. PR buat SBY agar tidak hanya dikenang sebagai pelaku Public Speaking yang baik tetapi juga Pemimpin yang bertanggungjawab. Semoga persoalan izin rumah ibadah akan menjadi lebih mudah. Salam

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *