Negeri Tak Punya Salah

Lingkungan ikut membentuk perilaku. Kita percaya itu. Juga menjadi enggan mengakuinya; lingkungan lepas tangan jika seorang dari antara mereka bersalah, dan mengumumkannya sebagai tanggung jawab oknum. Itu sudah!

negeri tak punya salah
Sudut Negeri | Foto: Armin Bell

Negeri Tak Punya Salah

Seorang ayah akan berapi-api menjelaskan bahwa anaknya yang menjadi tentara adalah karena didikan masa kecilnya yang baik. Seorang ibu menangis terharu melihat anaknya diwisuda. Hati kecilnya akan mengakui itu sebagai keberhasilannya sebagai seorang mama.

Itu adalah pemandangan sehari-hari, sama sehari-harinya dengan seorang ayah yang menolak dibawa-bawa namanya pada perlakuan buruk anaknya.

Saya berdiri di sini, di negeri tempat keberhasilan personal diakui sebagai keberhasilan kolektif organisasi tetapi tidak berlaku terbalik. Ini adalah negeri di mana setiap kesalahan personal tidak pernah dipandang sebagai kesalahan institusi. Kita menyebutnya oknum.
Misalkan seorang hakim tidak adil dalam memutuskan sebuah perkara dan ketidakadilannya itu kemudian terbukti sebagai kesalahan, maka institusi tempat dia bernaung hanya akan menjawab: Hakim yang tidak adil itu adalah oknum. Tidak semua hakim demikian. Itu kesalahan oknum! 
Negeri ini tidak banyak membuka ruang ‘kerendahan hati’ untuk mengakui bahwa sebuah kesalahan yang dilakukan oleh seseorang sangat mungkin terjadi karena pembinaan institusi yang tidak cukup baik. Barangkali seperti negeri amnesia, lupa bahwa kita pernah ikut hadir membentuk seseorang. 
Dalam konteks hakim dan keputusannya yang salah; bukankah sangat mungkin terjadi karena si hakim tidak mendapatkan pembinaan atau penyegaran yang cukup tentang bagaimana menjadi hakim yang baik?
Mari melihat situasi lain; ketika seorang siswa berhasil menjadi juara nasional, maka sekolahnya akan dengan jumawa mengakuinya sebagai bukti keberhasilan sekolah dalam mendidiknya. Si anak bahkan akan dipakai sebagai ‘materi’ promosi sekolah. Anak-anak bermasalah akan disebut sebagai bukan wajah sekolah. Beberapa anak Manggarai mendapat nasib seburuk itu dan dikeluarkan dari sekolah. Oh…
Saya sudah lama berdiri di sini, di sebuah negeri yang kesalahan dapat terlempar ke mana-mana tanpa ada yang punya kesediaan untuk mengakuinya sebagai kesalahan kolektif. Kita mengenalnya saat ini sebagai kambing hitam. 

Sejarah menuturkan, ada dua ekor kambing jantan yang sangat mirip. Keduanya dibawa ke halaman Bait Suci di Yerusalem pada hari Yom Kippur sebagai bagian dari Ibadat Suci pada hari itu. Imam Agung kemudian melemparkan undian atas kedua kambing itu. Salah seekor kambing dipersembahkan sebagai korban bakaran.

Yang kedua adalah kambing hitam. Imam Agung meletakkan tangannya pada kepala kambing itu dan mengakui dosa-dosa bangsa Israel. Kambing hitam itu kemudian dibawa pergi dan dilepaskan di padang gurun bersama dosa-dosa manusia. 

BACA JUGA
Ketika Badai Berlalu
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Betapa sial menjadi kambing hitam, dan lebih sial lagi karena di negeri tempat saya berdiri, kambing-kambing hitam terlihat dalam rupa manusia. Maka demikianlah. Dengan mudah seorang pemimpin meletakan tangannya di atas kepala seorang anak buahnya dan dan memintanya membawa dosa kolektif itu ke dalam penjara. 

Baca juga: Dakota Fanning dan Rueng Melawan Negara

Kemarin, di Ruteng beberapa orang PNS golongan rendah diadili atas dugaan korupsi di institusi mereka. Secara kasat mata, sangat jelas terlihat bahwa beberapa orang penting di atas mereka juga terlibat dalam penyalahgunaan keuangan negara pada proyek tersebut secara administratif. Namun, negeri ini punya pasal-pasal kompromi dan dinas itu tetap ‘bernama baik’ karena yang salah adalah oknum. 

Negeri ini memang menarik. Sebuah institusi elit bernama pasukan khusus menembak empat orang tahanan di penjara, sesuatu yang harusnya dipandang sebagai aksi anarki karena menyerang fasilitas negara, tetapi dengan mudah dibalik menjadi aksi yang membela kehormatan korps. Karenanya, tidak ada seorang pun yang meminta maaf atas kesalahan itu, apalagi para pemimpin mereka.

Kambing hitamnya bukan lagi yang menembak tetapi yang dibunuh. Empat orang tahanan itu (harus) dibunuh karena telah berkelahi dengan anggota pasukan khusus dan membunuhnya. Luar biasa. 

Cara membaca kita telah menjadi begitu mudah bergeser, dan sebagai pelengkap kita disuguhkan dengan tayangan bagaimana pada suatu masa, pasukan elit tersebut ada di garda terdepan saat terjadi bencana alam, membantu masyarakat, dan kita, orang-orang biasa di negeri ini terkagum-kagum; lupa bahwa membunuh itu salah. Mau lihat yang lain?
Baca juga: Rana Cinta Indonesia, Sebuah Cerita tentang Bangsa

BACA JUGA
About Haruki Murakami's Hear the Wind Sing, and Pinball, 1973

Begini, para pemimpin pasukan elit itu; jangankan mengakui ini sebagai kesalahan institusi, mengakuinya sebagai kesalahan saja tidak. Kesetiaan pada korsa kata mereka–terlihat seperti sebagai pengakuan atas keberhasilan institusi. 

Kawan, hari-hari ini saya melihat, negeri tempat saya berdiri adalah negeri tempat keberhasilan bisa dinikmati bersama dan kesalahan ditebus sendiri-sendiri. Di negeri ini, setiap permintaan maaf (seandainya ada) selalu diikuti oleh: tetapi. Mungkin benar, ini negeri tak punya salah karena yang bisa salah hanyalah oknum. Andai keberhasilan juga diperlakukan demikian.
Salam
Armin Bell
Ruteng Flores 

PS: Tulisan ini sebelumnya disiarkan di notanostra.com pada 11 April 2013
Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *