Naskah Drama Musikal “Ombeng” (Babak Dua)

Tahun 2016 silam, Komunitas Saeh Go Lino Ruteng bersama Komisi Kepemudaan Keuskupan Ruteng menggelar pentas drama musikal berjudul “Ombeng”. Blog ranalino.co menyajikan secara bersambung naskah drama tersebut. Selamat menikmati Ombeng babak dua ini.

naskah drama musikal ombeng babak dua
Lagu “Anak Sekolah” di panggung “Ombeng” | Foto: Frans Joseph

Naskah Drama Musikal “Ombeng” (Babak Dua)

Oleh: Armin Bell

Layar dibuka. Lampu: dari gelap ke terang secara perlahan (fade in). Live band ready. Di panggung, Dorus dan Daria saling menatap. Seperti berdialog tetapi tanpa suara. Babak ini sebagian besar berisi lagu (lirik lagu dipakai sebagai pengganti dialog). 
Dorus:
Menyanyikan lagu Thinkin Out Loud – Ed Sheeran. Di akhir lagu, mengambil surat dari kantong celana memberikannya kepada Daria. 

Daria menerima surat itu dengan malu-malu. Membaca, lalu mulai menyanyi.
Daria:
Menyanyikan lagu A Moment Like This – Kelly Clarkson. Diiringi choir. Choir perlahan masuk ketika lagu sudah sampai di bagian reff pertama, membentuk formasi berbaris di belakang Dorus dan Daria. Usai lagu, choir keluar panggung satu per satu. Saat itu, Dorus mendekati Daria, memegang tangan dan mulai merayu.
Dorus:
Enu, Mekasihku, Manisku. (Menatap mata, menggenggam jemari Daria) Di’a keta laku noing’n mose daku (betapa baik hidup ini padaku). Sedang berada di usia yang baik, muda, enerjik dan sanggup melakukan apa saja. Dengan mimpi-mimpi yang indah, dengan kesukaan-kesukaan yang besar. Tahukah kau apa yang membuatnya menjadi semakin indah?
Daria:
(Malu-malu menghindari tatapan Dorus) Apakah itu, Nana?
Dorus:
Engkau, Kekasihku. Engkaulah segala alasan itu. Yang membuat semuanya menjadi semakin indah. Masa mudaku tanpamu, apalah artinya? Karena cintamu, dan cintaku kepadamu, aku mampu melakukan apa pun jua. Engkau, Kekasihku, yang hadir mengisi hari-hari sepi. (Band memainkan intro Mataleso Ge – Ivan Nestorman, Dorus mulai menyanyikan lirik Mataleso Ge berikut ini)
One hau de daku nai, moro mata’n e (Hatiku telah jadi milikmu, Aku bersumpah)
Toe sendo pati sua’y (Takkan terbelah) 
Hanang latang me (Hanya kepadamu)
Ai hau de, mata leso ge (Karena kaulah matahariku) Ai hau de, wulang mongko ge
(Karena kaulah purnamaku) Ai hau de, ntala gewang ge (Karena kaulah bintang kejoraku)
Hanang hau, lo’o capu gula ge (Hanya kau, embun pada pagiku)
(Sampai pada bagian ini, Dorus berhenti menyanyi. Band tetap memainkan instrumen Mataleso Ge, siap over tune untuk Daria)
Daria:
Apakah kau benar mencintaiku?
Dorus:
Dengan apakah lagi aku dapat menunjukkannya? Katakan… katakan… Manga dere mede, nenggo’o y… eme pa’u ngampang, pa’u cama-cama. Nenggituy, Enu. (Ada lagu demikian… ke jurang kita jatuh bersama-sama). Sebesar itu aku mencintamu. Kecuali…, jika kau memang masih meragukan cintaku, atau masih mengingat hari-harimu yang dahulu dengan kekasihmu… siapa itu?…
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Daria:
(Menutup mulut Dorus dengan jemarinya). Hush… saya sudah melupakannya. I’m over it. Let the past be burried. Biarkan orang mati menguburkan orang mati pula. (Daria–menunggu clue dari band–menyanyikan lanjutan Mataleso Ge – Ivan Nestorman).
Oke tadang danong’s ga (Biarkan masa lalu pergi)
Du leso’s sale e (Bersama terbenamnya mentari)
Pu’ung weru dite’t cua (Kita mulai cerita baru)
Hanang ite cua (Hanya aku dan dirimu)
Ai hau de, mata leso ge (Karena kaulah matahariku)
Ai hau de, wulang mongko ge (karena kaulah purnamaku)
Au hau de, ntala gewang ge (Karena kaulan bintang kejoraku)
Hanang hau, lo’o capu gula ge (Hanya kau, embun pagiku)
Dorus dan Daria menyanyikan bagian berikut secara bergantian/duet:
Konem lea daku nai (Andai (bahkan jika) hatiku kau buka/belah)
Hanang ngasang me (Yang ada hanya namamu)
Konem lea daku nai (Andai hatiku kau buka/belah)
Mbegel momang ge…. (Betapa besar rasa sayangku…)
Bersama choir menyanyikan refr (modulasi), mengajak penonton ikut bernyanyi.
Ai hau de, mata leso ge
Ai hau de, wulang mongko ge
Ai hau de, ntala gewang ge
Hanang hau, lo’o capu gula ge
Sepanjang pembukaan adegan di babak dua, Dorus dan Daria menguasai seluruh panggung. Berpindah dengan smooth dari satu titik ke titik lain. Tata cahaya mengikuti perpindahan mereka.
Dorus:
Terdiam. Melihat Daria, melihat ke tempat lain, diulang beberapa kali. Menampilkan ekspresi bingung, ragu, seperti hendak menyampaikan sesuatu.
Daria:
Nana, Ite kenapa? Ada apa?
Dorus:
Tetapi…., saya ragu.
Daria:
Ragu apa? Kenapa?
Dorus:
Dorus lalu mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Daria. Pada saat itu, Daria beberapa kali tersenyum, terkejut, sedikit menghindar, mendekat lagi, menghindar, lalu mengangguk dan menyeret manja Dorus ke luar panggung. Koreografi diatur.

Choir masuk menyanyikan lagi Anak Sekolah – Chrisye, duet pria dan wanita, chorus dinyanyikan bersama dengan koreografi lincah, ringan, ceria seperti line dance. Ada penampilan jive dari dua anggota choir pada bagian interlude. Choir memakai pakaian seragam SMA.

Layar ditutup.
Catatan:
  • Babak dua di drama musikal “Ombeng” ini seperti bonus tak terkira bagi choir karena mereka boleh pakai seragam SMA padahal mereka sudah berpuluh-puluh tahun meninggalkan bangku sekolah *lol.
  • Lagu “Mataleso Ge” dalam aransemen terbaru di Album “Legacy” – Ivan Nestorman (2017).
BACA JUGA
Dongeng HC Andersen - Tuk Kecil
Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *