Filter Bubble, Echo Chamber, dan Pilihan Reset Media Sosial

filter bubble echo chamber reset media sosial ranalino.co blogger ruteng flores

Saya sedang tertarik dengan Filter Bubble dan Echo Chamber. Dua hal ini adalah alasan yang baik untuk segera mengatur ulang dinding media sosial kita. Reset!


Awal 2000-an, internet masih begitu mewah. Kebutuhan terhadapnya juga tidak sebesar saat ini. Beberapa orang barangkali ke warung-warung internet (warnet) tetapi tidak setiap hari. Sesekali saja. Kalau ada uang jajan lebih dan ingin berselancar mencari bacaan-bacaan ‘kelas tertentu’ atau mencari kenalan anonim via MiRC atau main game online sambil mengirim surat. Yang terakhir hanya dilakukan oleh segelintir orang sebab sebagian besar masih masuk dalam golonga yang kerap bertanya: siapa itu imel?

Pokoknya begitu. Tidak banyak di antara kita yang hidup di era itu yang akrab dengannya. Sumber tugas-tugas kuliah masih dalam bentuk buku, diktat, atau tugas tahun sebelumnya yang dikerjakan oleh kaka-kaka senior dorang. Ke warnet hanya sesekali. Selebihnya? Di kos-kosan saja. Menikmati musik dari kaset pita atau cd/vcd bajakan.

Lalu tibalah kita di tahun 2005 dan sekitarnya. Kebutuhan akan internet meningkat, lebih sering untuk men-download lagu-lagu dalam format mp3, sesekali mengakses jurnal untuk di-copas buat tugas kuliah, lalu nonton/lihat gambar-gambar ‘begitulah’ dengan pixel yang rendah tapi sudah lumayan bikin bahagia. Tarif warnet sudah mulai bersaing; dari 5000 per jam menjadi 2500 per setengah jam. Halaaah.

Lalu sekarang, kita tiba di tahun 2022. Jika perbandingannya adalah perjalanan teknologi di era 60-an ke 70-an, rentang 2005 ke 2022 itu adalah masa yang panjang. Gramafon yang jadi raja pemutar musik di awal abad kedua puluh baru beralih menjadi kaset pita sekitar tahun 1960-an. Perlu 30 tahun lagi setelahnya bagi kita untuk mengenal CD/compact disk (dan VCD). Hanya 10 tahun setelahnya, cakram padat itu harus segera pensiun. Musik hadir dalam bentuk soft file, dan pemutarnya dengan sangat cepat berubah bentuk. MP3 Player sempat populer tapi tidak lama. Lagu-lagu bisa disimpan di telepon genggam. Lalu cloud, lalu apa lagi, lalu apa lagi, lalu music on demand, dan semua berlangsung tidak lebih dari sepuluh tahun.

Baca juga: 10 Plus Satu Hal Paling Diingat tentang Ruteng

Kita tentu saja boleh tercengang-cengang. Cepat sekali ini barang. Asli, cepat! Iya to? Sekarang, tidak banyak yang tahu kaset pita. CD/VCD saja tidak. Apalagi VHS. Handphone berubah drastis fungsinya. Dari sekadar telepon dan SMS menjadi apa itu SMS? Begitu banyak aksara diganti emoticon. Anak-anak mengirim pesan suara via WhatsApp. Dan lain-lain, dan lain-lain, dan kita hidup bersama internet.

Tahun 2021, terdapat 202,6 juta pengguna internet di Indonesia. Setiap hari, rata-rata waktu penggunaan internet per orang 8 jam 52 menit. 36% menggunakannya untuk berkirim pesan dan surat elektronik (surel), 21% membuka media sosial, menyaksikan konten audio, video, atau bermain gim, 11% menjelajah (browsing) internet, 7% untuk kegiatan lainnya, 3% untuk transaksi jual-beli. Pada tahun yang sama, lebih dari 85% user di Indonesia menjadi pengguna media sosial, seperti Twitter, Facebook, WhatsApp, dan Instagram. Wow!

Filter Bubble: Linimasa Medsos Kita adalah Apa yang Kita Pernah Sukai

Di Facebook, kabar terbaru yang berkeliaran di beranda seseorang adalah hasil saringan dari jejak digitalnya. Maksudnya, yang muncul adalah updates dari teman yang paling sering berinteraksi dengan pengguna. Facebook juga menyaring kabar-kabar dari orang-orang yang punya kesamaan dengan penggunanya. Di saat bersamaan, ia menjauhkan seseorang dari orang-orang yang tidak punya kesamaan secara algoritma.

Cara kerja algoritma media sosial adalah menyesuaikan topik-topik konten yang disukai oleh setiap pengguna. Biasanya, konten yang muncul adalah yang sering dilihat oleh pengguna tersebut. Begitu seterusnya, seterusnya lagi, dan seterusnya.

Selain Facebook, media sosial lain juga melakukan hal yang sama. Feed Instagram misalnya—dan menjadi masuk akal sejak platform tersebut diakuisi Facebook pada tahun 2012 silam (dengan nilai $ 1 Miliar). Jendela pencarian Google dan Youtube telah menerapkannya sejak lama. Sementara itu, meskipun Twitter menawarkan sesuatu yang berbeda melalui fitur TOPIK, di mana pengguna diminta untuk memilih topik apa yang relevan dengan keinginan/kebutuhan masing-masing, konsep besarnya tetap sama: algoritma mendekatkan yang dekat dan menjauhkan yang jauh. Kita hidup dalam lingkaran yang ternyata semakin kecil.

Tahun 2011 silam, Eli Praiser menulis buku The Filter Bubble: What the Internet Is Hiding from You. Fokus tulisan Praiser ini ada pada isu dampak negatif algoritma media sosial karena gelembung filter—hyper-personalized internet. Menurutnya, algoritma media sosial saat ini ‘diatur’ oleh Filter Bubble. Filter Bubble merupakan penyaring informasi yang didapatkan pengguna saat menggunakan media sosial dan mesin pencari.

Baca juga: Information Overload dan Wartawan yang Mati karena Media Sosial

Meski terlihat baik-baik saja—bahwa kita memang berhak atas informasi yang kita sukai/butuhkan saja, tetapi pada jangka yang panjang Filter Bubble akan berdampak buruk karena beberapa alasan mendasar.

Pertama, Filter Buble akan memungkinkan terciptanya masyarakat yang mengenal informasi yang sama (untuk tidak menyebutnya homogen). Masyarakat yang demikian, yang mempercakapkan hal yang sama dan dengan mudah setuju satu sama lain adalah tempat di mana kita tidak bisa belajar apa pun.

Kedua, Filter Buble memungkinkan seseorang akan terisolasi secara intelektual. Maksudnya, dia tidak lagi membuka dirinya untuk kemungkinan munculnya informasi/pengetahuan baru yang datang dari bukan kelompok mayoritas.

Ketiga, Filter Buble membuat seseorang memiliki kecenderungan untuk mengklaim orang lain sepaham dengan dirinya, dan merasa pendapatnya adalah kesimpulan mayoritas.

Echo Chamber: Kebenaran yang Kau Dengar adalah Suaramu Sendiri

Beberapa orang barangkali pernah bilang, “Itu subyektif sekali!” Maksud mereka adalah bahwa sebagian besar pandangan yang kau sampaikan datang dari keyakinanmu sendiri. Kau tidak banyak menyerap informasi yang lain (yang berbeda) dari sekitarmu. Kondisi demikian, pada saat-saat sekarang ini disebut sebagai ‘khas netizen’. Ya! Netizen/warganet memang memiliki kecenderungan untuk menyaring informasi yang masuk (bacaan, visual, audio visual maupun konten lainnya) sesuai dengan apa yang sudah diyakini.

Sebagai penggemar Manchester United, saya akan selalu percaya bahwa tim itu adalah tim yang hebat sebab dalam masa-masa paceklik prestasi sekalipun, MU tetap hebat di Twitter. Admin fanbase-nya akan melakukan ini: me-repost kemenangan-kemenangan Manchester United pada masa jayanya persis pada saat MU baru saja mengalami kekalahan. Menyaksikan dinding media sosial seperti itu, saya akan melagukan secara terus-menerus anthem kami, Glory Glory Man United (melalui status, cuitan, foto di media sosial saya).

Kondisi ini membuat dinding media sosial kita ‘menampilkan’ gema. Suara kita dipantulkan lagi, fenomena yang kemudian dikenal dengan nama Echo Chamber. Dalam penjelasan tersingkat, Echo Chamber kira-kira berarti: suara-suara dari masa lalu (dari jejak digital pengguna) diamplifikasi, lalu akhirnya diyakini sebagai kebenaran. Bahkan jika itu adalah sebuah kebohongan, tetapi oleh karena sering disampaikan dan secara berulang-ulang kita dengar, hal itu lalu kita anggap sebagai ‘kebenaran’. Kemudian kita sampaikan lagi (berulang-ulang), kita dengar sendiri, orang-orang setipe mendengarnya (lalu meneruskannya), kita dengar lagi suara orang-orang itu, dan jadilah dia sebagai satu-satunya hal yang kita anggap benar.

“We construct our online profiles based on what we already know, what we’re interested in, and what we’re recommended, social networks are perfectly designed to reinforce our existing beliefs,” kata Girad Lotan (New York University, 2014).

Menipu Algoritma dengan Mengatur Ulang Dinding Media Sosial Kita

Media sosial telah menjadi rumah baru kita. Jika demikian, rumah itu semestinya juga kita percayai sebagai tempat yang baik untuk tumbuh, adalah ruang diskusi—kita boleh berbeda pendapat dan boleh mempercakapkannya seperti yang kerap kita lakukan di rumah kita. Misalkan media sosial kita selama ini menampilkan sesuatu yang sesungguhnya sudah kita ketahui, reset dia. Atur ulang dinding media sosialmu.

Baca juga: 76 Tahun RRI, Saya Mau Cerita tentang Radio Ini

Beberapa langkah ini dapat dicoba sebagai (sebut saja) strategi meluputkan diri dari menjadi homogen. Pertama, menambah pengetahuan dengan memanfaatkan sumber-sumber lain di luar media sosial (buku, jurnal, pertemuan-pertemuan, dan lain-lain). Kedua, memanfaatkan fitur-fitur ‘menolak rekomendasi’ yang disediakan oleh media sosial. Ketiga, memastikan (melalui pencarian yang sungguh-sungguh) apakah informasi yang kita terima selama ini benar-benar sesuai kebutuhan atau hanya karena kita ‘terpapar’ saja—terjadi berulang dan akhirnya kita anggap sebagai kebutuhan. Keempat, memperbaiki jejak digital, menerapkan HOTS atau High Order Thinking Skills: Remembering, Understanding, Applying, Analyzing, Evaluating, Creating) dalam ber-media sosial.

Tentang yang ketiga, percayalah, internet mempunyai semua hal yang kau butuhkan. Tetapi dia menyembunyikan beberapa di antaranya karena perilaku bermedsosmu yang keliru serta kecenderunganmu mendengar gema suaramu sendiri. Temukan apa yang dia sembunyikan, kau akan lebih baik di kemudian hari.

8 November 2022

Salam dari Kedutul, Ruteng

Armin Bell

Gambar dari Philanthropy.com.

Catatan: Sebagian materi dalam tulisan ini pernah disajikan dalam kegiatan Webinar Literasi Digital pada tanggal 17 Oktober 2021 dengan tema Pentingnya Literasi Digital bagi Generasi Milenial di Ruteng, Kab. Manggarai, Nusa Tenggara Timur. Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Kemenkominfo RI.

Tanggapan Anda?

Scroll to Top