Buku Harian atau Diary; Sejarah, Pengertian, dan Manfaat

buku harian atau diary sejarah dan manfaatnya

Buku harian barangkali akan jadi kenangan. Yang konvensional. Yang terbuat dari kertas, dijilid berlembar-lembar, bergaris. Apa itu buku harian?


3 November 2020

Ajak anak-anak kita menuliskan setiap peristiwa hidupnya dalam sebuah buku harian atau diary. Berdasarkan pengalaman pribadi–dan kini saya lihat pada anak perempuan saya, buku itu bermanfaat penting: merawat ingatan, menjaga kesadaran, dan meminimalisir peluang ‘mudah lupa’.

Saya jelas sangat dibantu oleh buku harian atau diary dan karenanya berusaha mengisinya setiap ada kesempatan. Saat ini sudah tidak sesering dulu, tetapi usaha mencatat peristiwa-peristiwa penting dengan tulisan tangan di sebuah buku selalu saya lakukan.

Anak perempuan saya mulai melakukannya sejak dia mengenal tulisan dan terus berjuang mengisinya setiap hari. Tentang mengapa setiap orang harus memiliki buku harian, saya kerap menjawabnya dengan cerita. Sebuah pengalaman pribadi.

Baca juga: Mengenal Tiga V, Komponen-komponen Penting dalam Public Speaking

Saya Ditolong Buku Harian

Ruteng, 19 Maret 2015, Saya sedang membongkar catatan transaksi via ATM ketika pada salah satu resi tertera nama orang yang tidak saya kenal (atau ingat?). Saya kaget karena jumlah yang ditransfer dari rekening saya cukup besar. Saya tiba-tiba disergap khawatir. Jangan-jangan ATM saya dibajak.

Pertanyaan terbesar ketika melihat nama pemilik rekening tujuan di resi itu adalah: Mengapa saya melakukan transfer kepada orang ini? Saya berulang-ulang berpikir dan tidak bertemu jawaban. Lalu saya ingat, saya masih rajin mengisi diary.

Saya buka buku oranye itu hadiah dari Donnie Dnezco awal tahun 2014 silam, kemudian memeriksa apa yang sebenarnya terjadi pada hari, tanggal dan bulan tempat saya menemukan transaksi mencurigakan di rekening saya itu.

Taraaaaa…. jawabannya ada. Saya ternyata melakukan transfer untuk sesuatu yang sangat penting dan pemilik rekening penerima yang tak dikenal itu adalah seorang kenalan di dunia maya yang dengan senang hati membantu urusan saya ketika itu. Maka transaksi itu adalah sah dan benar-benar saya lakukan.Ingatan itu pendek. Demikianlah alasan saya menulis catatan harian sampai hari ini. Cerita itu sampai di sini.

Apa itu Buku Harian?

Ini adalah sebuah catatan pribadi yang berisi peristiwa sehari-hari, apa saja, baik yang dipikirkan, dikatakan, atau dilakukan.

Yang diceritakan di dalamnya adalah segala hal yang tidak ditujukan untuk dikomentari, disukai, atau dibagi-bagi ke banyak orang.

Karena alasan itulah maka sifat buku harian berbeda dengan media sosial. Di media sosial, kita juga menulis apa yang kita rasakan tetapi cenderung ditujukan agar diketahui banyak orang, disukai, diberi tanda love, atau disebarluaskan. Kita tidak bisa menulis nama orang yang kita benci di media sosial (paling tidak, saya begitu), tetapi kita bisa menulisnya di buku harian. Hal ini jugalah yang membuat buku ini tidak boleh dibaca oleh orang lain. Saya tidak membaca buku anak saya, juga sebaliknya. Cerita atau kisah yang ditulis di buku ini biasanya akan bermanfaat untuk refleksi, pelajaran personal, pembangun kepribadian (setelah membaca ulang teks yang telah kita tulis).

Baca juga: Public Speaking – Pengertian, Pelaku, Tujuan, dan Alur

Siapa Orang Pertama yang Menulis Buku Harian?

Orang pertama yang diakui sebagai ‘penemu’ buku harian adalah Samuel Pepys (1633-1703). Samuel Pepys ini adalah seorang administrator angkatan laut kerajaan Inggris. Kini buku hariannya disimpan di Magdalene College, Cambridge. Karena dianggap sebagai penemu, buku hariannya akhirnya diterbitkan lebih dari seabad setelah Samuel Pepys meninggal dunia, yakni pada tahun 1825.

Ada banyak macam buku harian. Yang paling populer adalah buku atau kertas. Beberapa waktu terakhir, karena perkembangan teknologi informasi yang pesat, banyak orang menulis diari di perangkat elektronik seperti komputer, smartphone, dan lain-lain.

Beberapa manfaat:

  • Mendokumentasikan peristiwa atau kegiatan sehari-hari.
  • Mencurahkan isi hati (curhat), obat stress, meluapkan emosi, menyampaikan keluh kesah, atau mengekspresikan pikiran ke dalam tulisan.
  • Berkreasi. Misalnya, untuk menyimpan suatu karya cerita hasil kreasi pikiran kita agar tidak hilang/lupa.

Tentu saja ada banyak manfaat lain yang hanya dapat diceritakan oleh orang-orang yang memang memilikinya. Ya. Manfaat terpenting buku harian hanya bisa diceritakan oleh orang-orang yang menulis buku harian, bukan? Saya percaya, anak-anak yang rajin mengisinya akan memiliki ingatan yang panjang serta kemampuan memaknai teks dengan lebih baik.

Salam dari Kedutul, Ruteng

Armin Bell

Tanggapan Anda?

Scroll to Top