restoran masa depan rana maria bellarmin

Restoran Masa Depan

Rana adalah anak perempuan saya yang kini berusia enam setengah tahun. Setiap percakapan dengannya selalu menyenangkan. Relasi ayah-anak perempuan yang biasa. Tetapi selalu ada kejutan dalam setiap percakapan.


Sebagaimana umumnya anak-anak, Rana sering mengubah cita-cita. Rana pernah sekian lama bercita-cita menjadi seniman. Mau jadi pelukis, terus buka toko lukisan sendiri. Saya memberitahunya tentang galeri, dan beberapa hal lain terkait cita-citanya itu. Rana senang. Dia juga senang menggambar.

Lalu suatu waktu, cita-citanya berubah. Rana memutuskan usaha kuliner sebagai cita-citanya. Membangun restoran masa depan. Malam ini kami membicarakannya lebih serius; dia bicara saya mendengar. “Saya punya restoran nanti dua tingkat. Di tingkat pertama seperti di tempat biasa kita makan. Ada dua tempat, di dalam dan di luar,” tuturnya bersemangat.

Menurutnya, di dindingnya akan dipajang beberapa lukisannya sendiri, dan karya teman-temannya. “Terus, di tingkat dua juga ada dua tempat. Yang bagian luar untuk orang-orang makan, terus bagian dalam untuk perpustakaan,” katanya. “Biar kalau ada anak-anak yang bosan, mereka bisa main dan baca-baca di situ,” sambungnya dan saya kaget.

Saya masih dalam serangan kaget ketika Rana mulai memikirkan koleksi buku di perpustakaan itu. “Nanti saya dan Lino punya koleksi simpan di situ. Untuk remaja, kami bisa pakai Bapa punya buku?” Lalu dia bercerita banyak hal lagi. Termasuk beberapa koleksi buku akan disimpan di satu lemari di tingkat (baca: lantai) satu. “Tetapi supaya orang-orang tidak pikir itu untuk dijual, nanti saya minta Om Enno untuk bikin tulisan ‘bukan dijual’. Boleh to?” Tanya Rana.

Om Enno adalah sahabat keluarga, aktor Komunitas Saeh Go Lino Ruteng yang selama tiga tahun berturut-turut (2016 – 2018) memerankan Yesus dalam Tablo Jalan Salib Hidup di Paroki Katedral Ruteng.

Click here to preview your posts with PRO themes ››

Saya lebih sering mengangguk daripada berkata-kata dalam percakapan kami malam itu. Beberapa nama akan menjadi tukang membangun restoran. Rana tahu tukang andalan kami: Om Dodo, Om Mozakk, Om Sintus, Om Nathan, Alamani. Om Kojek tidak disebut karena mungkin akan jadi salah seorang barista atau pengelola wi-fi. Saya setuju.

Kemudian dia ingat hal lain. “Tapi kalian semua sudah tua waktu saya sudah besar,” katanya. Ah, saya baru sadar. Betul juga. “Belum terlalu tua, Nak. Masih bisa kerja nanti,” jawa saya. Rana senang. Saya cemas. Kalau Rana pakai kami jadi tukang, dia harus pasang waktu yang panjang untuk masa kerja. Kami akan lebih sering istirahat. Cari kopi, rokok, bahkan sopi. Gawat.

Lalu saya bilang, “Kaka Rana akan punya teman yang kreatif seperti Bapa punya teman.” Dalam hati saya berdoa, semoga teman-temannya rajin bangun pagi sehingga dia tidak harus ikut bekerja sampai malam seperti kebiasaan tukang-tukang kreatif kami.

Kami tiba di rumah dan Rana mulai kerja pe-er. Saya update status. Itu!

Salam dari Ruteng

Armin Bell

 

Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *