Pada Sebuah Panggung

Ketika dipercaya menyutradarai pementasan teater Rahasia Pengakuan yang ditulis oleh Romo Edy Menori, saya melaksanakan saja tugas itu. Setelahnya baru saya menyadari sesuatu. 

pada sebuah panggung
Latihan teater Rahasia Pengakuan | Dok. Saeh Go Lino, Ruteng

Pada Sebuah Panggung

Hidup mungkin terdiri dari jalinan benang yang begitu banyak, di antaranya ada benang bernama prasangka. Jika benar demikian, maka jumlah benang per kategori dalam hidup seseorang tentu saja berbeda.

Mari berandai. Selain prasangka ada benang kebijaksanaan, ketakutan, kelemahlembutan, kerakusan, kemarahan, kemalasan, kekuatan, kecerdasan, keterbukaan, dan macam-macam lainnya. 

Karena jumlah benang per kategori dalam hidup setiap orang berbeda-beda, tidaklah mengherankan ketika kita membaca orang lain sebagai orang yang bijaksana dan yang lainnya lagi sebagai orang yang lembah lembut. Di kesempatan lain kita memuji seseorang sebagai cerdas dan yang lain sebagai pemalas. Sah. 
Saya menduga, sebagian besar benang yang menjalin membungkus hidup Pak Jigur adalah prasangka. Kenal Pak Jigur? Mungkin belum. Baiklah saya ceritakan secara singkat tentang orang ini. 
Pak Jigur adalah suami Ibu Linda, Ayah dari seorang anak perempuan bernama Tessa. Tinggal di sebuah Paroki yang dipimpin oleh seorang Imam muda yang tampan. Mereka hidup dalam naskah teater “Rahasia Pengakuan” yang ditulis oleh Rm. Edigius Menori, Pr (naskah ini ditulisnya ketika masih seorang Frater). Pak Jigur adalah lelaki dari dunia cerita. 
Di sana Pak Jigur hidup sebagai seorang suami yang gemar berjudi, pemarah, dan kerap berdialog dengan tangan; memukul istrinya. Suatu hari ketika baru pulang ke rumah, Pak Jigur mendapati Tessa sedang bermain.

Lelaki itu tidak pernah ramah. Wajahnya penuh kemurungan. Demikianlah dia tidak tersenyum saat melihat anaknya bermain, sesuatu yang tidak seharusnya dia lakukan; atau saya terlalu berharap lebih? 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Saya selalu berpikir (atau berharap?), seorang ayah selalu dekat dengan anak perempuannya. Paling tidak dalam Novel Romo Mangun “Burung-burung Rantau” hal tersebut digambarkan. Marineti Dianwidhi begitu dekat dengan ayahnya. Ayahnya adalah seorang Jenderal bernama Wiranto. Ya, Jenderal. 

Sesuatu yang oleh orde baru dicitrakan begitu sangar dan membekas dalam ingatan anak-anak dari generasi itu: tentara itu kejam. Tetapi Wiranto begitu baik pada anak perempuannya. Saya tidak akan bilang Y. B. Mangunwijaya yang begitu baik melukiskannya karena saya sedang membahas dunia cerita, lepas dari tangan penciptanya. 

Tentang ayah yang begitu baik dengan anaknya juga dapat kita lihat dalam begitu banyak cerita termasuk Sam yang kerja otaknya tidak sempurna begitu menyayangi anak perempuannya yang bernama Lucy dalam hebat “I Am Sam” (2001: New Line Cinema). Tetapi Pak Jigur tidak demikian. Komunikasi dengan anaknya terjadi justru atas inisiatif gadis kecil itu.

Baca juga: Jika KPI Tidak Mampu, Televisi Tidak Mau, Siapkan Sensor Pribadi

Di panggung, Pak Jigur sedang duduk di ruang tamu. Baru pulang berjudi tampaknya. Anaknya masuk, Jigur tidak memerhatikannya sedikit pun. Sibuk membaca koran. 

Tessa yang mulai bicara: “Pa, Pa, tadi Romo ke sini, mencari Bapa. Tetapi Bapa tidak ada, makanya Romo tidak lama. Tessa senang deh, Romo datang. Tadi Romo cipika cipiki dengan Tessa dan Mama.” Cipika cipiki = cium pipi kanan, cium pipi kiri. Dalam naskah tersebut ditampilkan sebagai bentuk salam pada orang-orang dekat. 
Dari sanalah berawal dugaan saya pada benang-benang bernama prasangka menjadi mayoritas dalam hidup Pak Jigur. Berbekal cerita tentang cipika cipiki itu, Jigur memarahi istrinya, memarahi pastornya, memarahi hidupnya sendiri. Betapa prasangka bisa muncul dari sebuah tuturan kecil gadis kecil yang sedang senang bercerita. 
Mestilah ini tentang sudut pandang membaca informasi. Bagaimana tidak, hal ikhwal prasangka itu muncul adalah karena skemata yang tidak sama tentang cipika cipiki, Tessa dengan Jigur. Seorang pastor yang men-cipika cipiki seorang perempuan adalah pertanda sesuatu ‘yang lain’ telah atau sedang terjadi, demikian kira-kira Jigur bergumul dengan pikirannya sendiri. Lalu prasangka membesar dalam diam. Diam menyuburkan prasangka. 
Pada bagian akhir cerita, di pengadilan, Romo divonis bersalah atas kematian Ibu Linda. Mama Tessa ini dibunuh di kamar tidurnya sendiri. Oleh Pak Jigur. Atas dasar prasangka. Prasangka membuat seseorang membunuh istrinya sendiri dan memenjarakan pastornya dengan pisau yang sama.

Baca juga: Saya dan Panggung Kecil yang Manis

Mengapa pastor yang dipenjara? Karena ketika melakukan pembunuhan, Pak Jigur mengenakan jubah yang dicurinya dari pastoran. Skenario Jigur dalam skenario Romo Edy Menori tersebut mungkin begini: Sekali merengkuh dayung dua tiga pulau terlampaui, sekali membunuh dua tiga orang menjadi korban. 

Naskah ini dipentaskan di Aula Assumpta pada masa prapaskah tahun 2014 lalu. Melalui OMK Lumen Gratiae, saya menyuguhkan cerita ini di panggung setelah sekian lama mendekam dalam naskah. Beberapa komunitas pernah mementaskannya sejak pertama kali Rahasia Pengakuan diciptakan.
Ketika menulis catatan ini saya tidak sedang bicara tentang rahasia pengakuan itu sendiri. Dalam Gereja Katolik, semua orang tahu bahwa seorang Imam tidak akan pernah membocorkan rahasia pengakuan umatnya. Cerita Romery menegaskan itu dalam dramatisasi yang baik. Tetapi saya tidak sedang membahas tentang naskahnya. 
Saya hanya mengenang Jigur, yang hidup dengan benang-benang prasangka yang tidak terbahasakan dan lalu disampaikan lewat pisau yang berlumur darah istrinya sendiri. Prasangka yang disemai dalam diam akan tumbuh menjadi pisau. 
Tentang pisau, saya, entah untuk apa tiba-tiba mengingat puisi Sapardi Djoko Damono “Kami Bertiga”. dalam kamar ini kami bertiga:/ aku, pisau dan kata –/ kalian tahu, pisau barulah pisau kalau ada darah di matanya/ tak peduli darahku atau darah kata// Sebuah puisi yang mungkin lahir dari kegelisahan.

Dalam kasus Jigur, Linda dan Romo, pisau akhirnya menjadi pisau saat di matanya ada darah Ibu Linda. Hadir dari prasangka yang tidak terbahasakan dalam tanya. 

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Saya lalu ingat pada beberapa kesempatan dalam hidup pernah mengenakan jalinan benang-benang prasangka sebagai pelindung tubuh. Hasilnya? Betapa susah hidup dengan baju demikian. Diam hanya mengetatkan ikatannya dan membuat sesak napas diam sesungguhnya hanya mendorong pencarian pada pisau. Dan pisau-barulah pisa kalau ada darah di matanya. 

Ah… di kesempatan lain saya ingat tentang adagium: Lidah memang tak bertulang tetapi sesungguhnya bisa tajam seperti pisau. Kata-kata kadang meminta darah, mungkin.
Mungkin?
Mungkin!
Mungkin baik membahasakan apa pun yang kita pikirkan dalam bentuk pertanyaan yang wajar. Apalagi jika informasi itu kita dengar dari Tessa, seorang anak kecil yang menyampaikan cerita tanpa maksud-maksud lain.

Baca juga: Gratitude Box – Beberapa Langkah

Bertanya dengan wajar maksudnya tidak tendensius, tanpa prasangka. Karena jika sedang bertanya dengan prasangka, penjelasan sebaik apapun mungkin adalah sia-sia belaka. Beruntung memang bahwa Jigur hanya ada di dunia cerita sebagai lelaki pada sebuah panggung. 

Setelah menulis ini saya mesti berusaha untuk tidak tendensius ketika bertanya. Termasuk ketika menulis ini saya tidak tendensius, maka demikian seharusnya tulisan ini dibaca. Misalnya tiba-tiba kita teringat pada peristiwa lain setelah selesai membaca ini, marilah menerimanya sebagai kemerdekaan individu memberi terjemahan pada teks dan bukan pada saya yang menulisnya.

Sesungguhnya saya hanya mengenang Pak Jigur pada sebuah panggung. Lelaki pada sebuah panggung yang enggan bertanya dengan wajar, lalu menghakimi dengan pisau. 

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores 
Pada masa Prapaskah tanpa prasangka
Tulisan ini pernah disiarkan di Buletin Swardika, diterbitkan oleh Paroki Katedral Ruteng.

Tanggapan Anda?

Scroll to Top