Narasi Tubuh dalam Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari

Tidak ada yang menyangkal bahwa Ahmad Tohari adalah tokoh penting sastra Indonesia. Produktivitasnya sangat mengagumkan. Ratusan cerpen dihasilkan dan novel-novelnya beredar luas. Karyanya yang paling penting adalah Ronggeng Dukuh Paruk

seksualitas ronggeng dukuh paruk ahmad tohari
Yoan Veliska Lambo

Seksualitas Ronggeng Dukuh Paruk Ahmad Tohari

Novel tersebut telah difilmkan. Diangkat ke layar lebar tahun 2014 dalam judul “Sang Penari” dan juga menuai sukses. Kelompok baca di Ruteng, Petra Book Club membaca kembali novel tersebut dan membahasnya pada diskusi bulanan di Taman Baca LG Corner Ruteng tanggal 18 Mei 2014. 
Meski banyak yang menghubungkan novel ini dengan kejadian 1965–masa gelap Indonesia dan ideologi, namun salah seorang anggota Petra Book Club memutuskan untuk membaca novel Ronggeng Dukuh Paruk dari sudut yang lain; seksualitas. Berikut hasil bacaannya.

Seksualitas Sebagai Kepercayaan, Kebudayaan, dan Aturan Hidup


Oleh: Yoan Veliska Lambo

“Ronggeng itu bukan cuma perkara nari, tetapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur.” Sengaja saya awali resepsi ini dengan kutipan menarik dari Nyai Kartareja; kutipan yang mewakili pola pikir dan perilaku warga Dukuh Paruk yang merupakan manifestasi dari budaya yang mengakar dan sudah diterima sebagai aturan hidup.

Kiblatnya adalah Ki Sacamenggala, sesepuh pendiri Dusun Dukuh Paruk. Mereka memuja dengan melakukan persembahan sesaji di makam sang leluhur. Konon, Ki Sacamenggala pulalah yang memberikan wasiat agar budaya ronggeng tetap lestari di Dukuh Paruk. 

Sungguh di luar batas pemikiran logis tetapi itulah yang terjadi di Dukuh Paruk, di mana kebodohan dan kemiskinan merajalela. Sebuah kampung yang terkenal dengan seloroh cabul. Sumpah serapah. Dan ronggengnya. 

Ronggeng adalah penari dan penembang tradisional yang tidak hanya menarik bayaran tinggu untuk pentasnya tetapi juga untuk jasa seksualnya. Untuk menjadi ronggeng pun seorang gadis harus diyakini telah dimasuki roh indang ronggeng. 

Entah apa yang menandakan seorang gadis telah dimasuki roh indang. Hanya karena dia bisa menari atau menembang? Padahal… nyanyi atau gerak tubuh kan bisa jadi gerak refleks seseorang kalau memang dia punya sense of music. Tetapi itulah Dukuh Paruk: kepercayaan akan takhayul menjadi bagian hidup mereka. 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
BACA JUGA
Puasa Ini Saya Ingat Latung Bombo

Masyarakat yakin bahwa ronggeng dengan segala tetek bengeknya sudah menjadi budaya. Berbeda dengan status perempuan penghibur pada umumnya, ronggeng tidak menimbulkan kecemburuan perempuan Dukuh Paruk. Bahkan perempuan-perempuan itu berlomba-lomba memanjakan Srintil, Sang Ronggeng.

Makin lama seorang suami bertayub dengan ronggeng, makin bangga pula istrinya. Perempuan semacam ini puas karena diketahui umum bahwa suaminya seorang lelaki jantan; baik uang maupun birahi (bdk. hal. 39). Ada kebanggaan status sosial jika suaminya berhasil menggendak seorang ronggeng. 

Baca juga: Seniman dari Manggarai

Saya tidak bisa membayangkan jika budaya seperti itu masih berlaku di masa sekarang. Atau jangan-jangan masih ada yang punya budaya seperti itu? Bahkan untuk para suami yang istrinya sedang hamil, orang-orang Dukuh Paruk akan berkata: “Jangan dulu ganggu istrimu, kalau ingin mintalah saja pada Srintil.” Saya tidak tahu, itu budaya atau masyarakatnya memang benar-benar bodoh. 

(Mengutip novel) Dulu Srintil percaya bahwa ronggeng lebih unggul karena tiadanya tertib susila, sehingga wilayah penghayatannya adalah kelelakian secara umum, bukan kelelakian dalam diri seorang lelaki tertentu. Karena itu Srintil yakin menjadi seorang ronggeng lebih terhormat daripada perempuan somahan. 
Namun akhirnya Srintil mulai merasa jenuh menjadi seorang ronggeng dukuh paruk, sering menolak untuk melayani para lelaki. Bahkan beberapa kali menolak meronggeng. Di sini bisa dikatakan Srintil mengalami krisis identitas, antara menjadi ronggeng atau menjadi wanita biasa yang bisa memiliki suami dan anak. 
Baca juga: Waktu itu Lama atau Singkat?

Ronggeng sebagai kepercayaan dan budaya masyarakat membuat Sang Ronggeng memiliki dua status yaitu sebagai wanita suci pembawa mandat wasiat leluhur sekaligus sebagai wanita penghibur.

BACA JUGA
Gereja dan Kontroversi Option for The Poor
Novel ini secara keseluruhan sangat menarik. Baru pertama kali saya membaca novel Ahmad Tohari dan langsung tertarik ingin membaca karyanya yang lain. Ahmad Tohari bisa menceritakan hal yang sangat kompleks dengan sangat baik, membuat pembaca terhanyut dengan isi cerita. Tiap kalimatnya sangat bagus, seperti puisi.

Saya sampai terkagum-kagum dengan bagaimana Ahmad Tohari bisa menggambarkan keadaan alam, cuaca dan suasana dengan sangat detail dalam kalimat yang bagus. Saya penasaran bagian mana dari Novel ini yang dulu disensor (ini tentang kalimat yang ditulis di cover belakang pada edisi baru novel ini), karena isinya masih wajar-wajar saja. 

Sekian ulasan singkat saya tentang Novel: Ronggeng Dukuh Paruk. Meski tidak menggambarkan isi novel secara keseluruhan, tetapi telah memuat hal-hal yang menarik perhatian saya.
Salam
Yoan Veliska Lambo | 
Anggota Petra Book Club Ruteng. Seorang pencinta buku, menggemari Harry Potter dan Novel-novel Agatha Christie. Jatuh cinta pada Ahmad Tohari setelah membaca Ronggeng Dukuh Paruk yang diberinya bintang lima.

Tulisan ini adalah satu dari dua esai yang dibacakan pada diskusi novel ini oleh Petra Book Club Ruteng. Esai lainnya ditulis oleh Dr. Fransiska Widyawati, M.Hum, anggota Petra Book Club, Dosen di STKIP St. Paulus Ruteng.

    Bagikan ke:

    2 Comments

    Leave a Reply

    Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *