Harga Manusia Ditentukan Bersama

Harga diri. Pernah tahu tentang itu? Pasti pernah dengar. Ini bukan tentang harga otak. Tetapi harga diri. Mahkluk apa gerangan harga diri itu? Lalu harga manusia? 

harga manusia ditentukan bersama
Harga | Foto: Frans Joseph, Ruteng

Harga Manusia Ditentukan Bersama

Judul tulisan ini sama sekali tidak berhubungan dengan harga jual manusia seperti yang kerap kita dengar sebagai persoalan klasik NTT dengan Malaysia.
Harga diri sejauh ini adalah konsep yang dibangun oleh diri pribadi tentang nilai dirinya di mata lingkungan pergaulan atau lingkungan sosial. Harga diri juga adalah sesuatu yang diperjuangkan. Semakin banyak melakukan hal baik, konon harga diri seseorang menjadi lebih tinggi.
Benar atau tidaknya konsep ini tentu saja sangat terbuka untuk diperdebatkan. Tetapi yang menarik adalah, bahwa kemudian harga diri buat sebagian orang adalah hal yang–mengutip Syahrini–sesuatu banget
Karena harga diri itu ‘sesuatu banget’, banyak yang kemudian tersinggung seberat-beratnya karena merasa harga dirinya diinjak-injak. Term diinjak-injak saya ambil dari beberapa teman yang terlihat sangat marah karena merasa diperlakukan dengan tidak hormat. 
“Kalau begini caranya, sama saja dengan menginjak harga diri saya, dan saya tidak terima!” tutur mereka berapi-api untuk masalah yang terlihat sepele; seperti dia mendapat tempat duduk paling belakang di sebuah pesta padahal orang yang menurutnya ‘lebih kecil’ dari dia yang lain yang dipersilahkan duduk di barisan depan dan terhormat. 
Benarkah harga dirinya diinjak? Hemat saya, harga diri bukan sesuatu yang diperjuangkan sendiri; diri kita tidak dihargai berdasarkan apa yang kita mau, tetapi berdasarkan harapan masyarakat tentang kita. Ini dunia konsensus, semuanya sepakat untuk sepakat atau tidak sepakat atas sesuatu. 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
BACA JUGA
Surat Gembala Prapaskah Paskah 2017 Uskup Ruteng Bagian 3

Dalam penjelasan lain, nilai seseorang tidak ditentukan oleh dirinya sendiri tetapi oleh kesepakatan orang-orang di sekitarnya. Maka meski kita merasa harga kita tinggi tetapi masyarakat tidak sepakat, maka rendahlah nilai jual kita. 

Bagaimana cara masyarakat menentukan harga manusia? Namanya harapan. Harga tinggi akan diberikan kepada seseorang jika mampu bertindak sesuai dengan harapan masyarakat. 
Saya tiba-tiba ingat pada sebuah kisah lama tentang seorang tokoh yang dipandang sebagai figur tauladan oleh masyarakatnya atas sikap dan tutur bahasanya yang menghidupkan. Dia idola, dia panutan, bahkan sebagian merasa dia tujuan. Hingga suatu saat, dia makan ketika yang lain sedang berpuasa. Dia serentak ditinggalkan. Apa yang dia lakukan, tidak sesuai dengan ekspektasi sosial. 
Saya juga tiba-tiba ingat pemimpin kami, beberapa orang di masa lalu sempat memujanya. Satria piningit, kata mereka setengah berbisik tentang dia. Tetapi dia tak lagi sesuai harapan, maka seekor kerbaupun diarak, sebuah simbol bahwa harganya tidak lebih dari itu.

Maka demikianlah, hari ini, kita tak punya hak menentukan harga atas diri kita. Yang tersisa hanya kewajiban berbuat agar harga yang kita inginkan atas diri kita disetujui mereka. Kebebasan individu menjadi terbatas dalam ruang sosial. Manusia adalah makhluk sosial! Harga manusia ditentukan bersama. So Sial! 

Salam 
Armin Bell 
Ruteng Flores, 20 Oktober 2011
Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *