Gereja dan Kontroversi Option for The Poor

Dalam perjalanannya yang panjang, Gereja (baca: institusi gereja Katolik) telah melalui sangat banyak situasi. Salah satunya adalah pertanyaan apakah option for the poor benar-benar dijiwai dan bagaimana umat melihat sikap itu. 

gereja dan kontroversi option for the poor
Gereja St. Yosef (Katedral Lama) Ruteng, Manggarai | Foto: Armin Bell

Gereja dan Kontroversi Option for The Poor

Setahun silam, linimasa media sosial saya ramai oleh perbincangan tentang duabelas orang Uskup di Indonesia yang menghadiri upacara penerimaan sakramen pernikahan sebuah keluarga muda di Jakarta. Hal-hal yang mengemuka dalam topik itu adalah betapa para Uskup yang adalah pemimpin Gereja Lokal di wilayahnya masing-masing memilih mengutamakan pernikahan pengusaha kaya daripada bergumul dengan penderitaan umatnya.
Tesis dari para pengemuka pendapat adalah karena para uskup lebih sering terlihat hadir di pernikahan orang kaya ketimbang menerimakan sakramen pada keluarga miskin. Pendapat demikian disampaikan dengan menghadirkan beberapa fakta personal tentang bagaimana sulitnya ‘keluarga biasa-biasa saja’ mengakses kesempatan menerima sakramen dari seorang Uskup. 
Dengan dasar pandangan sesederhana itu, tuduhan bahwa para pemuka agama tidak lagi memilih option for the poor sebagai sikap utama kemudian menjadi viral. Dilengkapi pula dengan pertanyaan tentang spiritualitas apa yang dianut oleh para pembesar gereja saat ini ketika ajaran utama Yesus Kristus agar berpihak pada kaum papa diabaikan.
Saya agak jengah dengan perbincangan tersebut ketika itu dan masih tetap terheran-heran sampai saat ini. Saya pikir soal utama yang baik untuk dipikirkan orang-orang Katolik adalah apakah masih setia ke Gereja. Soal siapa memimpin misa, siapa hadir di pernikahan siapa, adalah soal yang sangat kemudian.
Tetapi akan selalu terdengar kalimat begini: Bagaimana kami bisa setia kalau mereka begitu? ‘Mereka’ tentu saja adalah kata ganti untuk para pemimpin gereja yang seolah hidup bergelimang kemewahan. Pertanyaan dengan nada demikian lalu diulang-ulang seolah hal utama dalam kehidupan menggereja adalah perilaku para pemimpinnya. Hemat saya, soal utama kita sesungguhnya adalah apakah kita (baca: seluruh umat) masih menjadi Gereja–Tubuh Mistik Kristus.
Sikap saya ketika linimasa penuh dengan perdebatan tentang option for the poor yang disederhanakan sebagai kalau orang miskin undang seorang uskup harus hadir, sesungguhnya sama dengan pertanyaan beberapa sahabat lain yang cenderung mengabaikan (sebut saja) kontroversi kehadiran duabelas Uskup pada perayaan pernikahan di Jakarta itu.

BACA JUGA
Surat Gembala Prapaskah Paskah 2017 Uskup Ruteng Bagian 3

Pertanyaan bodoh yang saya kemukakan saat itu adalah: “Apakah ketika Uskup tidak hadir pada pernikahan saya, pernikahan itu menjadi tidak cukup berkat?”

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Tentang perilaku umat yang begitu bergantung pada figur tertentu–selain Yesus Kristus sendiri, maka kita lantas menjadi maklum mengapa ada banyak orang yang menjadi malas bekerja karena pemimpin perusahaannya malas. Menurut saya ini pilihan bersikap yang aneh. Sederhananya begini: Kalau pemimpin perusahaan terlihat malas, tentu saja karena dia sudah punya perusahaan yang dibangunnya dengan keringat dan darah. Kini dia berhak lebih santai. 


Lha, kalau kita yang karyawan ikut-ikutan malas? Bisa dipecat lho. Apakah saya menjadi kapitalis yang mendadak mendukung ‘usaha membunuh buruh’? Bukan. Hanya berusaha realistis; orang-orang berhak menentukan etos kerjanya sendiri tanpa dipengaruhi oleh sikap siapa pun. Silakan ganti etos kerja dengan cara beriman!
Kembali ke topik semula. Rasanya saat itu terlalu energi yang dihabiskan hanya untuk membahas pantas tidaknya duabelas orang Uskup hadir di sebuah pernikahan. Kita bertanya mengapa mereka tidak hadir sebanyak itu di pernikahan lain–yang kita sebut pernikahan orang miskin, dengan dalil utama bahwa semua sama di hadapan Tuhan. Ehm… kalau pakai dalil begitu, ijinkan saya mengajukan pertanyaan ini: sudah buat apa untuk orang miskin yang kerap kita atasnamai dalam setiap kritik kita? 
Sebagai jawaban atas kritik keras pada duabelas Uskup di pesta pernikahan itu, sehari kemudian diceritakan beberapa alasan para uskup merasa penting menghadiri pernikahan itu. Jawaban itu kira-kira berarti demikian: pertama, mereka diundang, dan kedua, yang mengundang adalah orangtua pengantin yang selama ini sering membantu kegiatan-kegiatan di gereja lokal tempat para uskup itu berkarya. Masih bertanya tentang spiritualitas? Kita akan melingkar-lingkar saja, saya duga. 
Saya pernah agak tidak enak hati pada seorang aktivis yang sedang santai di sebuah cafe. Dia memesan minuman yang mahal, menikmatinya sembari merancang proposal untuk membantu orang-orang miskin di suatu kampung.

BACA JUGA
Hamka, Cinta Kami Sering Kandas

Baca juga: Mimpi-mimpi yang Menepuk Pundak

Beberapa bulan sebelumnya dia juga ikut membantu advokasi para petani yang menderita dan ditindas di kampung yang lain. Mengapa saya tidak enak hati? Entahlah. Dunia toh tidak harus selalu dipandang hitam putih. Ini Februari, bulan penuh cinta. Apakah ada defisininya?

Option for the poor juga barangkali tidak harus berarti kau tidak boleh mampir di cafe dan baca buku-buku filsafat di sana sambil sesekali belajar menulis proposal.

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores
Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *