“Angkatlah Batu Itu!”, Renungan Tobat RD Lian Angkur

RD Lian Angkur dalam renungan tobatnya kali ini merefleksi kisah Lazarus yang dibangkitkan; tentang usaha menjernihkan cara pandang atau keyakinan kita terhadap kematian. Selamat menikmati!

angkatlah batu itu renungan tobat rd lian angkur
RD Lian Angkur saat memimpin Misa di Katedral Ruteng, Manggarai | Foto: Dok Pribadi

“Angkatlah Batu Itu!”, Renungan Tobat RD Lian Angkur

Saudara-saudari seiman yang terkasih. Renungan kita kali ini bertolak dari perikop Yohanes 11:1-45. Dalam perikop ini terdapat salah satu sosok yang menarik perhatian kita, yaitu Lazarus, saudara Marta dan Maria.

Arti nama Lazarus: Tuhan adalah pertolonganku

Ia meninggal. Setibanya di dekat kubur Lazarus, Yesus bersabda, mengeluarkan dua perintah, “Angkatlah batu itu!” dan “Lazarus, marilah keluar!” Saat itu juga Lazarus keluar dari kubur dan hidup kembali. Yesus membangkitkan Lazarus. Ini mukjizat yang sangat besar tentunya.

Menariknya, peristiwa ini menjadi momen atau kesempatan emas bagi Yesus untuk memperkenalkan diriNya. Tidak saja untuk menunjukkan diriNya sebagai pribadi yang murah hati dengan menolong-menghibur Marta dan Maria, tetapi lebih dari itu, dengan membangkitkan Lazarus, Yesus sedang memperkenalkan siapakah Ia sesungguhnya.

“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepadaKu, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”

Sekali lagi mukjizat ini mau menyatakan kemuliaan, keagungan, dan kuasa Allah, Tuhan atas orang hidup dan mati.

Tentu saja hal ini kembali menguatkan, menyegarkan, sekaligus menjernihkan cara pandang atau keyakinan kita terhadap kematian. Dalam iman, kematian bukan lagi sesuatu yang menakutkan, bukan sebuah kebinasaan atau kehancuran, tetapi saat bagi seseorang mengalami hidup baru bersama Allah; kesempatan untuk mengalami cinta kasih Bapa yang lebih dalam.

Seorang saksi iman, Rabindranat Tagore mengatakan, “Kematian itu tidak memadamkan cahaya, tetapi hanya mematikan lampu, karena fajar pagi telah datang.” Semua orang yang percaya akan dibangkitkan dan mengalami-menikmati fajar hidup baru itu. Kuasa Tuhan memungkinkan semuanya itu terjadi.

BACA JUGA
Apresiasi Dinikmati atau Dilawan?
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Baca juga: Bougenville Pada Sebuah Perjalanan

Bagi kita saat ini, peristiwa kematian dan kebangkitan Lazarus tidak berhenti pada perkara kematian dan kebangkitan fisik-jasmani, tetapi juga menyinggung soal kematian dan kebangkitan rohani yang dialami oleh manusia pada umumnya. Seperti apa persisnya bentuk kematian rohani itu?

Ada yang mati gairah hidupnya, yang putus asa, kehilangan harapan, dan yang lebih parah lagi, mati nurani. Dalam bahasa Rasul Paulus kepada jemaat di Roma (8:8), kematian rohani itu identik dengan hidup menurut keinginan daging. Gejala lain: hilangnya rasa bersalah-rasa berdosa, matinya budaya malu, sulit berdamai, menyimpan dendam, tidak setia, tidak jujur, tidak bertanggung jawab, tidak peka-peduli terhadap sesama, enggan untuk menolong-berbagi, dan sebagainya.

Cepat atau lambat, semua bentuk kematian itu menggiring seseorang untuk lebih awal berada di dalam kubur dosa.

Bagaimana dengan kita? Adakah bagian yang sudah mati dalam diri kita saat ini? Jika masih ada, mari kita membiarkan Yesus menolong, membangkitkan, menghidupkan kembali apa yang mati itu. Yesus meminta kita: “Angkatlah batu itu!”

Baca juga: Orang Manggarai Harus Tahu tentang Pekosamaraga

Mungkin batu kesombongan, batu ketidakjujuran, batu masa bodoh, batu ketamakan, batu ingat diri, batu iri hati, batu cemburu, batu kebencian, batu dendam, batu kemunafikan, dan batu-batu lainnya.

Akhirnya, setelah mengangkat batu-batu penutup kubur dosa tadi, mari kita membiarkan cahaya Yesus masuk menyinari semua yang gelap dalam diri kita. Setiap saat Tuhan sedang memanggil kita keluar dari kubur dosa dan memulihkan diri kita, sebab kuasaNya tak terbatas. Yakinlah, mukjizat Tuhan selalu terjadi dalam diri setiap orang yang sungguh percaya dan berserah pada kuasaNya.

BACA JUGA
Hidup adalah Sebuah Jalan Salib, Tapi Tak Perlu Takut!

RD Lian Angkur |
Berkarya di Paroki Katedral Ruteng dan menjadi moderator OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng, Manggarai.

Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *