Naskah Drama Musikal “Ombeng” (Babak Tiga)

Tahun 2016 silam, Komunitas Saeh Go Lino Ruteng bersama Komisi Kepemudaan Keuskupan Ruteng menggelar pentas drama musikal berjudul “Ombeng”. Blog ranalino.co menyajikan secara bersambung naskah drama tersebut. Selamat menikmati Ombeng babak tiga ini.

naskah drama musikal ombeng babak tiga
Ini contoh hal yang kami pelajari dari internet | Foto: Frans Joseph, Ruteng

Naskah Drama Musikal “Ombeng” (Babak Tiga)

Oleh: Armin Bell

(Layar dibuka)
Seorang Ibu (Istri) sedang menyapu ruangan. Seorang pemuda masuk. Membisikkan sesuatu kepadanya. Setelah pemuda itu pergi, Ibu menatap suaminya yang berdiri tak jauh dari situ. Seperti hendak menyampaikan sesuatu tetapi kemudian menjerit. Meratap. Suami sempat menahan pemuda itu, yang lantas membisikkan hal yang sama.
Istri:
Ea e.. a.. e o…. wua tuka ge, emas mongko ge. Co’o tara nenggo’om gauk’m e… a.. e.. a. Daria anak molas di’a, reme uwa’m ta, manga kaut wua tuka’m ga. Oke sekola… co’o mose diang’m ga… ea.. e… a… o. (Buah hatiku, permataku. Mengapa engkau begitu. Daria, anak gadisku, masih muda engkau, telah mengandung. Sekolahmu… hidupmu pada esok hari… entah bagaimana…)
Ratapan Istri ditingkah amarah suaminya dalam rupa gerak. Cahaya lampu panggung samar. Baru dinyalakan penuh pada pertengahan lagu ketika si Ibu bersimpuh telah di tengah panggung sedang suaminya duduk di tempat yang agak jauh di kiri panggung, Setelah ratapan selesai, sang suami bergerak mendekat.
Suami:
Woko tenang kole laku, toe keta manga ata daat’n gauk daku latang tana, awang, agu hae ata (Saya pikir, tak ada satu pun sikapku yang salah, pada bumi, pada langit, pada sesama). Betapa seluruh hidup telah benar saya abdikan benar untuk sepenuh-penuhnya kebaikan. Nggitu kole hau, istriku, kekasih jiwaku. Jurak apa keta ho’o. Anak inewai dite… (Begitu juga dirimu, Istriku, kekasih jiwaku. Entah hukuman/bala apa yang sedang menimpa. Anak gadis kita…)
Istri:
(Memotong) Deee… Bapa… asi koe tombo kole’n. (Bapa… sudah. Jangan katakan itu lagi). Saya sedang berusaha melupakannya. Sakit, Bapa. Betapa sakit. Bagai tak ada lagi yang dapat lebih sakit. Do keta nuk’g danong latang hia (Betapa banyak mimpiku tentangnya). Tentang cita-cita, cala ngance koe jadi bidan (Mungkin bisa jadi bidan). Co’o y ga? Bagaimana itu bisa terjadi? Sedang dia sudah mengandung.
Suami:
 Am sala dite… (Mungkinkah ini salah kita…)
Istri:
Itu yang akan mereka pikirkan. Hitu ata pandè mendo’n daku nai (Itulah yang membuat hatiku merasa lebih berbeban berat). Air cucuran atap, jatuhnya ke pelimbahan juga. Orang-orang telah banyak mengenal peribahasa itu dan akan dengan mudah melimpahkan kesalahan, -kalau bukan mencari-cari kesalahan kita pada peristiwa ini-. Anak gadis kita hamil dan mereka menyalahkan kita, bahkan masa lalu kita. 
Suami:
Betapa kita telah hidup di dunia tempat semua orang dapat dengan mudah menjadi hakim atas yang lain. Co’o molè y? Pola kaut ditè panggol mendo ho’o ga (Harus bagaimana? Kita harus memikul salib berat ini).
Istri:
Ea e.. a.. e o…. wua tuka ge, emas mongko ge. Co’o tara nenggo’om gauk’m e… a.. e.. a. (Beberapa saat kemudian Bapa Tua masuk, ratapan berubah menjadi keluhan) Daria anak molas’g ta, ole Ema Tua ge, manga kaut wua tuka’n e. Oke sekola… co’o mose diang’n ge… ea.. e… a… o
Bapa Tua:
(Menenangkan) Sudah… sudah… Poli laku denge’n ga (Saya sudah dengar). Peristiwa ini memang akan meninggalkan luka. 
Suami:
Tapi kenapa? Apa salah kami?
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});
Bapa Tua:
Kesalahan terutama adalah karena kita orang tua selalu menyalahkan diri sendiri atas hal-hal buruk yang menimpa generasi kita. Itu salah. Kesalahan lain adalah–kalau mau disebut kesalahan–karena kita tak banyak melibatkan mereka dalam berbagai hal. Toe dade’s lite ise one sangge’d tombo adak (Kita tidak mengajar mereka pada acara-acara adat). Membiarkan mereka tumbuh sendiri. Co’o kong bae’n lise pede dise ende, serong dise empo (Bagaimana mereka tahu pesan dan ajaran para pendahulu/leluhur)?
Istri:
Ema Tu’a, toe danga lut laku nuk dite hio’t pertama’n (Bapa Tua, saya tidak bisa ikuti arah pembicaraan Bapa yang pertama). Salah karena menyalahkan diri sendiri. Maksud’n lite?
Bapa Tua:
Akan saya jelaskan. Tetapi sebelumnya, baiklah saya ceritakan dahulu bagaimana kisah cinta mereka bermula. (jeda) Saya pernah meminta mereka menari…
Intro “Mai Sae – Illo Djeer” dimulai. Bapa Tua menyanyikan lagi ini sampai selesai. Suami dan Istri bergerak ke pinggir panggung. Setelah lagu, semua kembali ke posisi awal. Bapa Tua mulai berkisah lagi.
Bapa Tua: 
Jadi begitu. Usai menari, mereka saling jatuh cinta. Setelahnya, dibiarkan tumbuh begitu saja. Mereka berdua; anak perempuanmu dan kekasihnya. Karena kita tahu mereka telah tumbuh dewasa, demikianlah mereka boleh menentukan sendiri kisahnya. Jadi, toe sala hanang meu. Toe sala hanang aku. Am sala de sanggè’n lawa. Ai toè toto cama di’an adak ditè onè isè’t uwa. Toè kong baè lisè pedè disè Endè, mbatè disè Amè, serong disè Empo (Jadi, bukan hanya salah kalian sebagai orang tua. Mungkin salah semua orang. Kita tak menunjukkan betapa indah adat istiadat kita kepada orang muda. Akibatnya mereka tidak tahu pesan-pesan para leluhur). 
Suami:
(Menggerutu. Seperti bicara untuk diri sendiri) Dan kita membiarkan anak-anak kita dididik televisi.
Istri:
Emè apa’h. Sala de televisi kole ga (Nah… itu. Sekarang kau salahkan televisi). Mereka sendiri yang tidak mau terlibat dalam setiap acara adat. Mereka tidak betah duduk bersama kita. Kita bisa apa?
Bapa Tua:
Ada benarnya, Enu, Haè kilo ditè (Suamimu). Kita mungkin lalai. Bukan hanya televisi… 
(Saat itu Pemuda 4 masuk, seolah tanpa sengaja, lalu terkejut melihat tiga orang tua sedang bicara, bergegas hendak ke luar panggung, dihentikan langkahnya oleh panggilan Bapa Tua). 
Bapa Tua:
Nana, mai (Kemarilah). Ada satu hal yang mau saya tanyakan. Mèu’t uwa weru ho’o. Nia mai dapat informasi’s (Kalian generasi muda. Dari mana kalian peroleh berbagai informasi)? 
Pemuda 4:
Dari televisi, Ema.
Bapa Tua:
Selain televisi ta, Ganteng. (menjewer)
Pemuda 4:
Internet, Ema. In.. terrr… nedddd. Internet. Di internet kami bisa temukan apa saja saat kalian semua sedang sibuk saling menyalahkan. 
Bapa Tua:
Internet? Apa lagi itu? Saya hanya tahu telepon interlokal dan biskuit interbis. Tapi… internet? Apa misalnya yang kalian pelajari di internet itu?
Pemuda 4:
Yakin, mau lihat?
Bapa Tua:
(Mengangguk)
Pemuda 4:
Mau tau, atau mau tau banget?
Istri:
Eèèèè, hi Nana ho’o a. Gèlang koè toi pè. Baè le mèu susa nai dami, pandè tambang kolè susa’n le melaju de mèu hitu (Hey, anak muda. Ayo segera beritahu. Kalian telah tahu susahnya hati kami, kalian tambah lagi dengan penjelasan sulit seperti itu).
Pemuda 4:
Eme nggitu, saya minta ite agak ke pinggir, ai ngeri ho’o toong ga (karena ini akan luar biasa). This is what we learn from the internet.
Bersiul memanggil. Penari masuk. Performing modern dance. High beat! Goyangan ini dipakai untuk menjelaskan apa itu (dan apa yang dapat dipelajari dari) internet. Setelah selesai, Bapa Tua bertepuk tangan, suami dan istri terpana, heran-sedih-kecewa karena diabaikan.
Bapa Tua:
(Ikut menari. Meminta para pemuda mengulang tarian. Tampak kelelahan ketika memulai dialog) Olèèè, luar biasa. Bagus sekali internet itu sampai memberikan kamu pelajaran sebaik itu. Tetapi mengapa banyak juga di antara kalian yang berada di jalur yang salah? Karena internet juga?
Pemuda 4:
Begini, Bapa Tua. Di dunia tanpa batas ini, semua bisa dipelajari dengan mudah. Yang baik, yang setengah baik, yang agak buruk, sampai yang buruk sekali. Tanpa batas.
Pemudi 3:
Itu benar. Eta kèta ulu daku sanggè’n Itè (Dengan tidak mengurangi rasa hormat). Saya hanya bilang, betapa kalian tertinggal sangat banyak. Sehingga hanya mampu menjadi orang-orang tua yang menyesal. Merasa tidak mampu berbuat apa-apa. Merasa kaum muda tidak mau diajak terlibat dalam acara adat, merasa kami tidak mau belajar…
Pemuda 2:
(Menyambar kalimat pemudi 3)…Tetapi apakah kalian pernah berpikir tentang bagaimana kami ingin belajar? Ata te danung tombo de Weta daku ho’o (Saya hanya ingin melanjutkan pendapat saudari saya ini). Pernahkah kalian berpikir bahwa pada dunia yang bergerak maju, model transfer pengetahuan juga sebaiknya disesuaikan? Misalnya melalui media-media yang lebih modern. Internet, media sosial, atau kurikulum tambahan di sekolah.
Bapa Tua:
Nana, nèhot èta bail’n melaju hitu ga (Rasanya, itu penjelasan yang agak sulit kami jangkau). Coba sedikit disederhanakan.
Pemudi 2:
Mungkin nenggo’o y, Ema (Begini, Bapa). Bo gesar dami’t uwa lawang ho’o, am toè danga dengè’s le mèu. Emè toè ngo ami onè tombo adak, am landing le toè imbi le mèu. Toe manga’s toing agu titong sio. Ba’ang dè. Elo… dondè kèta lami dengè tombo nenggo’o: Manga kat baè le ru’s mèu cepisa ta. Kalimat hitu, Ema, nuk daku, toè danga di’an. (Selama ini banyak keluhan kami yang tidak kalian dengar. Kalau kami tidak hadir di acara adat misalnya, mungkin sebabnya adalah karena kalian tidak pernah percaya. Bayangkan. Setiap kami ingin tahu, kalian selalu bilang: “Nanti juga kalian tahu sendiri. Hemat saya, yang seperti itu tidak baik.”) Membiarkan kami belajar sendiri sedangkan medianya sudah tampak tidak menarik dan kami tidak dibiarkan masuk ke dalamnya dengan leluasa. Ai habis di seksi cuci piring agu seksi pembantaian kaut ami’t uwa. Co’o y kong nanang lami nungku’d curup situ (Bayangkan. Yang muda selalu saja menangani piring, seksi pembantaian hewan kurban, dll. Bagaimana/kapan kami bisa belajar??
Bapa Tua:
(Mengangguk). Ma’u… (Betul juga…)
Istri:
Dèèè, Ndè… co’op tara cai cè ho’on bao tombo ho’o ga? Hi Daria. Hi Daria, anak molas daku. Co’o laku pandè’n ga. Manga’g wua tuka’n. Toè di urus berkat. Hitu koè’y comong’n tombo ho’o bao (Oh, Bunda… Kenapa percakapan ini menjadi seperti ini? Ini tentang Daria. Saya harus bagaimana? Dia telah mengandung. Belum menikah. Hanya itu yang ingin saya bicarakan). (Mulai meratap lagi)  Ea e.. a.. e o…. wua tuka ge, emas mongko ge. Co’o tara nenggo’om gauk’m e… a.. e.. a. Daria anak molas di’a, reme uwa’m ta, manga kaut wua tuka’m ga. Oke sekola… co’o mose diang’m ga… ea.. e… a… o
Semua tersentak. Mendadak malu. 
Layar ditutup.

Bersambung ke Naskah Drama Musikal “Ombeng” (Babak Empat).

Baca juga:
BACA JUGA
Menanam Bambu di Ruteng Flores 1
Bagikan ke:

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *