andai dulu saya pilih kampus dan jurusan yang tepat armin bell blogger ruteng

Andai Dulu Saya Pilih Kampus dan Jurusan yang Tepat

Kuliah di mana saja, jurusan apa saja, akan biasa-biasa saja kalau yang dicari adalah ijazah. Pilih kampus yang tepat? Hmmm …


Ruteng, 16 Mei 2019

Sedang memikirkan jurusan kuliah dan kampus yang tepat? Atau sedang menyesali pilihan kuliah yang keliru? Atau sedang merenungkan betapa jauhnya jurusan kuliahmu dengan apa yang kau kerjakan sekarang?

Pertama, tulisan ini barangkali hanya akan berisi ‘omong kosong banyak’, meski sebenarnya diniatkan untuk berbagi (sebut saja) panduan memilih jurusan kuliah dan kampus yang tepat. Kedua, tidak persis berisi panduan praktis memilih jurusan di kampus—dan karenanya yang sudah selesai kuliah bertahun-tahun silam juga boleh mampir baca, catatan ini sesungguhnya lebih dari itu. Agar menjadi diskusi. Juga jadi titik sorot balik.

Begini …

Tahun ajaran baru akan segera datang. Tamatan SLTA yang beruntung karena bisa ‘lanjut kuliah’ sedang berburu brosur. Mau kuliah di mana? Pilih jurusan apa? Setelah kuliah bisa langsung kerja kah? Pacar saya kuliah di kota mana? Saya ikut ah…; dan lain sebagainya, adalah obrolan yang akan sangat sering terjadi hari-hari ke depan.

Berbagai pertimbangan harus dibicarakan. Dengan pacar, tentu saja soal: “Kita kuliah di mana, Sayang? Aku tak bisa jauh darimu!” Dengan guru, para murid akan angguk-angguk ketika mendengar penjelasan tentang masa depan dan pilihan jurusan yang (diharapkan) visioner. Dengan orang tua? Biaya! Betul. Karena kita bukan Sandiaga yang dengan mudah meraih beasiswa penuh dan bebas pilih kampus. Iya to?

Pada masa-masa seperti inilah saya ingat Guru Don dan Muder Yuliana, Bapa dan Mama saya. Yang meminta saya istirahat setahun setamat SMA, karena mereka ingin ‘tarik napas’ dulu. Tahu maksudnya, bukan? Kesulitan biaya. Itu sudah. Padahal saya sedang bersemangat sekali bersekolah ketika itu. Mau kuliah di IKJ. Atau pilih kampus sejenis itu yang kira-kira bisa membuat saya jadi seniman, penulis, atau apa saja yang pada masa itu rasanya keren sekali.

Baca juga: Aktivis Juga Manusia, Mereka Berhak Tampil Sangat Lucu

Meski menikmati masa istirahat setahun, cita-cita kuliah di kampus yang seni-seni dorang itu tidak kunjung padam. Di tengah masa istirahat itu, ketika menggebu-gebu bercerita tentang akan jadi apa saya nanti setamat sekolah kesenian, Guru Don dan Muder Yuliana mengingatkan bahwa seniman—sebagaimana yang mereka lihat zaman itu—bukan pilihan hidup yang mensejahterakan. Padahal, niat agar anak-anak bernasib lebih baik dari mereka adalah cita-cita setiap orang tua di mana saja. Juga Bapa dan Mama.

BACA JUGA
Penetrasi Digital pada Generasi Milenial dan Urgensi Pendidikan Kritis

Tetapi saya tahu, alasan lain yang enggan mereka sampaikan adalah biaya. Kampus-kampus seperti itu, berdasarkan informasi yang saya peroleh dan saya teruskan ke mereka, umumnya mahal. Mau tidak mau harus kompromi. Tahun depan bisa kuliah, tetapi pilih kampus dan kota yang biaya hidupnya ‘masuk akal’. Selamat tinggal (mimpi) Jakarta.

Saya akhirnya kuliah di Malang. Memilih jurusan yang kira-kira cukup dekat dengan dunia tulis menulis. Kuliah menulis adalah sesuatu yang saya pikir lebih masuk akal saya jadikan cita-cita karena saya takut arus listrik sehingga tidak bisa ngotot kuliah elektro, tidak akrab dengan bangun ruang untuk bisa ada di kelas teknik sipil, tidak senang dengan pembukuan sehingga harus jauh dari kampus ekonomi, dan tidak suka bau obat-obatan untuk paksadiri ambil farmasi.

Jurusan komunikasi adalah pilihan paling tepat. Bisa belajar jadi jurnalis. Kira-kira begitu hasil komprominya. Kuliah semampunya. Masuk pagi pulang siang di tahun-tahun awal, masuk siang pulang sore di tahun-tahun berikutnya, tidak masuk sama sekali di hari libur atau ketika sedang ingin meliburkan diri atau karena tak ingin bertemu mantan yang sudah punya gebetan baru.

Lalu, di pertengahan masa kuliah, semua mimpi menghilang begitu saja. Maksud saya, tujuan terutama bukan lagi visi menjadi penulis tetapi bagaimana agar segera lulus. Begitulah. Pada saat-saat tertentu, di kampus, kita merasa bosan. Pertanyaan ‘kapan lulus’ yang datang bertubi-tubi membuat kebosanan bertambah kadarnya. “Jadi saya dikirim kuliah ini supaya lulus?”

Baca juga: Lipooz dan MukaRakat dan Percakapan Tentang Para Perantau Digital

Untunglah di tengah situasi demikian, kita bisa terlibat di berbagai kegiatan di luar kampus. Yang, pada situasi pribadi, memaksa saya belajar hal lain, bertemu orang lain (juga pacar orang lain—bagian ini lebih menyenangkan), dan mau tidak mau harus membaca buku-buku lain selain buku bikinan dosen yang sedang mengejar nilai kredit atau apalah namanya. Lalu sadar, sekarang, buku-buku lain itu telah berperan sama besarnya dengan yang saya dapatkan di kelas.

BACA JUGA
Surat Gembala Uskup Ruteng Menyongsong Pemilu 14 Februari 2024

Maksud saya, andai dulu ‘kuliah saja’ dan lupa bergaul, barangkali saya akan cepat lulus dan cepat terserap di dunia kerja; yang setelah dipikir-pikir, modal dari ruang kelas saja tidak akan mampu membuat saya ‘bersaing di dunia kerja’ selain menjadi mesin. Tentu saja beberapa bagian hidup saya sekarang adalah mesin. Tetapi hanya beberapa bagian. Bagian lainnya adalah hal yang lebih menyenangkan karena boleh melakukan sesuatu selain menjadi mesin. Misalnya, dengan menjadi bloger, menulis (dan mendapat bayaran; kesenangan berlipat), dan berteman dengan banyak orang.

Di Ruteng-Manggarai, saya berteman dengan Daeng Irman dan Kaka Ited, dua orang yang saya pikir telah salah pilih kampus dan jurusan ketika kuliah. Daeng Irman menyukai fotografi dan desain grafis dan menikmati bagian hidupnya itu, Kaka Ited menyukai fotografi dan videografi, juga hidup dari dunia itu. Padahal mereka, di sisi pertama hidupnya, telah hidup dari jurusan kuliah mereka. Fyi, jurusan kuliah mereka jauh sekali dari foto, video, desain grafis. Jauh. Bukankah perikanan itu jauh dari desain grafis, Daeng?

Bagaimana bisa begitu? Ya karena begitu. Eh, maksudnya begini. Kuliah tentu saja penting. Memilih jurusan yang benar juga penting. Namun, yang tak kalah penting adalah bagaimana mengisi hari-hari kita di luar kelas (juga setelah lulus). Itu yang saya pikirkan sekarang. Maksudnya, bukankah tidak semua lulusan jurusan pendidikan itu mendapat kesempatan menjadi pengajar? Bukankah ada lulusan keperawatan yang kini kerja di bank? Bukankah ada dokter yang buka bengkel motor di Ruteng? Bukankah ada seorang guru SD yang juga seorang rapper?

Siapa saja boleh kuliah di mana saja, memilih jurusan apa saja, dengan motivasi apa saja. Tetapi jangan lupa, beberapa tahun kemudian, sebagian orang akan bekerja dari rumah saja. Menggantung toga di dinding, menyimpan ijazahnya di lemari, dan mulai menciptakan pekerjaan sendiri. Sesuatu yang barangkali akan begitu jauh dari ‘ruang kelas kita di kampus’. Di zaman saya kuliah, percakapan tentang digital nomad belum ada. Alamat e-mail saja, tidak semua mahasiswa punya. See?

BACA JUGA
Lomba Blog Exotic NTT dan Kita yang Tersesat Jauh

Bukan berarti kau tak perlu kuliah. Jika beruntung dan dibiayai kuliah, kuliahlah. Ijazah, bagaimanapun, akan sangat penting di dunia kerja formal. Tetapi misalkan peluang di dunia kerja formal itu sulit sekali diperoleh, pengalaman berinteraksi dengan orang lain ketika kuliah adalah modal lain di hari-hari mendatang.

Begini. Tulisan ini akan segera saya akhiri. Dengan buruk sekali. Sebuah nasihat. Panduan memilih jurusan ketika kuliah, yang paling pertama adalah soal biaya. Percakapkan dengan baik dengan para pemilik uang. Mampunya nanti untuk jurusan apa. Jurusan tidak elit, tidak apa-apa. Sepanjang, ketika kuliah nanti, jangan lupa bergaul, belajar sesuatu yang lain, yang barangkali adalah passion-mu tetapi tidak dapat kau paksakan kuliah di jurusan itu karena masalah biaya tadi.

Baca juga: Karena Kita Inferior, Hidup ini Menyedihkan Sekali

Menegaskan paragraf yang buruk di atas, izinkan saya bertanya: berapa banyak ijazah yang tidak terpakai, dan para pemiliknya tidak tahu harus buat apa karena mereka tidak memiliki keahlian lain selain berharap pada lembaran yang telah dilaminating itu?

Aih… catatan ini buruk sekali. Maafkan saya, Daeng Irman. Ide yang anda tawarkan kemarin itu untuk jadi bahan tulisan saya ternyata berat sekali. Tetapi terima kasih, telah mengerjakan ilustrasi untuk bacapetra.co, meski saya menggambarkan konsepnya dengan tidak jelas. Kau jago. Ited juga. Semoga kali berikut dia bawa sebotol penuh tulisan saya lebih baik lagi. Soal besok-besok kita jadi apa, hari ini kita masih terus belajar, bukan? Karena di Ruteng, asal kita mau ngobrol, semua akan baik-baik saja.

Salam dari Kedutul, Ruteng

Armin Bell

 

Bagikan ke:

4 Comments

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *