membaca norwegian wood dongeng murakami dan kritik aktivis ranalino blog armin bell

Membaca Norwegian Wood, Mendengar Dongeng Murakami dan Kritiknya bagi Para Aktivis

Haruki Murakami meraih penghargaan Hans Christian Andersen pada tahun 2016 silam. Penulis novel Norwegian Wood ini dianggap memiliki kemampuan mendongeng yang baik.


Haruki Murakami adalah salah satu penulis paling dikenal di dunia. Setiap penggemar karya sastra novel dan cerpen, jika memang tidak pernah membaca karyanya, minimal pernah mendengar seseorang bercerita atau merekomendasikan nama Haruki Murakami sebagai salah seorang pengarang yang karyanya masuk dalam kategori a must read.

Di Indonesia, tiga karya Haruki Murakami yang paling sering disebut: Kafka on the Shore, Norwegian Wood, dan 1Q81. Secara kebetulan (atau justru berhubungan sebab akibat?) tiga buku tersebut masuk dalam 10 novel terlaris karangan Haruki Murakami versi Matthew Carl Strecher, penulis yang meneliti karya-karya Murakami.

Sepuluh novel terlaris Haruki Murakami menurut penelitian Matthew adalah: A Wild Sheep Case, The Wind-Up Bird Chronicle, Hard-Boiled Wonderland and the End of the World, 1Q84, Colorless Tsukuru Tazaki and His Years of Pilgrimage, Kafka On the Shore, Hear the Wind Sing, Pinball, 1973, Norwegian Wood, dan Dance Dance Dance.

Saya berkenalan dengan Haruki Murakami melalui Norwegian Wood. Versi Indonesia novel ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (2006), sedangkan publikasi pertamanya adalah dalam bahasa Inggris pada tahun 1987.

Beberapa ulasan menyarankan judul ini sebagai gerbang jika ingin mengenal karya-karya Haruki Murakami yang lain. Pada saat yang sama, ada cukup banyak pembaca yang berkomentar bahwa versi terjemahan Indonesia ini tidak sedahsyat karya aslinya. Saya tidak terlampau paham tentang soal-soal begini, terutama karena saya belum membaca versi bahasa Inggrisnya.

Komentar pembaca lain tentang satu buku–perlakuan yang sama saya pakai ketika memulai Norwegian Wood–sama sekali tidak mengganggu kesenangan saya membaca. Spoiler, ringkasan, bahkan seluruh novel telah diceritakan kepada saya sekalipun, tidak lantas membuat saya tidak membaca novel itu. Bahkan ketika saya tahu ending-nya sekalipun.

BACA JUGA
Menabur Benih-Benih Puisi di Halaman Pondok Baca Tapo Naga

Baca juga: Cinta Sederhana di Novel Mawar Padang Ara

Saya selalu merasa, kenikmatan membaca itu sesungguhnya terjadi di sepanjang buku dan bukan tentang apakah ending-nya bikin penasaran atau tidak. Ending hanya bonus.

Maka ketika saya sedang membaca Norwegian Wood dan seorang teman membocorkan akhir novel itu, saya tidak terganggu. Lanjutkan membaca. Membacanya sekali lagi. Dua, tiga, empat kali. Setiap waktu, sensasinya berbeda.

Ketika Tenggelamnya Kapal Van der Wijck diterbitkan lagi, saya sudah lama tahu seluruh ceritanya. Ya dari film, ya dari cerita Guru Don. Tetapi saya membacanya lagi, dan menikmatinya.

Karena itulah saya sering merasa heran melihat seorang teman menutup telinga ketika orang lain bercerita tentang novel yang belum dia baca. Meski demikian, jika ada yang menolak mengetahuinya nukilannya, saya juga tidak mau cerita. Halaaah… Kenapa malah pindah fokus begini?

Kembali ke perkenalan saya dengan Haruki Murakami. Saya mengalami masa terbata-bata di bagian awal. Ada soal skemata yang tidak match. Saya penggemar The Beatles tetapi lagu Norwegian Wood bukan karya mereka yang jadi favorit saya. Setiap kali nonton band memainkan lagu-lagu The Beatles, saya berharap mereka menyanyikan “Something”. Kenapa Murakami memakai lagu ini untuk judul novelnya?

Untunglah bahwa saya adalah orang yang sabar di segala bidang, hiaaaa. Maka saya kunyah saja buku itu perlahan-lahan. Barangkali sebagai usaha pedekate pada Haruki Murakami; saya senang dia pernah membuka satu cafe dengan menu musik jazz di salah satu masa hidupnya.

Norwegian Wood kemudian saya pikir adalah novel yang menarik. Alasan Haruki Murakami dianugerahi Penghargaan Hans Christian Andersen pada tahun 2016 silam akhirnya saya mengerti; karya-karya Murakami memiliki genre dan kualitas pendongeng-klasik.

“Ada gambar, deskripsi, dan pemandangan alam, pemandangan kota, dan lanskap di Murakami yang sangat puitik,” kata Ann-Marie, salah seorang anggota komite Penghargaan Hans Christian Andersen.

BACA JUGA
Bungkus Pakai Koran Bekas

Saya setuju. Bagian awal Norwegian Wood tentang padang itu, dan kisah di tempat Midori dirawat–lengkap dengan hutan, pohon-pohon, dan cahaya bulan–mewakili komentar ini. Selebihnya, Norwegian Wood menjadi semakin mudah dinikmati karena kemampuannya yang baik (atau ini hanya harapan pribadi, eh) melukiskan adegan-adegan intim. Seksualitas dirayakan dengan baik oleh Murakami. Ehmmm…

Saya lalu berhenti lama di salah satu bagian. Pada bagian Midori bercerita tentang masa-masa kuliahnya. Saya lupa apakah cerita itu terjadi sebelum atau sesudah ‘kamarnya’ dengan Toru Watanabe. Nanti saya lihat lagi.

Bagian yang membuat saya berhenti itu adalah komentar Murakami melalui Midori tentang para aktivis mahasiswa. Midori menceritakan pengalamannya saat pertama kali diajak masuk ‘gerakan mahasiswa’. Tentang sekelompok orang yang kerap bicara dengan istilah-istilah yang sulit ia pahami; tentang Marxis. Midori tak paham dan karenanya kerap dikatai sebagai seorang bodoh. Midori menyimpan perkara itu dalam hati lalu menceritakannya beberapa tahun kemudian kepada Watanabe.

Katanya: “Aku hanya rakyat biasa. Tapi penopang kehidupan masyarakat itu rakyat biasa, lagi pula yang dieksploitasi itu juga rakyat biasa. Mana bisa disebut revolusi kalau mereka hanya menghambur-hamburkan istiah yang tidak dipahami oleh rakyat biasa?”

Kisah ini adalah satu bagian yang rasanya dekat dengan saya dan teman-teman yang kerap memakai istilah dan kadang menjadi mesin fotocopy para filsuf, lantas berjarak cukup jauh dari hal-hal yang kita perjuangkan. Dengan segera, bagian ini menjadi bagian yang paling saya sukai selain beberapa ketelanjangan yang jujur dan bergairah di novel Norwegian Wood itu.

Baca juga: Haruki Murakami and Words We Don’t Know on His “Norwegian Wood”

Saya mengalami apa yang kerap disebut Ucique Jehaun sebagai rapture of the deep ketika tiba di bagian aktivis itu. Mengingat bahwa Haruki Murakami sendiri menyebut novel ini sebagai realisme murni–dan itu membuatnya senang, saya, entah kenapa, merasa terwakili. Ooops…

Realisme adalah aliran dalam karya sastra yang berusaha melukiskan suatu objek seperti apa adanya. Pengarang berperan secara objektif, tidak memasukkan ide, pikiran, tanggapan dalam menghadapi objeknya.

BACA JUGA
Memaknai Cinta Bersama 'Sergius Mencari Bacchus'

Setelah Norwegian Wood, saya membaca 1Q84. Atas kegemaran saya pada dongeng, novel ini juga berhasil saya nikmati dan menjadi sangat mengagumi Haruki Murakami. Maka ketika berhadapan dengan pengadilan atas karyanya dan pertanyaan tentang mengapa saya menikmati membaca karya-karya Haruki Murakami padahal ceritanya remeh, tidak masuk akal, sesukanya saja, saya biasanya hanya bilang, “Saya mengagumi caranya bertutur.”

Alasan ini tentu saja jauh dari aturan membedah karya sastra dalam buku-buku teori sastra. Tetapi mau bilang apa? Saya berulang kali mencoret poin-poin kriteria pendamping hidup ideal ketika bertemu dengan orang-orang baru dalam hidup saya. Pada yang baru, saya menemukan ideal yang baru. Pada perempuan yang akhirnya saya nikahi, semua hal yang dia punya adalah hal terbaik. Enaaak. Tidak ada teori tentang jatuh cinta, to?

Maka, ketika berbagai ulasan teoretis tentang karya Haruki Murakami menampilkan hasil yang tidak cukup baik, saya tetap menganggapnya sebagai salah seorang novelis terbaik di dunia. Maaf jika tulisan ini mengabaikan panduan dasar menulis resensi.

Tentang Norwegian Wood, karya ini mengantar Murakami mencapai status selebritis di negerinya. Lantaran itulah bersama istrinya dia kemudian hidup berpindah-pindah di Eropa dan Amerika untuk menghindari konsekuensi tidak mengenakkan dari sebuah popularitas. Ini agak berbeda dengan beberapa orang yang terus berjuang menjadi populer dan menikmati teriakan penggemar memanggil-manggil nama mereka, seperti di masa-masa kampanye politik. Iya to?

4 Juli 2018

Salam dari Kedutul, Ruteng

Armin Bell

 

Bagikan ke:

2 Comments

  1. Saya lebih tertarik tentang pengalaman dengan aktivisnya. Nggak salah sih, orang pinter biasanya berbicara dalam bahasa yang mudah dimengerti oleh semua orang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *