Main Bola Paskah

main bola paskah ranalino

Selamat Pesta Paskah bagi kita semua. Tahun 2020 ini, Paskah dirayakan secara domestik. Tidak ada main bola paskah di lapangan. Misa disuguhkan ke rumah-rumah umat via media dalam jaringan.


12 April 2020

Misa-misa Paskah yang dirayakan secara virtual memaksa kita memanggil cerita lama. Tentang Paskah pada tahun-tahun dulu. Yang dirayakan dengan meriah. Dan ada turnamen: main bola paskah.

Hari ini hari Minggu. Tanggal 12. Bulan April. Tahun 2020. Bukan hari Minggu Biasa. Ini hari Minggu Paskah. Bukan juga Minggu Paskah sebagaimana biasa. Tak ada umat yang beramai-ramai ke Gereja. Tak ada yang berkeliling ke rumah-rumah untuk saling ucap selamat. Tak banyak daging babi yang laku di pasar. Sebab orang-orang diminta berhati-hati. Dan memang mesti begitu. Ke pasar, membeli sekilo daging babi? Meski dapat dilakukan dengan sangat berhati-hati, tetap saja bukan pilihan yang buat kita bersukacita penuh. Mesti hati-hati, dan berbelanja daging dengan terlampau hati-hati rasanya bukan pilihan yang menarik. Tetapi ini tetap Hari Minggu Paskah.

Ah, iya. Paskah. Minggu Paskah. Saya ingat. Tentang turnamen sepak bola di kampung. Pada hari ini, biasanya, setelah Misa ada partai final. Final sepak bola. Di lapangan sepak bola Pateng sebab masa kecil saya di sana. Di Paroki St. Markus, Pateng.

Final pertandingan voli sudah dilakukan pada hari Sabtu sore sebelum misa Sabtu Suci. Agar pada hari Minggu semua konsentrasi diarahkan ke satu titik. Di lapangan pusat paroki. Ramai. Pentekosten juga begitu.

Riuh. Penonton menyemut. Di pinggir lapangan. Lengkap dengan baju gereja dan sepatu-sepatu yang sudah sudah disemir mengkilap atau sandal jepit-sandal jepit baru. Juga mengkilap. Seperti jidat yang berminyak karena minyak rambut brisk atau orang-aring yang dipakai berlebih sebelum ke gereja pagi tadi. Semua menanti dua kesebelasan lopas ke lapangan. Dari sudut-sudut yang telah dipilih oleh orang tua. Ata ba loho. Kami di Rego bilang begitu. Tugasnya adalah memikirkan rute lopas agar tak ada sial menimpa pemain saat bertanding. Para pemain harus percaya. Karena yang jadi ata ba loho adalah orang berpengalaman.

Saya ingat. Selalu ada di penutup barisan. Baju nomor punggung 10. Lari penuh gaya. Di pundak saya (atau di kaki?) telah dititipkan nama besar klub. GEMPAR. Nama klub yang hebat sekali. Menggetarkan. Menawarkan garansi bahwa kami akan mengguncang lapangan. Menggemparkan. GEMPAR: Gerakan Pemuda Paurundang. Yang sungguh-sungguh muda hanya saya dan dua atau tiga orang lain. Selain itu, umurnya sudah tidak muda lagi. Saya punya Om, saya punya Bapakoe, dan lain-lain. Sebuah kenyataan yang juga bikin gempar; pemuda tapi sudah tua. Tapi begitulah di kampung. Semua terlibat dalam sukacita gereja.

Dan nomor punggung 10? Itu semacam pentahbisan bahwa kau adalah yang terbaik di tim. Adalah Maradona, Pele, Batistuta, Ronaldo (yang dari Brasil itu), Kurniawan Dwi Yulianto selalu pakai nomor punggung sepuluh. Mereka jago. Benang itu ditarik sampai ke Paurundang. Ke kampungnya Muder Yuliana. Mama saya yang selalu menonton setiap pertandingan kami.

Baca juga: Naskah Tablo Paskah “Yang Tak Pernah Pergi”

Pluit ditiup. Oleh Kaka Rikus Gulmin. Wasit terbaik di paroki kami pada zamannya. Paroki St. Markus Pateng. Saya meliuk-liuk. Di lini depan. Berteriak-teriak mengatur saya punya Om, Bapakoe, Ka’e-ka’e. Memaksa mereka berlari sekuat saya. Mereka ngos-ngosan. Tapi penuh semangat. Menyuplai bola ke titik saya menunggu.

Kami melawan PS Lamba Nanga. Salah satu klub terbaik di paroki itu. Saya dapat ‘bola lomba’ dari Bapa Fabi. Yang sebelumnya mendapat sorongan bola dari Om Sel. Fuiiit. Saya lari. Baku sikut dengan Om Pe. Bek tim lawan yang pendek tapi gesit. Saya menang. Dan di depan saya, ada Om Nabas Nala. Penjaga gawang paling ‘lekat’ kala itu. Saya berdebar-debar. Keputusan harus segera dibuat. Wow! Menegangkan sekali. Dalam versi slow motion barangkali akan terlihat jelas saya punya bibir bergetar. Merapal doa. “Bunda tolong!”

Dan bola saya sorong saja. Ke sudut. Om Nabas tidak bisa berkutik. Kurang sigap ‘merayap’. Gooool…. Itu gol pertama. Dari 7 gol yang saya cetak sendiri pada pertandingan itu.

Oh, iya. Itu bukan partai final. Itu pertandingan pertama kami. Dan membuat kegemparan terus terjadi sepanjang turnamen. Saya jadi pencetak gol terbanyak. 17 gol. Dalam satu turnamen. Pele dan Maradona pernah bikin berapa banyak?

Kami juara 3 di akhir turnamen. AIR juara 2. Anak Istana Rego. Jasa Samudra juara 1. Klub baru dari Pogol yang berisi Teus Maleng dan beberapa pemain hebat lainnya. Final AIR dan Jasa Samudra berlangsung seru. Para penonton bertahan sampai selesai. Yang jidatnya berminyak tadi, kini sedang sibuk lap-lap muka sampai leher. Itu minyak rambut su meleleh terlalu banyak sebab matahari semakin tinggi dan sedang panas-panasnya, sepanas berlangsungnya partai final.

Itu masa yang indah sekali. Pada akhir 90-an. Ketika setiap pemain bola akan jahit ulang sepatu bola karena akan ikut ‘main bola paskah’.

Baca juga: Lima Lagu Manggarai Terbaik yang Bercerita Jujur tentang Manggarai

Tahun ini sepi. Tidak ada lagi turnamen. Orang-orang tetap bertanding. Tetapi dengan cara yang lain. Berjuang memenangkan pertarungan melawan sepi. Jauh lebih sulit sebab tak ada sorak-sorai. Semua kemeriahan disarankan hanya boleh terjadi secara domestik. Di masing-masing rumah saja. Siapa yang bertahan adalah yang akan menang. Melawan wabah. Corona. Tak ada lagi saran a la sepak bola Brasil: menyerang adalah pertahan terbaik. Kini dibalik. Bertahan adalah yang terbaik dari yang paling baik. Dan harus.

Rasanya tak ada yang pernah menduga sebelumnya. Siapakah yang pernah membayangkan bahwa pintu-pintu gereja akan ditutup pada Hari Minggu Paskah? Dan masih akan ditutup juga hingga wabah ini selesai. Tidak ada main bola paskah. Tak boleh ada yang berkumpul. Jaga jarak fisik. Tetapi hati harusnya tetap dekat. Saling mendoakan. Dan merayakan apa saja secara meriah dalam hati saja. Jangan tanya bagaimana merayakan sesuatu dengan meriah dalam hati. Semua rasanya bisa melakukannya. Seperti bersorak-sorai dalam hati, menari-nari dalam hati, seperti ketika gebetan tersenyum pada kita di suatu kesempatan setelah sekian tahun kita menunggu senyuman itu. Enaaaak.

Ah… Paskah. Minggu Paskah. Hari ini. Tuhan bangkit. Kami mengenangnya. Dia telah mengalahkan maut. Kami selalu mengulang-ulang kebenaran itu. Dan dia akan menampakkan dirinya. Di Galilea yang sederhana. Di rumah-rumah kecil kita. Dan melindungi. Dan menolong kita memenangkan ini semua. Pertama-tama dengan menghilangkan kecemasan.

“Bunda tolong!” Saya ingat. Menggumamkan itu sembari menggerakkan kaki, menyentuh bola, mengarahkannya ke gawang Om Nabas. Sudut kanan. Dan gol. Dan tahu bahwa berdoa dan bekerja itu baik sekali. Bahwa sekarang, bekerja berarti diam di rumah, kita harus melakukannya. Untuk menang.

Salam dari Kedutul, Ruteng

Armin Bell – Hari Raya Paskah 2020

Tanggapan Anda?

Scroll to Top