Gratitude Box: Seribu Sehari Cukup

Berkumpul itu menyenangkan. Maksud saya tentu saja berkumpul bersama teman-teman dekatmu, orang-orang yang membuatmu selalu bersikap just be you! Syering, saling olok, tertawa bersama, adakah yang lebih menyenangkan? 

gratitude box seribu sehari cukup
Gratitude | Foto: Frans Joseph, Ruteng

Gratitude Box: Seribu Sehari Cukup

Ruteng selain kota dingin, bolehlah menyandang nama sebagai kota seribu komunitas. Ada banyak komunitas di kota kecil yang oleh sebuah situs disebut sebagai cool climate for relaxing, mulai dari yang hobi musik, komunitas keluarga, sampai komunitas olahraga. Menyenangkan sekali. Saya terlibat di beberapa komunitas dan berpikir untuk membuat lebih banyak komunitas terutama karena saya punya banyak hobi cie cieee. 
Beberapa tahun yang lalu, kami berkumpul begitu saja. Bukan teman kecil, bukan keluarga, bukan orang separtai, bukan kelompok doa, tetapi kami yang ternyata senang berkumpul. Benang merah perkumpulan ini ternyata adalah ‘senang-senang’. Kebetulan, kami sama-sama senang nyanyi, senang olahraga, senang gosip dan senang kalau orang lain senang. Maka jadilah kami menahbiskan diri sendiri dengan nama SSC, Senang-Senang Club yang berarti klub bersenang-senang dalam kerangka yang baik.
Sekian tahun pertemanan itu terjalin tanpa tendensi mengubah orang-orang di dalamnya menjadi manusia seragam. Niatnya cuma satu, agar kita tahu cara bersenang-senang dengan baik. Tahun ini entah telah tahun ke berapa komunitas kecil ini bermain. 
Para bujangnya sebagian besar telah menikah, berpindah kota, sibuk dengan urusan masing-masing mencerdaskan kehidupan pribadi dan ikut melaksanakan ketertiban keluarga. Tetapi terima kasih untuk teknologi.

Baca juga: Suara di Titik Nol

Kami tetap bisa berkomunikasi, kadang berkumpul dan intens berbagi cerita via gadget berbagai merk; mulai dari cerita paling lucu sampai paling sedih, dari paling (maaf) saru, sampai paling mulia. Semua berjalan begitu saja hingga tiba di satu titik kami membuat big step. 

Sampai di sini, sebaiknya sidang pembaca yang terhormat mengambil jeda sejenak, entah menyeduh teh atau kopi atau mengais puntung rokok tersisa dan membakarnya lagi, karena kisah berikutnya akan lumayan panjang. 
Ceritanya demikian! Awal Januari 2013, kami mendapat informasi bahwa dua orang siswa SMA di Borong Kabupaten Manggarai Timur, terancam tidak bisa mengikuti Ujian Nasional karena menunggak uang sekolah dalam jumlah yang banyak. Mereka dari keluarga miskin, yang satu anak seorang janda, yang lainnya dari keluarga buruh miskin.

Tidak ada seorangpun dari kami anggota SSC yang punya uang sebanyak itu yang bisa digunakan untuk membantu. Maka sepakatlah kami untuk membuat langkah kecil sambil tetap ‘memburu’ donasi yang lebih besar untuk dua anak itu. 

Namanya Gratitude Box atau Kotak Terima Kasih, dan kegiatannya tetap SSC tetapi kali ini sebagai akronim dari Seribu Sehari Cukup. Konsepnya adalah, setiap rumah kami anak-anak SSC memiliki kotak bersyukur yang setiap hari (baca: setiap saat kita bersyukur) wajib diisi dengan uang Rp. 1.000,-. Targetnya adalah, pada akhir bulan atau pada tanggal yang telah disepakati, isi kotaknya akan dibuka dan dikumpulkan untuk dijadikan dana donasi pendidikan.
Secara detail bisa dijelaskan demikian.

BACA JUGA
Passio dalam Cerita: Ciuman Yudas, Kesepian Barabas, dan Perempuan yang Mencintai Yesus
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Setiap kali kita mengalami hal baik, kita wajib bersyukur. Bentuk utama ucapan syukur adalah doa, dan bentuk ikutannya adalah membayar rasa syukur itu dengan uang Rp. 1.000,- Maka, minimal sehari akan ada tambahan seribu rupiah dalam Gratitude Box kita karena minimal kita sekali sehari bersyukur karena telah diijinkan hidup. 

Uang itu untuk siapa? 
Mari menerjemahkannya secara bebas sebagai uang milik Tuhan yang telah memberi kita hidup. Mengapa bersyukur harus dengan uang? Bukankah Tuhan tidak butuh uang? 
Begini… Di Manggarai, tempat kami berasal, ada ungkapan: Toe mu’u kanang. Kepok! Ungkapan itu dipakai Orang Manggarai ketika kita meminta atau mensyukuri sesuatu.

Baca juga: Tarian Caci, Warisan Leluhur Manggarai

Misalnya ketika membuka ladang baru, selalu ada persembahan kepada nenek moyang dalam bentuk telur atau ayam agar segala niat baik menjadi lebih direstui, atau ketika kita meminta sesuatu dari orang berada (katakanlah meminjam uang), biasanya proses itu diawali dengan membawa rokok sebagai bentuk Kepok. Pelicin? 

Mungkin iya. Tetapi dalam kearifan lokal, itu disebut manners, sopan santun. Well, contoh tadi mungkin lebih tepat untuk kasus ‘meminta’. Bagaimana kalau menerima? 
Ada satu hal menarik dalam tata bahasa Manggarai, yakni tidak ada terjemahan baku untuk kata TERIMA KASIH. Saya pernah bertemu beberapa orang tua lalu menanyakan ini dan mereka menjawab, ungkapan terima kasih dalam tatanan kemanggaraian tidak diungkapkan dalam kata-kata. Orang Manggarai hanya mengenal konsep WALI atau berterima kasih dengan memberikan sesuatu. 
Misalnya ketika ada yang datang membawa sayur, kita memberikannya beras atau garam atau gula. Atau dalam adat perkawinan, ada ‘wali’ dari anak rona (keluarga perempuan) atas ‘bawaan’ dari anak wina (keluarga pria), biasanya berupa ela (babi) atau lipa songke (kain adat Manggarai). Mungkin ini artinya, rasa syukur memang harus dinyatakan dalam benda. Ah… adat yang manis. Toe mu’u kanang, Kepok! 
Toe mu’u kanang, kepok! artinya kira-kira, tidak hanya dalam kata-kata, tetapi disertai dengan buah tangan (agar permintaan itu dianggap sah). Silahkan marahi kami karena menjiplak kearifan lokal ini untuk sesuatu yang belum jelas arahnya, tetapi selesaikan dulu membaca ini. 

Ungkapan Manggarai toe mu’u kanang, kepok; kami ambil secara bebas dengan maksud bahwa ketika kita bersyukur kepada Tuhan kita wajib memberi-Nya sesuatu dari yang kita punyai, tetapi tidak harus membuat kita berkekurangan (malah jika mungkin akan membuat kita berkelebihan). Maka uang Rp. 1.000,- adalah bentuk paling wajar.

“Dengan memberikan seribu sehari, kita toh tidak akan kehilangan hidup kita hari itu. Malah beruntung, karena seribu yang tidak kita anggap apa-apa, suatu saat akan berarti besar buat anak-anak Tuhan lain yang membutuhkannya,” kata salah seorang kawan dalam diskusi berteman rokok, kopi dan dingin. 

BACA JUGA
Setahun Petra Book Club: 12 Buku Kami Baca
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sehingga, ketika kita berulang kali bersyukur dan sekian ribu masuk ke Gratitude Box dan kita tetap hidup tanpa kekurangan, itu adalah bentuk syukur yang pantas. Lalu bagaimana jika tidak punya seribu rupiah? Apa kita berhenti bersyukur? Tidak. Kita tetap bersyukur. Seribu rupiah adalah pelengkap, yang diberikan dengan ikhlas. 

Tetapi kalau suatu ketika kita mendapat rezeki yang sangaaaaat banyak dan seribu kita anggap tidak cukup mewakili rasa syukur kita, masukkan duaribu, atau tigaribu atau limapuluh ribu dalam kotak dan ingat: kita tidak boleh merasa kekurangan ketika memberikannya. Kita memberikannya karena kita bersyukur telah menerima. Maka demikianlah nama itu lahir, Gratitude Box
Tentang alasan mengapa kita bersyukur, itu urusan personal. Ada yang bersyukur karena menang undian, ada yang bersyukur karena masih hidup, ada yang bersyukur karena melihat perempuan cantik melintas dan tersenyum padanya, ada yang bersyukur karena gajinya tidak dipotong, ada yang bersyukur karena proyeknya lancar, ada yang bersyukur karena anaknya sehat, ada yang bersyukur karena tim favoritnya menang.

Ada juga yang bersyukur karena Indonesia maju, karena beberapa politisi korup ditangkap, karena jaringan lancar sehingga bisa facebookan, atau bersyukur karena tidak jadi dimarahi meski sudah melakukan kesalahan. Ada seribu bahkan lebih alasan untuk bersyukur. 

Kita sebaiknya ber-kepok untuk itu karena kita selalu punya seribu rupiah di saku dan ‘kehilangan’ sejumlah itu tidak akan membuat kita panik atau menyesal atau berduka atau menangis darah. Gerakan yang kami sepakati bersama ini kemudian resmi diberi nama SSC: Seribu Sehari Cukup dan yang boleh terlibat adalah semua orang yang mau terlibat. 
Kami memulainya dengan sekitar sepuluh kotak dan di bulan pertama yang terkumpul hampir mencapai Rp. 750.000,- angka yang mengejutkan. Di bulan kedua ini, beberapa keluarga ikut bergabung dan mulai ber-Seribu Sehari Cukup dan di bulan Maret nanti kotaknya kami buka bersama. Itu kesepakatannya. Tujuannya? Uang Rp. 1.000,- yang kami kumpulkan itu akan dipakai untuk mendukung anak-anak sekolah yang kurang mampu.
Tentang membantu anak sekolah, penting nampaknya bercerita tentang mukjizat yang kami terima di awal gerakan. Jumlah uang yang harus ditalangi untuk dua anak tadi adalah Rp. 3.500.000,-. Berharap dari ide Gratitude Box tentu akan sangat lama, tetapi lebih baik lama daripada tidak sama sekali.

Baca juga: Piramida Terbalik Langkah Mudah Menulis Berita

Salah seorang dari kami lalu membagi cerita Gratitude Box itu kepada beberapa sahabat di Jakarta. Hasilnya? Malam itu juga, seorang dermawan yang tidak mau disebutkan namanya mengirim uang sejumlah tiga setengah juta rupiah untuk membayar tunggakan yang kami bicarakan. 

Tiga setengah juta rupiah, Saudaraku. Ya, tiga setengah juta dalam semalam. Orang ini baik sekali bahkan tidak mau dikenang namanya. Dia menitipkan pesan kira-kira demikian: Bagus itu Gratitude Box e, lanjutkan dan jangan berhenti. Kalau suatu saat ada kesulitan lagi, coba hubungi saya, siapa tahu saya bisa bantu. Ini tiga setengah juta untuk dua anak yang di Borong itu.

BACA JUGA
Kota Ruteng Dalam Koper, Catatan Perjalanan Dibuang Sayang Bagian Pertama

Kami, kelompok SSC merasa itu mukjizat. Bahkan ketika ‘masih’ dengan niat saja, Tuhan sudah campur tangan dan membantu. 

Benar mungkin, bahwa mukjizat hanya akan terjadi pada orang-orang yang menyiapkan diri. Seperti kita mengubah air menjadi anggur, orang-orang di tempat pesta harus mengisi tempayan-tempayannya dengan air. Kita harus bekerja baru boleh meminta, begitu kira-kira. Maka, karena merasa Tuhan telah merestui kegiatan ini, bersemangatlah kami berkampanye kepada teman-teman dekat tentang Gratitude Box SSC: Seribu Sehari Cukup
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Sudah belasan rumah yang memiliki kotak ini dan kami berharap jumlahnya akan bertambah menjadi puluhan, ratusan, ribuan bahkan lebih. Dan karena konsepnya adalah kotak terima kasih dan bukan kotak sumbangan, para sahabat perintis kegiatan ini menyarankan agar tidak menyimpan kotak di tempat umum. Alasannya sederhana, kotak kita adalah sarana personal untuk bersyukur. 

Bagaimana kita bergabung? Simple. Setelah membaca ini, ambil kota bekas di sekitar anda, rapikan, tulisi Gratitude Box SSC: Seribu Sehari Cukup di bagian luar lalu, tulis nama keluarga anda dan mulailah mengisinya dengan ungkapan syukur yang pertama. Ajak anak-anak kita untuk ikut terlibat. Kotaknya jangan dikunci ya… jangan permanen ya… karena bulan berikut akan dibuka dan uangnya kita kumpulkan dengan milik sahabat-sahabat lain lalu disalurkan pada sasaran yang benar-benar membutuhkan. 
Sasaran kita adalah anak-anak sekolah yang terancam putus sekolah sebelum menyelesaikan pendidikan dasar 12 tahun. Saat ini kami sedang berpikir untuk membuka rekening agar penyaluran dari tempat yang jauh bisa lebih mudah. Kami benar-benar berharap agar uang yang nantinya disalurkan adalah hasil isi kotak dan bukan pendapatan bulanan anda yang sengaja dipotong untuk menyumbang. 
Nah, panjang kan catatannya? Saya mohon maaf, tetapi saya kesulitan merumuskannya dalam kalimat-kalimat pendek. Semoga anda berminat bergabung dan mari bersama dalam Gratitude Box SSC: Seribu Sehari Cukup. Tim perintis akan berusaha transparan dan tidak akan menggunakan hasil kotak untuk biaya administrasi organisasi, karena ini bukan organisasi tetapi kumpulan para sahabat yang peduli.

Selebihnya, kami, saya dan para sahabat tetaplah SSC yang adalah Senang-Senang Club. Kami masih akan menyanyi dengan suara yang fals dan kami saling memuji dengan tulus. Begitu cara kami bersenang-senang. 

Salam
Armin Bell
Ruteng, Flores

PS: Cerita lain tentang gerakan ini akan selalu kami posting di sini atau di grup: SSC Community Ruteng.

Bagikan ke:

9 Comments

  1. Mantap ase….saya salut utk kegiatan ini..saya akan mendukung dari jauh dan akan terus menghimbau teman-teman utk ikut berpartisipasi dgn cara yg berbeda tapi tetap dgn tujuan membantu anak-anak yg terancam putus sekolah.Semoga kegiatan ini terus berlanjut dan akan terus…terus..dan terus…..bravo!!!

  2. Semoga YMK merestui gerakan mulia ini…. Thx untuk tulisan inspiratif ini e kela. Semoga yg membacanya akan tergerak untuk ikut bersama kita mnylamatkan anak2 yg trancam pts sklah krn mslh ekonomi..Ayo bersm kami tuangkan rasa syukur ini dlm aksi Seribu Sehari Cukup.

  3. Ayooo…. Siapkan kotak dan mulai diisi sekarang. Seribu Sehari Cukup 🙂 Kami tunggu konfirmasinya via HP ato Grup FB 🙂

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *