di ruteng ada petra book club sekarang jadi klub buku petra

Di Ruteng Ada Petra Book Club

Beberapa tahun setelah tulisan ini dibuat, Petra Book Club berganti nama menjadi Klub Buku Petra. Klub Buku Petra terus berkembang. Mengelola Bacapetra.co , menyelenggarakan Flores Writers Festival. Bagaimana dulu?


Tentang Petra Book Club di Ruteng

Apakah sebuah kota tanpa buku? Mungkinkah akan jadi kota yang sepi, tanpa percakapan? Rasanya tidak. Biasa-biasa saja. Toh ada televisi, radio, dan lain-lain. Tetapi kota dengan banyak buku di dalamnya adalah kota yang keren. Saya memikirkan itu.

Bagaimana tidak keren kalau semua penghuninya adalah pembaca yang rajin sehingga obrolan mereka terdengar sangat menyenangkan. Iya to? Maka dulu, rasanya Ruteng bukan kota yang keren. Itu yang saya pikirkan. Dulu. Iya.

Dahuluuuu sekali, saya pernah berpikir bahwa Ruteng itu bukan kota tempat buku terutama karya sastra dicintai dengan sungguh. Alasannya sederhana. Kota ini hanya memiliki beberapa toko buku kecil yang dikelola oleh para rohaniwan. Di dalamnya tersedia banyak buku. Buku-buku rohani. Juga patung-patung. Pikiran itu bertahan lama sampai saya pulang dari tanah rantau. Cie cieee.

Saya menyukai buku terutama novel dan kawan-kawannya seperti kumpulan cerpen, kumpulan naskah teater, kumpulan puisi. Saya pernah merasa, di Manggarai mungkin hanya saya, Muder Yuliana (ibu saya) dan almarhumah Lumini Alwy Petronela (saudari saya) yang senang baca novel. Dan, silakan marah karena waktu itu hanya kami bertiga yang kerap bicara tentang novel, saling berbagi judul buku di rumah panggung berlantai papan dengan jarak setengah senti antar papan, di Pateng – Rego.

Dari mana buku-buku itu datang, tidak sempat saya pikirkan ketika itu. Sekarang baru saya sadar bahwa Guru Don, Ayah saya, adalah penyedia buku-buku kami ketika itu. Provider. Untuk Mama, setiap pulang dari kota mengambil gaji guru, selalu ada satu buku.

BACA JUGA
KSP Kopdit Mawar Moe Tetap Sehat di Tengah Pandemi

Saya ingat salah satunya adalah karya Motinggo Busye. Mungkin judulnya Sejuta Matahari. Saya tidak baca karena itu menurut mereka cocoknya hanya untuk orang tua. Ketika itu saya masih anak-anak dan berhak atas novel anak berjudul Kabut Kian Menipis karya Marga T..

Tentang Motinggo, entah karena nama atau desain kavernya atau karena saat itu ada banyak penulis perempuan (Marga T., Maria A. Sardjono, Mira W.), saya selalu berpikir dia adalah seorang perempuan. Sampai berpuluh-puluh tahun kemudian saya berpikir begitu.

Baca juga: Perjalanan Mencari Ayam dan Cinta yang Rahasia

Berpuluh-puluh tahun kemudian, bayangan saya tentang Ruteng yang sepi pencinta novel terbantahkan dengan sempurna. Saya bertemu Ucique Klara, seorang sahabat penuh semangat yang ternyata memiliki banyak koleksi ajaib. Berceritalah kami tentang betapa menyenangkannya membaca novel. Kami saling berbagi buku, dan saya dapat hadiah Burung-Burung Manyar-nya Romo Mangun pada sebuah ulang tahun. Toko buku di Ruteng juga sudah menjual novel.

Lalu saya bertemu Ronald Susilo, seorang dokter muda yang ternyata memiliki koleksi novel melebihi jumlah lapisan pada Tango. Ribuan bahkan lebih.

Kami bicara. Mulai dari ‘curiga’ tentang jumlah pembaca novel yang tidak banyak di Ruteng, hingga akhirnya sampai pada keputusan membentuk klub buku. Tugas awal adalah mengajak teman-teman yang kita tahu senang membaca.

Saya menjaring Ucique (tentu saja pada kesempatan pertama) lalu RD Beben Gaguk. Romo Beben adalah sahabat dan teman kerja saya pada berbagai kegiatan. Beliau menulis naskah teater dan suatu ketika membukukannya, diberinya judul Pastoral Panggung. Sebagai penulis, tentulah Romo Beben membaca banyak buku.

Lalu saya ingat orang tepat lainnya yang harus diajak untuk bergabung di sini: Marcelus Ungkang a.k.a Njeuk, seorang dosen sastra di STKIP St. Paulus Ruteng. Tiga orang berhasil saya jaring.

BACA JUGA
Berkunjung ke Pulau Sumba, di Pantai Rua Om Nanga Bercerita tentang Nihiwatu

Dokter Ronald bekerja menjaring juga sembari menyiapkan format awal membentuk klub buku.

Diajaknya Upeng Roman, Tommy Hikmat, Jeli Djehaut, dan Jefrin Haryanto penulis buku kumpulan cerpen Partai Kupu-Kupu. Mereka semua pencinta buku dengan bacaan-bacaan yang baik. Pada pertemuan awal, Upeng mengaku membaca Alkitab sebagai buku ceritanya ketika kecil. Luar biasa.

Demikianlah, seumpama MLM, kaki-kaki kami bertambah. Ucique membawa Yoan Lambo, Njeuk mengajak Dr. Fransiska Widyawati, Rm. Ino Dangku, dan terakhir Rm. Ino Sutam, seorang doktor lulusan Prancis yang juga menyukai novel.

Selanjutnya banyak teman yang bergabung. Kami akhirnya mengenal mereka sebagai pencinta novel. Ada Renny Fransiska, Ajen Angelina, Febry Djenadut. Beberapa pecinta novel yang lain keluar dan masuk karena alasan-alasan tertentu: jarak yang jauh dengan Ruteng, novelnya tidak sampai dan lain-lain, dan lain-lain.

Baca juga: Tentang Pemenang Sayembara Kritik Sastra 2020: Plagiarisme?

Klub buku ini berjalan sampai hari ini dengan sekian banyak novel yang telah dibaca dan dibahas bersama. Mengapa memberinya nama Petra Book Club? Nama ini diambil pada pertemuan pertama ketika buku pertama yang kami baca berjudul Petra karya Yoss Gerard Lema. Novel yang lucu 🙂 Saya lupa siapa yang menulis esai tentang Petra. Dokter Ronald barangkali?

Sejak saat itu sampai hari ini ada banyak novel yang telah kami bahas. Maryam, Pengakuan Eks Parasit Lajang, Surat Panjang tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya, Semusim dan Semusim Lagi, Gadis Kretek, Pulang, Amba, Kei, Ronggeng Dukuh Paruk, dan yang akan datang juga banyak. Sudah ada di daftar baca: Mawar Padang Ara karya penulis asal Manggarai Otto J. Gaut, Tenggelamnya Kapal Van de Wijk, dan masih banyak lagi.

BACA JUGA
10 Tipe Manusia yang Muncul Setelah Pesta Demokrasi Bernama Pemilu

Petra Book Club ada di Ruteng. Di Ruteng ada Petra Book Club. Di Petra Book Club ini ada orang-orang yang tinggal di Ruteng. Mulai dari yang baru lulus sampai yang sudah sekolah berulang-ulang. Ada dosen sastra, ada penyuka filsafat, ada cerpenis, ada para pejalan, ada penyuluh KB, ada pegiat koperasi, ada PNS yang loyal, ada kepala markas PMI, ada dokter, ada doktor, ada imam, ada macam-macam. Tetapi semua sama, sama-sama senang membaca.

Bagaimana kami berdiskusi? Santai. Setiap pertemuan, satu atau dua orang diminta menyiapkan esai dan yang lain diminta bercerita tentang pengalaman membaca/resepsi. Sekarang Petra Book Club memiliki tempat diskusi yang tetap. Taman Baca LG Corner Ruteng. Sebelumnya kami berdiskusi di Markas PMI, karena hampir semua anggotanya juga adalah relawan PMI.

Pada hari-hari selanjutnya, jika disetujui oleh penulis esai atau yang membuat review, setiap tulisan yang disampaikan pada diskusi Petra Book Club akan diunggah di blog ini.

Suatu saat, jika sempat saya berniat mengajak Muder Yuliana mama saya, dan Mama Yustina (Ibundanya Ucique) dua Mama yang saya tahu adalah pembaca seumur hidup, untuk ikut bergabung bersama kami bercerita tentang mereka dan membaca. Pasti menyenangkan.

9 Mei 2014

Salam dari Ruteng

Armin Bell

 

Bagikan ke:

10 Comments

  1. Nanti saya hubungi. Asal siap pertemuan sekali setiap bulan lalu bayar buku (nanti dipesan sama-sama). Ada nomor yang bisa dihubungi? Atau kontak saya via fb 🙂

  2. Wah seru banget kayaknya. Saya baru 4 bulan tugas di Ruteng dan sedang nyari2 komunitas kayak gini (pengen refreshing soalnya jenuh di kantor.. hehe). Caranya gabung gimana ya Bang?

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *