Pencatat Meteran PDAM Tidak Disiplin, Pelanggan Tanggung Akibatnya?

pencatat meteran pdam tirta komodo tidak disiplin

Ini catatan lama. Tentang PDAM Tirta Komodo yang sekarang jadi Perumda Air Minum Tirta Komodo, sebuah perusahaan daerah milik Pemerintah Kabupaten Manggarai.


Ruteng, 17 Juli 2015.

[Di facebook, tulisan ini saya beri judul: Tentang Beribu-ribu Liter Air yang Kami Minum Ketika Tidur Sebulan Penuh]

Siang tadi saya menulis status tentang biaya rekening air yang harus saya bayar. Rp. 913.100,- untuk periode pemakaian Mei sampai Juni 2015. Sebulan. Dalam penjelasan yang saya terima di PDAM Tirta Komodo, Ruteng, angka sebesar itu untuk penggunaan sekitar 40 hari (karena pencatatan yang terlambat). Angka hampir sejuta pada rekening kami adalah hasil ‘pemakaian’ 242 meter kubik air dalam kurun tersebut. Jenis tarif kami adalah Niaga Besar–kompleks pertokoan Ruteng–dengan biaya Rp. 3.750,- per meter kubik.

Tertera pada rekening bertanggal 20 Juli 2015, angka awal meteran adalah 6.554 dan angka akhir, yang menurut petugas dicatat tanggal 27 Juni 2015, adalah 6.796; maka benarlah sudah jumlah meter kubik yang selama sebulan itu kami ‘pakai’, sehingga tepatlah pula jumlah uang yang harus kami bayar untuk air beribu-ribu liter itu.

Kami sama-sama bingung. Ya saya, ya petugasnya. Kenapa? Karena, dari mereka saya tahu bahwa, sesibuk-sibuknya atau sebanyak-banyaknya penggunaan air oleh lima orang dewasa dalam satu rumah sebulan, biasanya hanya mencapai 30 meter kubik. Dalam kasus saya bulan ini, ke mana 212 meter kubiknya? 242 – 30 = 212. Ya, 212 meter kubik selisihnya itu siapa yang pakai?

Baca juga: Om Rafael Indonesianival

Dugaan awal adalah kebocoran yang tak diketahui. Dugaan tersebut terbantahkan dengan segera karena pipa air di rumah kami, sejak dari meteran sampai ke kran terakhir, tergeletak di atas lantai, tidak dikubur, terlihat! Itu adalah penjelasan sejelas-jelasnya bagi kita semua bahwa kalau ada yang bocor pasti segera terlihat.

Apakah meterannya bermasalah? Teknisi PDAM, saya kenal, teman saya, siang tadi bersama saya memeriksa. Meterannya baik-baik saja. Artinya, dugaan kedua juga terbantahkan.

Dugaan berikutnya adalah kesalahan pencatatan. Maka saya mengusulkan agar kami sama-sama melihat riwayat rekening kami. Semua normal, dalam arti: di bawah 30 meter kubik per bulan. Yang paling mencengangkan adalah bahwa dari 27 Juni – 20 Juli 2015, jumlah meter kubiknya kembali normal. Angka di meteran adalah 6.812 meter kubik. Jika dikurangi 6.796 berarti 16 meter kubik. Normal kan?

Pertanyaannya adalah ke mana 200 meter kubik lebih air itu kami salurkan bulan lalu? Pada periode itu penggunaan air di rumah kami normal; mandi, makan, minum, pel, dan lain-lain. Misalkan ada kelalaian seperti lupa mematikan kran air, jumlahnya pasti tidak mencapai ratusan meter kubik. Karena kalau iya, rumah kami pasti kebanjiran dan tetangga kanan kiri akan ikut berenang. Iya to?

Baca juga: Di Koperasi Kita Ditolong, Di Koperasi Kita Menolong

Lalu saya menduga: benar, telah terjadi kekeliruan pencatatan, bukan pada bulan Juni tetapi sejak lama. Dugaan ini, sebagaimana dugaan lainnya tentu bisa salah; berawal dari obrolan bahwa cukup sering terjadi, petugas pencatat meteran tidak benar-benar mencatat setiap bulan. Kadang mereka alpa mengunjungi rumah-rumah pelanggan dan ketika tiba waktunya menghitung rekening, mereka asal menjumlahkan saja dengar pertimbangan logika sederhana: “Palingan bulan ini mereka hanya pakai sekian meter kubik.”

Maka didapat(terka)lah angka rekening kami pada periode sebelum-sebelumnya di kisaran 9 sampai 15 meter kubik per bulan. Misalkan pada kondisi sebenarnya kami memakai 20 sampai 25 meter kubik sebulan, bukankah itu berarti telah tidak dicatat 5 sampai 10 meter kubik setiap bulannya? Kalikan dengan 20 bulan, maka angkanya ya 200-an meter kubik tadi. Ya, kan? Sehingga terasa masuk akal saja ketika pada bulan Juni lalu petugas benar-benar mencatat dan ada foto meterannya juga pada komputer PDAM, angkanya telah mencapai hampir 6.800 itu tadi.

Sekali lagi ini dugaan. Artinya, biaya yang hampir mencapai sebulan gaji saya di tagihan kami siang tadi adalah kekurangan pembayaran selama ini.

Baca juga: Saeh Go Lino dan Kalender untuk Bumi

Saya baru pikirkan dugaan ini setelah membayar saja rekening air tak masuk akal itu. Saya memang tidak membayar penuh. “Hanya” Rp. 563.500,-. Sebuah angka yang tidak saya ketahui persis asalnya. Saya tanya: “Siapa yang bayar selisihnya?” Jawaban: “Petugas pencatat meteran di wilayah itu!”

Saya bingung. Mau kasihan pada diri sendiri atau petugas pencatat itu? Menurut keterangan, dia baru saja (sejak Januari 2015) menjadi petugas pencatat dan (ini paling genting) dia hanya punya catatan meteran saya yang tanggal 27 Juni itu. Dia tidak punya catatan sebelumnya. Patut diduga, dia memang tidak benar-benar datang mencatat selama ini, meneruskan ‘kekeliruan’ masif bertahun sebelumnya.

Ya, ini dugaan, juga karena di PDAM siang tadi, kami memeriksa bersama riwayat meteran kami di buku catatan petugas pencatat sebelumnya, tidak diketahui jelas kapan catatan terakhir dibuat, lalu kosooong, sampai Juni lalu ketika pencatat yang baru menggunakan handphone dan merekam meteran dengan foto; PDAM Tirta Komodo sekarang menggunakan teknologi ini untuk pencatatan meteran pelanggan.

Berangkat dari dugaan ini, saya ikut-ikutan menduga, soal seperti yang kami alami hari ini mungkin akan (atau pernah?) dialami pelanggan lain. Jika dugaan saya benar, adalah baik jika manajemen PDAM memberi perhatian lebih pada soal catat-mencatat ini.

Karena ini dugaan–saya menduga tidak dengan marah-marah–tentu saja kita semua diijinkan menduga kemungkinan penyebab lain. Misalnya, air yang 200-an meter kubik itu tanpa sadar kami minum ketika tidur malam dan terjadi setiap malam selama sebulan. Sah. Namanya juga dugaan. Iya to?

Ya begitulah…

Btw, terima kasih telah membaca catatan ini sampai selesai. Silakan dibagi jika ingin disebarluaskan untuk kebaikan bersama. Jangan lupa periksa kran air anda sebelum tidur tetapi jangan biarkan kran berpikir ditutup terlampau lama. (*)

Salam dari Pertokoan Ruteng

Armin Bell

Foto dari laman facebook Perumda Tirta Komodo

Ps:

Status facebook ini ramai dikomentari. Sebagian besar adalah kisah yang mirip tentang bagaimana kekeliruan di penyedia mau tidak mau harus ditanggung oleh pelanggan. Sesuatu yang tentu saja harus segera dibenahi. Saya lupa pernah membaca di mana, tetapi saya ingat satu informasi: di sebuah negara, jika penyedia listrik sengaja atau tidak sengaja mematikan listrik, maka pelanggan yang mengalami situasi itu dibebaskan dari biaya pembayaran sebulan. Ada hitung-hitungannya tentu saja. Hal yang begitu pasti baik sekali untuk meningkatkan kinerja perusahaan-perusahaan penyedia layanan publik di negeri ini. 

Saat ini (tulisan ini disunting lagi tanggal 20 September 2022), pola pencatatan meteran air oleh Perumda Air Minum Tirta Komodo Ruteng sudah semakin baik dan menggunakan aplikasi.

Tanggapan Anda?

Scroll to Top