Pengalaman Membaca Buku Cerpen Perjalanan Mencari Ayam (Bagian 2)

membaca kumpulan cerpen perjalanan mencari ayam 2 ronald susilo blogger ruteng

Hari ini, seri Pengalaman Membaca Buku Cerpen Perjalanan Mencari Ayam menghadirkan catatan dari Dokter Ronald Susilo.


Ruteng, 23 Agustus 2018

Dokter Ronald adalah salah seorang yang dipilih Komunitas Saeh Go Lino Ruteng untuk menyampaikan hasil pembacaannya atas buku kumpulan cerpen Perjalanan Mencari Ayam (Dusun Flobamora, 2018) pada kegiatan bincang buku di LG Corner Ruteng tanggal 11 Agustus 2018 lalu. Berikut catatan anggota Petra Book Club Ruteng itu.

Analisis Cerita Pendek Perjalanan Mencari Ayam Karya Armin Bell

Oleh: M. Ronald Susilo

Pada awal Bulan Agustus ini saya mendapat surat dari Komunitas Saeh Go Lino. Maksud surat tersebut adalah meminta saya menjadi salah satu pembicara pada acara Bincang Buku Perjalanan Mencari Ayam karya Armin Bell. Lebih lanjut dalam surat tersebut dijelaskan mengapa saya dipilih: karya yang telah dihasilkan, pengalaman membaca, peran dalam komunitas masing-masing, dan perhatian serta dukungan pada kerja-kerja kreatif selama ini. Saya tersanjung. Tapi kemudian mulai sadar, apa yang bisa saya berikan di acara ini nanti? Jawaban atas pertanyaan itu adalah sebuah analisis cerita pendek yang bisa saya buat di sela-sela waktu tersisa.

Dalam buku Perjalanan Mencari Ayam terdapat 17 cerita yang sudah saya nikmati satu per satu. Kemudian saya memutuskan untuk memilih cerita “Perjalanan Mencari Ayam” sebagai objek analisis sederhana saya. Mudah-mudahan para pembaca juga menikmati analisis sederhana ini.

Setting

Setting adalah penggambaran di mana dan kapan sebuah kisah diceritakan. Setting tempat utama cerita ini berlangsung di Lapangan Motang Rua, Kota Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (hal. 2). Lapangan Motang Rua menjadi tempat penting untuk keberlangsungan kisah cinta antara Leon dan Daria. Jika saja tidak ada acara puncak perayaan Yubileum Gereja Katolik, Leon tidak akan bertemu kekasih hatinya.

Saat membaca cerita ini, suasana puncak acara Yubileum itu sangat saya rasakan. Selain udara pagi yang tentunya khas udara kota Ruteng, acara ini dipastikan akan dipimpin oleh pimpinan tertinggi Gereja Lokal Keuskupan Ruteng beserta ratusan imam. Setting waktu cerita ini adalah hari Minggu, 21 Oktober 2012. Kurang lebih 6 tahun yang lalu.

Saat saya membaca catatan publikasi di akhir buku, tidak saya temukan kapan cerita ini selesai ditulis. Sebelum atau sesudah 21 Oktober 2012. Perkiraan saya cerita ini ditulis jauh setelah Acara Yubileum berlangsung. Hal ini memberikan informasi bahwa, penulis dengan sangat terencana memilih tempat dan waktu untuk digunakan dalam kisah yang dibangunnya, itu pertama.

Kedua, acara Yubileum ini sangat berkesan secara pribadi sehingga penulis ingin menjadikannya sebagai sesuatu yang nostalgis di dalam ceritanya. Lebih jauh lagi, mungkin juga acara Yubileum ini dipilih sebagai “politik cerita”. Artinya, jika yang dipakai sebagai setting bukan acara Yubileum yang Agung, bisa jadi cerita ini kurang mewakili perasaan dan pikiran penulis dalam membangun klimaks yang maksimal.

Karakter

Tokoh utama cerita ini adalah Leon; “Telah beberapa kali pemuda itu (Leon) menjadi penyebab utama cerita.” (hal.1). Leon adalah orang yang ekstrovert. Tidak ingin Leon menyimpan kesedihan dan kesenangan dalam hatinya.

Saat mengetahui Daria, pacarnya akan menikah dengan orang lain, Leon memilih menceritakan kepada teman-temannya di pos ronda walaupun dengan tetesan air mata. Sama halnya saat Leon jatuh cinta akan Daria lewat pandangan pertamanya, semua temannya mengetahui itu.

Rumah Leon tentunya bukan di ibu kota kabupaten melainkan di kota kecamatan bahkan sangat mungkin di desa kecil. Hal ini terungkap dari kisah setelah Leon dan kawan-kawanya selesai mengikuti Acara di Lapangan Motang Rua, mereka kembali ke rumahnya memakai truk khas angkutan pedesaan dengan jalan menanjak dan berlubang: “….truknya sedang berjuang melewati dakian berbatu…….truk melonjak serentak, berguncang-guncang lebih kencang sebelum kembali normal”. (hal.5); “…..melewati jalan berliku, terangguk-angguk di jalan berlubang”. (hal.27).

Baca juga: Pengalaman Membaca Buku Cerpen Perjalanan Mencari Ayam (Bagian 1)

Leon lahir pada tahun 1987. Leon adalah juga seorang penyanyi terbaik di pos ronda kampung. Tidak ada orang selain Leon yang dapat bernyanyi dengan indah untuk lagu-lagu Broery Marantika dan Sheila on Seven.

Gambaran hampir lengkap bisa kita dapatkan saat Daria menatap foto Leon: “Tersenyum dengan sempurna, rambutnya disisir rapi, baju kotak-kotak dengan dua kancing teratas dibiarkan terbuka, tangan kanan memegang rokok dan tangan kiri di pinggang”. Leon adalah seorang perokok, tetapi kita tidak bisa ketahui dengan pasti jenis dan nama rokoknya.

Leon tidak mempunyai pekerjaan tetap. Lebih tepatnya bukan Aparatur Sipil Negara. Karena itu, Ayah Daria tidak setuju anaknya menikah dengan Leon. Di akhir cerita, penulis menambahkan sedikit ciri khas baru Leon: “….tampil necis dengan celana jeans baru bermerk blaujean. Bahu kanan terdapat tato bertuliskan Daria My Love”.

Dari penulusuran atas cerita ini, maka saya membuat suatu kesimpulan akan tokoh Leon, yakni: Nama: Leon, Umur: 31 tahun, Agama: Katolik, Pekerjaan: Tidak mempunyai pekerjaan tetap, Alamat: Di sebuah kampung–kemungkinan di Manggarai Barat, Hobi: Menyanyi, Tokoh idola: Broery Marantika dan Sheila on Seven, Kebiasaan lain: Merokok, Istri: Belum ada, Calon istri: Complicated, Binatang peliharaan: Ayam pedaging yang bisa berkokok, Ciri lain: Tato di bahu kanan dengan tulisan Daria My Love.

Plot dan Struktur

Pendapat saya, plot adalah sebuah penggalan kisah yang menjadi pusat perkembangan kisah-kisah yang lain. Penggalan kejadian paling penting dalam kisah ini adalah Acara Yubileum Gereja Katolik di Lapangan Motang Rua. Dari sini alur cerita mulai berkembang. Dari sini pula penulis mendapat pijakan pasti untuk melangkah bahkan berlari dengan pasti menuju klimaks dan antiklimaks kisahnya.

Awalnya alur kisah ini berjalan linear yang menceritakan kehebohan sang protagonis memiliki ayam pedaging yang dapat berkokok. Kemudian, setelah penulis mengisahkan Acara Yubileum itu, jalan cerita menjadi maju-mundur; antara menceritakan kegelisahan Leon karena akan ditinggal oleh Daria, kisah awal masa pacaran, tentang teman-teman Leon yang berusaha membahagiakan Leon, dan masih banyak lagi kisah-kisah kecil yang terjalin membentuk kumparan padat.

Penulis dengan sadar dan sengaja mengisahkan demikian agar ia dapat menciptakan suatu klimaks yang maksimal. Dalam bahasa yang lebih sederhana, penulis sengaja menciptakan jalan yang berkelok-kelok untuk kemudian melesat dengan kecepatan tinggi setelah kelokan terakhir. Sangat mengesankan.

Pencerita dan Sudut Pandang

Pencerita atau narator dalam kisah ini adalah penulis sendiri. Narator dan tokoh utama adalah orang yang berbeda sama sekali. Sehingga sudut pandang yang digunakan adalah sudut pandang penulis. Penulis adalah mahatahu. Penulis yang menggerakkan seluruh tokoh-tokohnya untuk mencapai tujuan akhir cerita. Itulah yang saya rasakan. Roh dan nyawa para tokoh tidak hidup. Mereka mati tetapi dipaksa untuk beraktivitas sebagaimana maksud sang penulis. Akhirnya saya mendapat kesan kisah ini adalah kisah monolog penulis.

Konflik

Konflik merupakan jantung sebuah cerita pendek dan biasanya sangat erat kaitannya dengan tokoh utama. Konflik yang dibangun penulis adalah cinta Leon yang bertepuk sebelah tangan karena Leon bukanlah seorang Aparatur Sipil Negara. Jika hanya konflik ini yang ingin diceritakan penulis, saya rasa para pembaca lain akan kecewa. Kecewa karena konfliknya sangat sederhana dan klasik.

Hebatnya, penulis menyadari itu. Kesadaran akan hal itu dibuktikan dengan diciptakannya konflik lain yang sangat berbeda dari yang pertama tetapi dengan simpul yang rapi. Penulis memakai konflik internal dan konflik eksternal dari tokoh utama. Konflik internal karena Leon bukanlah Aparatur Sipil negara, konflik ekternal adalah dicurinya ayam kebanggaan Leon.

Kehadiran dua konflik ini pada diri sang tokoh utama sangat elegan. Tidak sederhana, tidak juga berlebihan. Pas. Cocok.

Klimaks

Seperti yang sudah saya uraikan di atas, bahwa konflik internal dan konflik eksternal yang dibangun penulis akhirnya membentuk simpul yang begitu indah. Keindahan simpul itulah klimaks kisah ini: “Sore hari tersebar kabar bahwa pernikahan Daria dibatalkan. Salah seorang dari pencuri ayam milik Leon adalah anak tertua sang duda calon suami Daria” (hal. 28).

Tema

Tema adalah ide utama, pelajaran berharga atau pesan yang ingin disampaikan penulis lewat kisahnya. Hasil pembacaan saya akan tema kisah ini adalah persahabatan. Hampir seluruh cerita ini menggambarkan betapa kehadiran sahabat atau teman-teman disekitar hidup Leon membuat kisah pilu menjadi indah. Tanpa kehadiran sahabat kita tidak dapat berbagi cerita baik kisah susah dan suka.

Saat Leon galau ada teman-temannya yang datang memberikan ayam peliharaan sebagai hiburan tanpa diminta. Saat tersiar kabar Leon akan menikah, para sahabat Leon yang sibuk mempersiapkannya. Begitu juga saat Leon kehilangan ayam kesayangannya, para sahabatlah yang membantu Leon “menemukan” kembali. Dukamu adalah duka kami juga, apalagi sukamu. Kira-kira demikian tema kisah ini.

Gaya Bercerita

Gaya bercerita penulis sangat ringan, enak, renyah dan mudah diikuti. Saya teringat seorang penulis Indonesia, namanya Hilman Hariwijaya. Hilman terkenal di tahun 1986 dengan menulis cerita pendek yang berjudul Lupus di Majalah Hai dan kemudian cerita-cerita pendeknya dibukukan menjadi novel. Sangatlah mirip model atau gaya berceritanya. Apakah Armin Bell yang terinspirasi kepada Hilman? “Semesta, telah lama memiliki caranya sendiri mempertemukan keinginan yang kuat dengan kenyataan”. (hal.7)

Salam hangat dan proficiat untuk sahabatku, Armin Bell.

Ruteng, 11 Agustus 2018

dr. Ronald Susilo adalah pendiri Yayasan Klub Buku Petra, penggemar buku-buku karya Haruki Murakami. Tulisan-tulisannya tentang pengalaman membaca karya-karya Murakami dapat disimak di blog ini:

Tanggapan Anda?

Scroll to Top