Om Rafael Mengagumi Kapal Terbang

Tidak ada yang berani meremehkan para penemu. Penemu apa saja. Mereka adalah para penjasa. Om Rafael selalu sentimentil kalau omong tentang mereka; para penemu itu. Dia bahkan pernah menangis lama mengagumi sendok dan garpu. 

om rafael mengagumi kapal terbang
Burung Kertas Tak Bisa Terbang | Dok. RanaLino.ID

Om Rafael Mengagumi Kapal Terbang

Menurut Om Rafael, penemu sendok dan garpu adalah orang yang berjasa. Saya setuju. Adakah yang lebih berjasa dari mereka yang membuat kita bisa makan dengan benar? Itu. Saya sendiri mengagumi televisi. Kotak itu telah mampu menyatukan sekian banyak ibu dalam obrolan tentang Turki dan para mamah muda dalam obrolan tentang Korea. Mereka penggemar drama yang bersatu padu. Luar biasa bukan?
Kali lain, Om Rafael mengagumi kapal terbang. Mungkin akan dirasa tak benar karena dia toh tak pernah menyentuhnya apalagi ikut menumpang. Tetapi seperti saya mengagumi Dian Sastro, saya toh tak harus pernah menyentuhnya apalagi ikut menumpang to?
Yang saya maksudkan sebagai kapal terbang tentu saja sudah dapat ditebak oleh orang-orang di sekitar kami yang memang lebih akrab menyebut pesawat terbang (aircraft) sebagai kapal terbang karena yang di laut namanya kapal laut. Cerita tentang kekaguman Om Rafael pada teknologi yang satu ini saya ingat pada Oktober 2015 silam.
Saat itu, kami tiba di 245 kilometer jaraknya dari Ruteng. Kami adalah saya bersama istri dan dua anak saya Rana dan Lino, serta puluhan orang lain, dalam pesawat, dalam perjalanan dari Kupang. Di ketinggian 11.500 kaki, Pilot bernama Tio menyampaikan bahwa kami melaju dengan kecepatan 550 kilometer per jam.

Berarti setengah jam lagi kami mendarat di Bandara Frans Sales Lega Ruteng. Saya sedang membayangkan tampakan jembatan Liliba dari langit ketika pengumuman itu disampaikan. Maka serentak ingatan tentang Liliba dan pohon-pohon lontar berganti dengan wajah Om Rafael dan kekagumannya pada kapal terbang.

Baca juga: Romana dan Nene Tina

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

“Ngebut betul kapal terbang, Armin.” Begitu ucapnya yang saya ingat ketika suatu siang kami mendongak ke langit saat sebuah pesawat terbang di atas langit lapangan sepak bola Pateng. Lalu entah mengapa, kisah kami di lapangan bola sore itu melompat ke tema tentang orang-orang pintar. 

Menurut Om Rafael, orang-orang pintar adalah mereka yang membuat kapal terbang, oto teng (tank) dan senapan angin. Itu benda-benda yang begitu populer sebagai benda mewakili ‘kepintaran’ pada zaman itu; benda-benda yang tidak pernah kami lihat dari dekat.

Om Rafael bilang, orang-orang pintar itu dikenali dari karya baik dan bermanfaat. Bukan dari omongannya.

“Jadi kalau kau dengar ada orang omong tentang sesuatu dan kau rasa omongannya menarik, tetapi kau tahu bahwa tidak satu pun karya berhasil dia ciptakan, maka itu bukan orang pintar. Itu ata mbeko, dukun, yang mulutnya suka komat-kamit,” terang Om Rafael sambil menghembuskan asap rokoknya yang ajaib, hasil racikan sendiri. Tembakaunya langsung dari petani pengolah. Kami sebut mbako tumpi. Dilinting di lembar kulit jagung atau kombak melalui sebuah proses yang dalam bahasa Manggarai bernama guling rongko

Saya mengangguk saja meski sebenarnya agak tersinggung. Di sekolah, saya dikenal sebagai orang pintar. Telah dibuktikan juga dengan jabatan baru yang saya emban: Ketua Kelas. Kurang pintar apa, coba? Tetapi Om Rafael memang sedang mengagumi kapal terbang dan kawan-kawannya, sehingga tak peduli betapa lawan bicaranya mulai sedikit gelisah.

Dia melanjutkan: “Percayalah, orang-orang begitu, yang suka omong saja, sesungguhnya tidak pernah tahu mereka omong apa. Semacam kentut saja, mereka sendiri sulit menduga apakah akan bau atau sedikit saja baunya. Seperti peribahasa,” katanya, lalu menggumam sesuatu yang tidak jelas. 

Baca juga: Sore Cerita – Dongeng untuk Anak di Ruteng

Ketika itu, Om Rafael juga meramalkan bahwa di generasi saya besar nanti akan ada banyak orang yang ‘omong sembarang’. 

“Kau lihat sendiri nanti, orang-orang omong sembarang. Mirip kentut. Kadang mereka sendiri pusing dengan baunya, tapi mau bagaimana lagi? Kentut sudah telanjur keluar, tidak bisa kipet lagi,” kata Om Rafael.
Dia lalu menutup hidungnya sendiri. Dia kentut. Dan bau. Ketika saya menutup hidung dia tersinggung. Di situ kadang saya merasa sedih karena sebelumnya saya yang seharusnya tersinggung: dianggap bukan orang pintar dan dihadiahi kentut.

(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Mengingat itu, saya sebenarnya berniat menelepon Om Rafael dan memarahinya. Tetapi bagaimana bisa? Saya sedang di kapal terbang kecil yang pramugarinya sudah meminta penumpang mematikan telepon seluler dengan gayanya memasang senyum yang terprogram di mukanya yang datar. 

Lagipula, setelah sekian lama bertemu banyak orang, saya pikir Om Rafael benar. Kita sering tersinggung kepada orang yang memberi kritik, padahal usaha itu dilakukan agar mulut kita tidak terlampau bengah baunya.

Pesawat kami mendarat pukul 07.25 Wita. Dengan selamat. Syukurlah, tak ada yang kentut sepanjang perjalanan. Bisa kau bayangkan busuk kentut di dalam ruangan kedap seperti pesawat? 

Salam 
Armin Bell
Ruteng, Flores

Tanggapan Anda?

Scroll to Top