Cafe – Sebuah Cerpen Kolaborasi

Cafe adalah salah satu cerpen kolaborasi saya dengan seorang teman. Nikmatilah ini #eh 

cafe sebuah cerpen kolaborasi
Ladya Cheryl | Image dari: TribunNews

Cafe 


Oleh: Armin Bell dan Ajeng Leodita A

Sebuah Cerpen Kolaborasi

Hari ini aku tiba-tiba berpikir untuk jadi musisi itu. Pria tambun di belakang keyboard Yamaha PSR910i dan memainkan musik untuk lagu-lagu yang kaunyanyikan. Kau cantik dengan usapan make up tak berlebih, tampak tepat mengalunkan Just The Way You Are dalam versi jazz yang malas. 
Malam ini yang kelima sejak pertama aku mengunjungi cafe ini, tempat engkau menjadi penyanyi regular. “Malam Minggu aku off, Mas. Pulang kampung jenguk Ibu,” katamu saat kuajak bicara sesaat sebelum pulang. Lalu kaukisahkan tentang hidupmu dengan lancar. 
Seorang perempuan muda, dianugerahi suara yang bagus, sempat kuliah tetapi terputus, ayahmu meninggal dunia saat semestermu belum sampai ke akhir, dan untuk menyambung hidup engkau menjadi penyanyi cafe.
“Ibu kena stroke setelah Ayah meninggal. Tak ada yang bisa cari uang selain saya. Adikku masih kelas satu SMA, tinggal sama Ibu. Tiap malam Minggu aku pulang, jenguk mereka sekaligus bawa uang buat hidup sehari-hari,” ceritamu tanpa beban. 
Baca juga: Surat dari Sahabat

“Di sini tinggalnya di mana?” tanyaku asal, hanya agar punya lebih banyak waktu bersamamu sebelum tengah malam dan pulang ke hotel.

Aku baru di kota ini, sedang dalam perjalanan dinas dari perusahaanku. Melakukan survei tentang kemungkinan membuka kantor cabang di kota ini. Beberapa hari ke depan masih di kota ini dan berharap bisa mengenalmu di luar cafe ini tempat di mana kita tak dibatasi norma pengunjung dan penyanyi. 
Kau tak segera menjawab pertanyaanku tentang di mana kau tinggal. Lembayung gelap membayang di wajahmu tempat hidung, alis mata, bibir, dan semuanya bertengger dengan tepat dan pas. Engkau cantik, itu pendapatku dan aku setuju. Bibirmu akhirnya terbuka tetapi tidak menjawab pertanyaanku melainkan bertanya. “Untuk apa?” Itu kalimat terakhirmu sebelum berlalu dan aku diam. 
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Kemudian aku tahu sedikit cerita tentangmu. Malam Minggu aku datang lagi ke café, kau sedang pulang kampung , seorang pelayan café kutanyai lebih banyak tentang engkau. Dari dia aku tahu namamu.

Neyna. Seperti nama karakter Ladya Ceryl dalam Biarkan Bintang Menari. Wajahmu memang hampir mirip Ladya Ceryl kecuali bahwa engkau lebih mempesona karena kulitmu tak putih pucat. Kau hitam manis dan aku suka.

“Namanya Neyna, Mas. Katanya sih peliharaannya Om yang main keyboard itu. Istri simpanan gitulah. Tapi itu juga bukan dipelihara dalam arti dikasi apaaa gitu. Ya, cuma asal dia dapat job nyanyi reguler mas. Bayaran nyanyinya itu yang jadi biaya hidupnya, trus istri simpanan itu jadi semacam kontrak kerja gitu. Kan susah, Mas, dapat job reguler. Secara banyak penyanyi yang bagus sekarang,” kata pelayan itu sambil membereskan beberapa botol bir dari mejaku dan menyambar uang tip yang kuletakkan di meja itu.

* * *
Namaku Neyna. Kupakai tubuhku untuk kontrak kerja. Jika saja aku tak memiliki ibu seorang janda dan seorang adik yang masih butuh biaya sekolah, aku akan jauh lebih menghargai setiap lekuk tubuh ini. Namun mereka lebih penting bagiku, bahkan bagi masa depanku yang entah apa. Mereka lebih pasti daripada gambaran tentang hari esokku yang abstrak.
Jose, nama pria itu, seorang pemain keyboard yang sudah melanglangbuana dari café ke café. Dia beristri, tetapi sepertinya istrinya itu tak berhasil membuat suaminya menjaga kesetiaan. Nyatanya ia mau menjadikanku wanita simpanan. Kadang aku jenuh dengan statusku yang hanya menjadi bagian dari kehidupan miring si tambun itu. Namun apa daya. 
Aku harus menyanyi agar hidupku terus berjalan. Aku hanya bisa jadi penyanyi sampai hari ini, dan Jose mau memakai suaraku tetapi dengan tubuhku sekaligus. Jangan bilang tak ada cinta dalam hubungan kami. Ada cinta, hanya saja bukan aku pada Jose atau keyboardnya, tetapi aku pada hidupku dan keluargaku. Dan melalui keyboard dan Jose, aku bisa hidup. 
Ya, aku bekerja sebagai penyanyi. Kontrakku akan berakhir kalau aku tak lagi menjadi simpanannya. Lalu apa lagi yang bisa kulakukan setelah itu? Ibuku stroke, adikku butuh biaya sekolah dan aku bertanggung jawab untuk semua itu. Hanya aku yang bisa.
Sekali waktu aku berpikir tentang menjadi pelacur saja. Tubuhku jelas berharga di atas rata-rata perempuan di pinggir jalan. Mendapatkan induk semang yang punya jejaring luas dan menembus kalangan pejabat, jelas aku akan mendapatkan uang lebih, tanpa ada ikatan kontrak seperti ini. 
Tetapi seorang penyanyi jauh lebih mulia ketimbang pelacur, demikian konsensus sosial bangsa kami. Padahal kelakuanku tak jauh beda dengan mereka. Ah kotornya aku. Ini yang membuatku enggan berkenalan dengan pria lain. Walau pun sesungguhnya aku mampu, dengan senyumku yang memikat, dengan tubuh yang sintal, dengan semua pesona yang kupunya.
***
Malam ini, aku tiba-tiba ingin jadi musisi tambun itu. Bukan karena kontrak kerja yang sedemikian menyedihkan, tetapi karena engkau. Neyna. Ah, namamu indah, tubuhmu indah, senyum yang sempat kautawarkan sekejap juga indah. Melekat. Aku jatuh cinta.
***
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Namaku Neyna. Beberapa kali tubuh sintal ini menjadi korban keganasan emosinya. Tamparan, pukulan, bahkan tendangan seringkali jadi kado buatku. “Perempuan sial. Sudah dikasi hidup, tapi tak tau terima kasih,” kata Jose suatu ketika, diikuti tamparan dahsyat. Hari itu dia baca pujian seorang pengunjung cafe di handphoneku. “Berani-beraninya kamu kontak-kontakan sama pria lain. Apa mereka bisa kasi kamu kerjaan?” Teriaknya yang diakhirinya dengan tamparan keras. Sejak itu aku tak pernah lagi memberikan nomor handphoneku pada pria lain. 

Tapi pria itu entah mengapa menyita pikirku. Kami bertemu di cafe setelah aku selesai menyanyi. Hanya sekali tetapi kuingat wajahnya yang tirus, alisnya yang tebal melengkung indah, bibirnya yang tipis, dan tatapannya yang bersahabat. Ah, pikiran macam apa ini? 
Aku tak boleh membayangkan apapun tentangnya. Ia mungkin hanya sebagian dari lelaki hidung belang yang tak ada bedanya dengan si tambun itu, meski namanya mengingatkanku pada roman klasik Shakespeare. Romeo. Nama yang indah, perlambang cinta sebesar kematian. Mengapa rautnya tak pernah pergi? Tetapi aku tahu aku tak boleh berpikir lebih jauh tentangnya. Ini akan sangat membahayakanku. Pria itu bisa jadi alasan untuk Jose meninggalkanku, dan aku tak bisa hidup.
***
Malang, 24 Februari 2012
Namaku Romeo. Sekarang jadi pemimpin cabang di Malang Jawa Timur, kota kecil yang indah dan bersahabat. Kantor kami sudah sepuluh bulan memiliki cabang di kota ini, berarti sepuluh bulan sudah aku menikmati kehidupan di kota ini dengan bahagia. Sepuluh hari yang lalu aku menikah. Istriku cantik. Namanya Neyna. Aku mengenalnya setahun yang lalu.
***
Namaku Neyna. Pernah menjadi penyanyi cafe. Setelah menikah aku hanya akan menyanyi untuk Romeo.
Selesai

Catatan:

Cerpen ini adalah hasil kolaborasi dengan seorang teman bernama Ajeng Leodita untuk iven menulis kolaborasi di Kompasiana. Menulis cerpen kolaborasi itu cukup sulit. Harus chatting berulang-ulang, diskusi ide, dan lain-lain. Tapi saya senang bisa melakukannya dengan baik karena memiliki teman-teman yang hebat padahal kami tak pernah bertemu. Terima kasih untuk facebook dan seluruh kemudahannya . Dengan Ajeng, saya pernah menulis puisi berjudul “Perempuanku”.

Tanggapan Anda?

Scroll to Top